Jumat, 08 April 2016

UNBK dan Peradaban Bangsa

UNBK dan Peradaban Bangsa

Siti Muyassarotul Hafidzoh ;   Litbang PW Fatayat NU DIY
                                               MEDIA INDOESIA, 06 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PADA 4-7 April ini, ujian nasional (UN) dilaksanakan untuk SMA dan sederajat. UN menjadi salah satu standar kualitas pendidikan nasional kita sehingga harus disiapkan dan dijalankan dengan sebaik mungkin.Akan tetapi, jangan sampai lembaga pendidikan menjebak dirinya semata dalam UN saja karena itu bisa merusak basis etik pendidikan kita. UN menjadi sangat penting beriringan dengan keseluruhan proses belajar di sekolah yang berkualitas tanpa diskriminasi.

Tahun ini, sudah melangsungkan UNBK (ujian nasional berbasis komputer). Ini bukan sekadar wujud kemajuan, melainkan juga wujud komputerisasi masa depan peradaban bangsa. Pelajar hari ini ialah harapan masa depan. Teknologi tidak bisa diabaikan. Di sinilah, UNBK menjadi ujung tombak lahirnya generasi bangsa yang tegak dalam berteknologi.

Namun jangan lupa, teknologi hanya alat. Yang paling krusial justru akhlak, etika, dan karakter sebagai fondasi/basis paling utama.Dalam konteks ini, dunia pendidikan Indonesia mesti belajar kepada salah satu guru bangsa ini, yakni KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur sebenarnya sudah memberikan fondasi pemikiran tentang bagaimana lembaga pendidikan mampu mencetak peserta didiknya menuju manusia yang ideal.

Bagi Gus Dur, manusia adalah ciptaan terbaik Tuhan yang bertugas menjadi khalifah dalam memakmurkan bumi ini. Karena ciptaan terbaik, pendidikan bagi manusia ialah langkah terbaik agar manusia merealisasikan tugas kekhalifahan yang disandangnya.

Pertama-tama, bagi Gus Dur, lembaga pendidikan harus mampu membangun basis dan fondasi. Basis itu ialah kearifan lokal. M Sufyan Al-Nashr (2011) menjelaskan bahwa dalam bahasa Gus Dur, kearifan lokal itu disebut dengan pribumisasi Islam, yakni ajaran Islam dan tradisi lokal dijadikan sebagai landasan moral dalam nyata kehidupan.

Kurikulum yang tepat

Di samping itu, adat istiadat dalam suatu tatanan masyarakat menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari.Norma adat yang berlaku menjadi landasan moral dalam berperilaku. Mereka yang melanggarnya akan dikenai sanksi yang biasanya lebih bersifat moral, sedangkan ajaran agama sebagai pedoman hidup agar sesuai dengan tuntunan dalam kitab suci.

Untuk membangun manusia bermoral melalui pendidikan, kuncinya berada dalam kurikulum karena kurikulum ialah jantungnya pendidikan.
Menurut Faisol (2012), Gus Dur memiliki perspektif sendiri dalam soal kurikulum ini. Bagi Gus Dur, ada beberapa langkah bagaimana kurikulum mampu memberikan asupan ilmu dan moral.

Pertama, orientasi pendidikan harus lebih ditekankan kepada aspek afektif dan psikomotorik. Artinya, pendidikan lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter peserta didik dan pembekalan keterampilan atau skill agar setelah lulus, mereka tidak mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan daripada hanya sekadar mengandalkan aspek kognitif (pengetahuan).

Kedua, dalam proses belajar mengajar guru harus mengembangkan pola student oriented sehingga terbentuk karakter kemandirian, tanggung jawab, kreatif, dan inovatif pada diri peserta didik. Ketiga, guru harus benar-benar memahami makna pendidikan dalam arti sebenarnya. Tidak mereduksi sebatas pengajaran belaka.

Keempat, perlunya pembinaan dan pelatihan tentang peningkatan motivasi belajar kepada peserta didik sehingga anak akan memiliki minat belajar yang tinggi.

Kelima, harus ditanamkan pola pendidikan yang berorientasi proses, yakni proses lebih penting daripada hasil. Pendidikan harus berjalan di atas rel ilmu pengetahuan yang substantif.

Oleh karena itu, budaya pada dunia pendidikan yang berorientasi hasil (formalitas), seperti mengejar gelar atau titel di kalangan praktisi pendidikan dan pendidik hendaknya ditinggalkan.

Keenam, sistem pembelajaran pada sekolah kejuruan mungkin bisa diterapkan pada sekolah-sekolah umum, yaitu dengan menyeimbangkan antara teori dengan praktik.

Agenda besar pendidikan agar menemukan kembali hakikat moralnya ialah kembali kepada populisme. Bagi Gus Dur, pendidikan nasional kita terjebak dalam pergulatan dua pemikiran yang sulit disatukan, yakni populisme dan elitisme. Populisme mendekatkan pendidikan kepada rakyat sehingga orientasinya untuk rakyat. Sementara elitisme berpandangan bahwa rakyat tidak tahu apa-apa.

Pendidikan yang memiliki acuan moral yang benar dikaitkan dengan skill yang bagus akan mampu menghasilkan ilmuwan dan juga generasi bangsa yang hebat di masa depan.