Kamis, 16 Juni 2016

Manajemen Mutu Terpadu Ramadan

Manajemen Mutu Terpadu Ramadan

Muhbib Abdul Wahab ;  Dosen Pascasarjana FITK
UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ
                                                   KORAN SINDO, 07 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia melaksanakan puasa Ramadan. Namun ibadah tahunan ini seolah menjadi ritual yang ”biasa-biasa” saja. Ibadah Ramadan belum sepenuhnya memberi dampak positif dalam peningkatan kualitas hidup muslim.

Puasa Ramadan masih sebatas ibadah rutinitas formal, belum teraktualisasi menjadi ibadah substantif- transformatif dan kontekstual. Artinya ibadah Ramadan belum membuahkan hasil optimal berupa perubahan sikap, karakter, dan kepribadian dari yang ”biasa-biasa” saja menjadi manusia bertakwa: hati, pikiran, dan perbuatannya. Salah satu penyebabnya adalah mismanajemen Ramadan.

Artinya pelaksanaan ibadah Ramadan tidak berbasis manajemen mutu terpadu (total quality management). Manajemen Ramadan boleh jadi baru sebatas ”manajemen perut”, belum diintegrasikan dengan manajemen hawa nafsu, manajemen lisan, manajemen hati dan pikiran, manajemen kinerja sosial maupun manajemen waktu dan manajemen mental spiritual. Padahal semua aktivitas yang terkait dengan ibadah Ramadan dapat diatur dengan efektif dan efisien.

Perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pembiayaan, dan pengendalian (controlling) semua aktivitas ibadah Ramadan dapat diprogramkan secara efektif dengan membulatkan niat dan tekad yang kuat. Juga berkomitmen untuk terusmenerus melakukan perbaikan (continuous improvement) kualitas input, proses, output, dan impact Ramadan.

Evaluasi Ramadan

Idealnya sebelum memasuki sistem pendidikan Ramadan, orang-orang yang berpuasa (shaimin) melakukan introspeksi dan evaluasi kritis terhadap pelaksanaan ibadah Ramadan tahun lalu. Kekurangan dan keunggulan ibadah tahun sebelumnya dianalisis dengan baik sehingga shaimin dapat melakukan pemikiran reflektif sembari menyiapkan program-program strategis untuk ”paket Ramadan unggulan” tahun ini.

Dengan evaluasi, shaimin membuat perencanaan matang tentang apaapa saja yang harus diperbaiki, ditingkatkan, dan disempurnakan dalam Ramadan kali ini. Jangan sampai puasa kali ini hanya membuahkan perasaan lapar dan dahaga semata. Evaluasi dan refleksi terhadap Ramadan juga dapat meneguhkan komitmen shaimin untuk melakukan reformasi mental spiritual menuju puasa transformatif dan produktif. Etos kerja dan etos jihad melawan hawa nafsu dan syahwat internal dapat digelorakan sejak memasuki gerbang Ramadan.

Dengan evaluasi, shaimin sejak awal Ramadan sudah harus belajar terbuka dan jujur terhadap dirinya untuk berkomitmen mengisi dan memaknai Ramadan tahun ini secara lebih bermutu. Oleh karena itu, shaimin idealnya mampu membuat program ibadah Ramadan secara komprehensif dan terpadu. Mulai dari bangun malam untuk santap sahur dan qiyam allail (salattahajud) hingga kembali tidur di malam hari.

Ibarat sebuah universitas, kurikulum Ramadan harus disiapkan dengan baik, terukur, dan humanis (manusiawi). Pelajaran apa saja yang direncanakan untuk diperoleh dan didalami selama Ramadan perlu diniati dan diprogram sedemikian rupa sehingga tujuan akhir Ramadan dapat tercapai secara optimal, yaitu menjadi orang-orang bertakwa (QS Al-Baqarah/2: 183).

