Kamis, 09 Juni 2016

Gado-gado Diplomasi Kuliner

Gado-gado Diplomasi Kuliner

Jean Couteau ;   Wartawan Senior Kompas
                                                         KOMPAS, 05 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Jika ingin damai, bangsa-bangsa harus berdiplomasi. Betul, kan? Bahkan terdapat bahasa serta kode kesopanan tertentu yang menjadi sarana diplomasi tersebut. Namun, hingga baru-baru ini belum pernah kepikir bahwa makanan bisa pula menjadi sarana diplomasi.

Yang mencerahkan saya dalam hal ini ialah seorang William Wongso, dedengkot koki Indonesia, pada peluncuran buku terbarunya di Ubud, Bali, bertajuk Flavors of Indonesia, Minggu (29/5). Tentu saja dia menyanjung keberanekaan masakan Indonesia. Tetapi, seusai itu, dia tidak segan-segan mendamprat birokrasi. "Mungkin kalian mengira bahwa tamu negara kita dijamu di meja kepresidenan dengan masakan Indonesia. Itu keliru! Yang disajikan adalah hidangan dari negara mereka sendiri. Bahkan, konon, tamu Uruguay disajikan steik, tapi sialan benar, steiknya dingin," ujarnya gusar.

Bisa jadi Wongso benar menjadi kesal seperti itu, tetapi tidak semudah itu bersikap nasionalis dalam bidang makanan. Di situ pun terjadi pertarungan antara keekaan dan kebinekaan. Cobalah kita mencari hidangan yang bisa mewakili seluruh bangsa Indonesia, bisa menjadi panji keekaan kulinernya. Sulit, kan? Apakah soto? Mungkin cukup umum, tetapi soto yang mana? Seandainya gudeg? Bukan nasional, tetapi dari Yogya. Kalau memilih masakan terkenal di kalangan asing, lebih repot lagi. Babi guling gianyar mewakili masakan khas Indonesia di mata orang Australia, tetapi sulit membayangkan bagaimana hidangan yang konon lezat itu bisa mewakili keindonesiaan kuliner di mata orang Aceh. Jadi rumit! Jangan-jangan satu-satunya ragam masakan yang memang benar-benar ditemukan dari Sabang sampai Merauke adalah ragam masakan nyonya alias china. Namun, ini sulit diterima pesan etnisnya, dong. Ada juga solusi Belanda-nya: rijsttafel. Tetapi, mustahil hidangan kolonial ini dapat diangkat mewakili keindonesiaan. Maka, kesimpulannya, jangan menjamu tamu dengan hidangan yang mewakili keekaan Indonesia. Terlalu peka.

Ya, lebih baik mengadaptasi hidangan kepresidenan pada setiap tamu dengan mempertimbangkan seleranya, kebutuhannya, atau kenapa tidak mood diplomatik yang berlaku. Jika mood diplomatik pada keakraban, misalnya, sang tamu bisa kita sajikan gudeg atau rendang biasa, tetapi jika kita marah atau ingin dia cepat mengangkat kaki, rasanya campuran terasi dan cabai merah akan lebih ampuh. Saya menganjurkan agar Ibu Susi Pudjiastuti menerapkan diplomasi kuliner macam ini ketika menjamu para menteri urusan kelautan dari negara-negara tetangga. Mungkin lebih efisien daripada membakar kapalnya.

Semestinya diplomasi kuliner ini menjadi paradigma baru bagi seluruh jajaran Kementerian Luar Negeri dengan mempertimbangkan, selain tujuan diplomatik kita, karakter dan mood orangnya. Misalnya, kapan Putin harus dijamu dengan ulat sebatah dari Bali dan kapan dengan anjing ala Manado. Kapan Obama harus diberikan sagu ala Papua dan kapan ayam goreng ala Menteng Dalam.

Siapa di antara keduanya harus paling dulu diminta mencicipi capung goreng. Pasti pilihan makanan-makanan itu akan ditafsir tujuannya oleh tim ahli mereka. Tetapi, melihat cara kedua presiden negara adikuasa itu menghadapi masalah-masalah dunia, kemungkinan besar mereka akan gagal menanggap isyaratnya. Namun, yang lebih pelik pasti pemimpin Tiongkok: kemungkinan presidennya tidak mau menerima bahwa bakso betul-betul merupakan hidangan Jawa. Dikhawatirkan dia mengklaim bakso asli dari Tiongkok. Dengan presiden tertentu harus juga berhati-hati. Misalnya, jika Duterte disajikan anjing ala Manado, pasti dia akan menggonggong.

Jika perlu diplomasi kuliner bisa memperhitungkan kebutuhan khusus dari tamu asing. Misalnya, harus mempertimbangkan sejauh mana para emir yang poligami dari Timur Tengah membutuhkan sate kambing bagi yang tua atau sebaliknya hidangan dari terung untuk yang lebih muda.

Cuma, perihal kedua hidangan terakhir ini jangan salah sasaran. Lain Timur Tengah, lain Amerika Serikat. Seusai pemilu di Amerika Serikat tahun depan, jangan kita sajikan sate klathak kepada Hillary Clinton (jika menang) dan sepiring terung kepada suaminya. Bisa-bisa Amerika Serikat tidak mau lagi mendukung posisi Indonesia di seputar kedaulatan wilayah lautan Natuna. Repot, kan? Untung ada Presiden India. Dia adalah vegetarian dan seorang Hindu yang taat. Maka, cukup disajikan gado-gado. Pasti puas dan pas. Memang, jika ada yang mewakili keekaan dan sekaligus kebinekaan Indonesia, itulah gado-gado, bahkan dalam segala bidang. He-he-he.