Sabtu, 23 April 2016

Poros Baru Studi Islam

Poros Baru Studi Islam

Komaruddin Hidayat ;   Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
                                                   KORAN SINDO, 22 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saya memulai karier sebagai dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sejak 1981, dengan modal ijazah doktorandus. Ijazah ini sudah setingkat MA menurut tradisi Belanda, tapi di perguruan tinggi AS masih dianggap strata satu, karena belum memiliki ijazah resmi master. Padahal, untuk meraih doktorandus diperlukan waktu studi enam tahun, sudah ekuivalen dengan masa tempuh untuk meraih master. Saya menempuhnya sampai tujuh tahun. Bahkan beberapa aktivis ‘66 ada yang memerlukan waktu 14 tahun baru tamat doktorandus.

Sekarang hampir semua perguruan tinggi di Indonesia menerapkan strata S-1, S-2, dan S-3 dengan pembatasan waktu yang ketat, sehingga mahasiswa dituntut lebih menekankan studi, semakin berkurang peluang kiprah di luar kampus. Sejak diangkat sebagai dosen, sesungguhnya saya malu. Merasa tidak pantas. Sama saja dengan alumni SMA mengajar SMA. Secara intelektual dan emosional belum memenuhi syarat.

Semasa studi di pesantren saya selalu membayangkan betapa indahnya kalau saja bisa meneruskan belajar Islam ke Timur Tengah seperti di Mesir, Arab Saudi, atau Irak. Terbayang waktu itu masyarakat Arab orangnya saleh-saleh, calon penghuni surga karena mereka hidup dengan mengikuti tradisi ajaran Islam yang diwariskan Rasulullah. Tertanam dalam hati bahwa bahasa Arab adalah bahasa surga karena bahasa Arab adalah bahasa kitab suci Alquran. Belajar bahasa Arab seakan identik dengan belajar agama.

Kenangan dan impian sewaktu di pesantren ternyata meleset. Selagi masih kuliah justru saya ingin meneruskan studi lanjut ke Amerika Serikat (AS) atau Kanada. Dua orang yang memengaruhi pikiran saya, almarhum Prof Harun Nasution dan Nurcholish Madjd. Prof Harun alumni Mesir, meneruskan program master dan doktor di McGill University, Montreal, Kanada. Cak Nur alumni UIN Jakarta, menamatkan doktor di Chicago University, AS.

Berkat bergaul dekat dengan keduanya, di mata saya mereka berbudi luhur, santun, berintegritas tinggi, pengetahuan agama maupun umum sangat luas dan dalam. Kemuliaan akhlak dan keluasan ilmunya sangat mengesankan tidak saja terhadap saya, tetapi juga mahasiswa UIN Jakarta, terutama mereka yang juga aktivis HMI. Makanya banyak kemudian alumni UIN Jakarta yang tadinya berasal dari pesantren tertarik meneruskan program doktornya ke AS, Kanada, Inggris dan Australia.

Sebut saja Dr Din Syamsuddin dari UCLA, Dr Azyumardi Azra dari Columbia University, Dr Bahtiar Effendy dan Dr Saiful Mujani dari Ohio State University. Alumni doktor dari McGill paling banyak jumlahnya. Ada Fuad Jabali, Yeni Ratnaningsih, Nurlena, Yusuf Rahman, Didin Syafruddin, Muhammad Zuhdi, Hendro Prasetyo, dan Ali Munhanif.

Lalu ada Dr Mulyadi dari Chicago University, Dr Jamhari Makruf dan Dr Ismatu Ropi dari Australian National University (ANU), Dr Din Wahid dan Dr Chaider Bamualim dari Leiden University, Dr Saiful Umam dari University of Hawaii, Dr Amelia Fauzia dari Melbourne University, Dr Jajang Jahroni dari Boston University, dan masih banyak lagi alumni UIN Jakarta yang tidak saya sebut namanya, yang berasal dari pesantren berhasil menamatkan doktor dari universitas papan atas dunia, termasuk dari Sorbone, Berkeley, dan Harvard. Di negeri Barat sendiri beberapa universitas papan atas memiliki program studi Islam dengan mendatangkan profesor-profesor ternama dari dunia Islam.

Fakta di atas setidaknya menunjukkan satu hal, yaitu telah terjadi poros baru para santri Indonesia belajar Islam tidak selalu berkiblat ke dunia Arab. Terlebih sekarang lagi dilanda krisis politik, ekonomi, dan peradaban, jadilah daya tarik studi ke dunia Arab menurun. Saya sendiri meneruskan studi master dan doktor tidak ke Arab, tidak juga ke Barat, melainkan ke Turki. Neither West nor East. Sebuah negara yang terjepit antara Arab dan Barat, atau, negara yang mempertemukan antara tradisi Arab dan Barat.

Dari semua yang saya sebutkan di atas, saya paling senior. Peluang pertama yang terbuka bagi saya belajar ke luar negeri adalah ke Turki, yang waktu itu tidak masuk daftar tujuan studi bagi mahasiswa Indonesia.
Peluang ke Barat dengan basis beasiswa masih dalam proses negosiasi. Saya tidak punya gambaran bagaimana perguruan tinggi di Turki. Yang penting menamatkan doktor di luar negeri. Munawir Sjadzali, menteri agama kala itu, meminta saya menjadi pionir belajar ke Turki. Itu bangsa dan negara yang sangat kaya dengan sejarah masa lalunya. Bangsa yang tidak pernah dijajah Barat, bahkan pernah menguasai sebagian Eropa dan hampir seluruh dunia Islam semasa Kekhalifahan Usmani (Ottoman Empire ).

Saya belajar di Ankara, Turki, antara 1984-1990. Terbukanya poros baru dosen-dosen UIN dan IAIN belajar ke perguruan tinggi di luar Timur Tengah tak lepas dari peran Munawir Sjadzali yang sengaja mendorong mereka agar mempelajari ilmu sosial kontemporer untuk memperkaya studi Islam klasik yang telah dipelajari di pesantren dan IAIN. Sekarang ini minat dosen muda alumni pesantren lebih tertarik studi Islam ke perguruan tinggi Barat ketimbang ke Timur Tengah. Ada apa ini? ●