Paket kurikulum Ramadan yang dapat diprogramkan dapat dirumuskan secara terpadu meliputi: program penyehatan fisik, revolusi mental, pengembangan intelektualitas dan moralitas. Selain itu program pengembangan sosial dan nilai-nilai kemanusiaan, ekonomi, sosial budaya, dan peningkatan spiritualitas. Dalam program penyehatan fisik, shaimin perlu belajar disiplin dengan habituasi bangun tidur lebih awal. Jika di luar Ramadan bangun terl a m b a t , selama Ramadan shaimin harus mengubah mindsetnya untuk disiplin bangun lebih awal.

Dalam hal ini shaimin harus meyakini sepenuh hati bahwa santap sahur itu mengandung nilai keberkahan sekaligus dapat memengaruhi pola hidup sehat. Akan lebih afdal di waktu sahur itu shaimin membiasakan keluar rumah sejenak untuk menghirup oksigen paling bersih, segar, dan sehat yang diberikan Allah SWT, pasti akan lebih bugar dan sehat.

Menurut sebuah riset, udara dan oksigen waktu sahur (sepertiga malam terakhir) itu memang paling dibutuhkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan oksigen murni bagi tubuhnya. Program disiplin bangun lebih awal juga memberi keuntungan strategis bagi shaimin jika disempurnakan dengan salat malam, berdoa, berzikir, beristigfar, dan membaca Alquran. Karena sinyal spiritual pada sepertiga malam terakhir itu paling kuat dan paling berkesan.

Aneka ibadah yang dikerjakan waktu sahur itu sangat potensial dapat dilaksanakan dengan khusyuk sehingga internalisasi nilai-nilai spiritual dan moral itu dapat sedemikian kuat membekas pada diri shaimin. Penting ditegaskan bahwa waktu sahur itu memang prime time karena pada saat sahur itu Allah SWT turun ke langit dunia bersama para malaikatnya untuk monev (monitoring dan evaluasi) para hamba-Nya yang serius dan tekun beribadah.

Oleh karena itu, keberkahan waktu sahur harus dimaknai dan diisi shaimin secara optimal, tidak hanya untuk mengikuti sunah Nabi, yaitu makan sahur, melainkan juga beribadah lainnya, terutama berdoa dan beristigfar, karena waktu sahur ini merupakan waktu paling mustajab. Waktu sahur juga terbukti menjadi waktu paling fresh untuk memulai karya peradaban. Imam Bukhari, penulis kitab hadis paling otoritatif, hampir selalu memulai karya penulisan hadisnya di waktu sahur setelah melakukan salat malam.

Manajemen Mutu Terpadu

Sejatinya ibadah Ramadan itu dialamatkan kepada orangorang beriman. Karena itu, yang dipanggil dan diseru untuk berpuasa itu adalah orang-orang beriman (yaa ayyuha al-ladzina amanu...). Panggilan iman sangat penting karena tidak semua muslim berpuasa, dengan berbagai alasan. Artinya keberislaman tanpa dilandasi iman yang kuat boleh jadi tidak membuahkan amal dan perilaku Islami.

Dengan demikian, iman merupakan landasan mental spiritual dan landasan manajerial yang menginspirasi dan memotivasi shaimin untuk berpuasa secara bermakna, bukan sekadar puasa fisik, puasa perut, dan puasa ”di bawah perut”, atau menurut kategori Imam al- Ghazali shaum al-shaum alawam (puasa orang kebanyakan).

Agar meningkat dari shaum alshaum al-awam menuju shaum alkhawas (golongan spesial) dan shaum khawash al-khawash (golongan superspesial), manajemen mutu terpadu Ramadan harus diaplikasikan. Semua yang terkait dengan ibadah Ramadan dikelola secara terpadu. ManajemenwaktuRamadan dirancang dengan baik dan dijalankan dengan disiplin.

