Selasa, 14 Juni 2016

Histeria Selfie

Histeria Selfie

Bre Redana ;   Penulis Kolom “UDAR RASA” Kompas Minggu
                                                         KOMPAS, 12 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Belakangan ini Yogya dilanda histeria selfie, berfoto di tempat-tempat bekas pengambilan gambar film Ada Apa dengan Cinta 2. Film yang memang menyenangkan hasil kerja bareng dua sahabat Mira Lesmana dan Riri Riza itu membuat para turis lokal menyerbu restoran, kafe, hotel, pasar, studio seniman, pokoknya apa saja yang dianggap sebagai situs AADC 2. Kafe di Prawirotaman yang sebelumnya lebih menjadi tempat para turis asing menikmati suasana pribadi sembari minum bir, kini berisik oleh para turis lokal yang datang berombongan, pasang gaya, meringis, lalu jepret-jepret.

Modar, kata istilah dalam bahasa Jawa. Seorang sopir dari sebuah usaha persewaan mobil menceritakan bagaimana rombongan ibu-ibu kelompok arisan dari Jakarta minta diantar ke semua bekas tempat pengambilan gambar AADC 2. Pada setiap tempat mereka berganti kostum. Mereka membawa juru foto khusus.

Sebuah vila yang merasa terganggu oleh serbuan kalangan swafoto menambah tenaga keamanan untuk menjaga vila dari intrusi manusia yang tak jelas. Toh kabarnya ada yang lolos. Seorang pemuda nekat melompati tembok vila.

Seniman yang memiliki studio di Bantul persis di depan studio dan tempat workshop Papermoon mengaku menyaksikan sendiri bagaimana para turis bergentayangan ke Papermoon yang atraksi teater bonekanya muncul di AADC 2. Mereka tak kenal siang malam. Kemarin ada yang terbirit-birit dikejar anjing saya, ceritanya sembari tertawa.

Istilah selfie ramai dipergunakan mulai tahun 2013. November tahun itu, Oxford Dictionaries mengumumkan selfie sebagai "the international word of the year"-kata internasional tahun itu. Artinya didefinisikan kurang lebih sebagai gejala dari narsisisme yang didorong oleh media sosial.

Tanpa perlu terlalu mengacu pada definisi sebuah kamus, kita tahu sendiri, lewat selfie orang ingin memamerkan pakaian yang dipakai, makanan yang hendak di-emplok, dengan siapa ia bergaul, ke mana ia bepergian, dan seterusnya. Fungsinya macammacam. Kecuali sebagai ekspresi diri, juga konstruksi citra diri, sarana untuk mempromosikan diri, lolongan karena butuh diperhatikan, dicintai, hal-hal yang dibutuhkan oleh para jablai alias jarang dibelai.

Seluruh kegiatan diri difoto, diunggah ke media sosial, seakan begitu pentingnya peristiwa atau momen tersebut. Dari balita ganti popok, baru bisa meringis, sampai manula yang lagi-lagi nantinya cuma bisa meringis dan ganti popok karena proses regresi, semua difoto. Pada titik ini fotografi di media sosial mencapai suatu paradoks: semua image orang itu penting sekaligus tak penting (dalam hal ini saya selalu merasa terganggu kalau ada orang mengirim foto ke handphone saya).

Ketika semua image atau hasil foto tak lagi penting, praktik memotret mengambil alih, menjadi lebih penting daripada foto itu sendiri. Di meja makan, memotret makanan menggantikan doa. Pada acara keluarga, berpotret bersama menggantikan praktik sesrawungan, di balik kenyataan tak adanya lagi interaksi konkret karena semua orang sibuk dengan handphone-nya. Di tempat tidur suami-istri tak berpelukan karena sibuk dengan laptop masing-masing.

Fungsi kamera seperti disebut Susan Sontag dalam esainya pada tahun 1970-an sebagai peranti untuk merealisasikan dan sebagai bukti atas pengalaman seseorang, kini harus kita ragukan: adakah yang terlihat di foto bukti dari suatu pengalaman? Kalau seseorang duduk di kursi kafe seperti adegan sebuah film, apakah berarti dia sedang dalam sebuah pengalaman rindu karena tengah terlibat dalam cinta yang indah? Kalau seseorang berfoto di ladang, adakah dia tengah menjalani proses mengolah alam dan kehidupan? Ah, dia cuma kelas menengah kota yang norak dan terasing dari kehidupan.

Selain mampu memanipulasi banyak hal, dengan media sosial kini kita menemukan peranti untuk memanipulasi diri sendiri. Hari-hari berseminya humanitas telah berlalu. Yang kita jumpai dan tersebar di mana-mana adalah foto-foto dari pengalaman palsu. Malas saya melihatnya.