Manajemen hawa nafsu dikendalikan sedemikian rupa sehingga pengendalian diri dengan tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan seksual di siang hari semata. Pengendalian semua itu juga idealnya tetap dijaga di malam hari sehingga shaimin tidak ”balas dendam” dalam makan dan minum saat berbuka. Akibatnya, ibadah malam hari Ramadan seperti qiyam al-lail (tarawih dan witir) menjadi terganggu, tadarus Alquran kurang mendapat tempat serta perhatian dan iktikaf dilewatkan.

Manajemen hati dan pikiran selama Ramadan juga harus diaktualisasi. Hati yang berpuasa selalu menambatkan niat yang ikhlas untuk selalu mengembangkan aneka kesalehan: personal, sosial, kultural maupun spiritual. Shaimin yang memuasakan hatinya pasti tidak pernah berniat untuk korupsi, berbuat maksiat, dan melawan hukum. Demikian pula shaimin memuasakan pikirannya mestinya selalu dengan berpikir positif, kreatif, dan produktif.

Karena itu para ulama besar seperti Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Ibn Sina, Al-Ghazali, dan sebagainya menjadikan puasa sebagai starting point dalam melahirkan karya-karya monumental mereka. Bahkan puasa Ramadan menjadi momentum terbaik untuk melejitkan kecerdasan intelektual dan melipatgandakan produktivitas ilmiah mereka. Jika manajemen hati dan pikiran diorientasikan kepada penyucian hati dan penajaman pemikiran, manajemen pengembangan kinerja sosial Ramadan difasilitasi Allah SWT dengan pelipatgandaan pahala sedekah, infak, bederma melalui sikap empati dan etos berbagi.

Oleh karena itu, shaimin diharuskan menyempurnakan ibadah Ramadan dengan mengeluarkan zakat fitrah, zakat kebutuhan pokok untuk para fakir miskin. Dengan begitu, manajemen pengembangan kinerja sosial Ramadan harus berorientasi pada kesalehan sosial dan kultural sehingga masalah kelaparan, kemiskinan, dan keterbelakangan umat mestinya dapat diterapi dan diberikan solusinya melalui manajemen pengembangan kinerja sosial.

Hal ini pada gilirannya akan membuahkan etos silaturahmi dan memaafkan yang disimbolisasi dengan perayaan Idul Fitri. Manajemen mental spiritual shaimin juga penting diaktualisasi selama Ramadan dan sepanjang tahun. Selama Ramadan shaimin tidak hanya meneguhkan mentalitas sebagai pemenang (faizin), melainkan juga melejitkan kecerdasan spiritual mereka dengan tazkiyat an-nafsi (penyucian diri) dan taqarrub ila Allah (pendekatan diri kepada Allah).

Habituasi amalan-amalan sunah (salat rawatib, qiyam al-lail, tadarus Alquran, iktikaf, berdoa, berzikir, beristighfar) diintensifkan sedemikian rupa sehingga menjadi pribadi bertakwa yang hakiki, tidak mudah tergoda oleh hawa nafsu, bisikan setan maupun syahwat duniawi. Jika manajemen mutu terpadu Ramadan diaktualisasi, niscaya lulusan universitas Ramadan mampu merealisasi puasa holistis, puasa totalitas, dan puasa lahir batin.

Jika kualitas puasa shaimin benar-benar lahir batin, holistis, dan total, maka berbagai penyakit sosial, problem kemanusiaan, dan kebangsaan, termasuk korupsi, pasti bisa diatasi. Karena memakan makanan dan minuman halal di siang hari Ramadan saja shaimin bisa mengendalikan, apalagi memakan harta yang jelas-jelas haram (korupsi). Jadi manajemen mutu terpadu Ramadan merupakan alternatif pemaknaan dan pengejawantahan ibadah Ramadan dalam kehidupan nyata.

Semoga puasa Ramadan tahun ini membuahkan perubahan mental spiritual, sosial, moral, dan kemanusiaan ke arah yang lebih positif, konstruktif, dan produktif.