Senin, 25 April 2016

"The Prayer"

"The Prayer"

Trias Kuncahyono  ;   Penulis Kolom KREDENSIAL Kompas Minggu
                                                        KOMPAS, 24 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Andrea Angel Bocelli (1958) dan Céline Marie Claudette Dion (1968). Yang pertama, Andre Bocelli, tenor kondang dari Italia. Yang kedua, Céline Dion, penyanyi diva lagu-lagu pop dari Kanada. Keduanya bertemu dalam lagu "The Prayer" (1999), salah satu lagu yang ada dalam album Sogno (Mimpi)-nya Andrea Bocelli.

 Singel "The Prayer" dirilis pada 1 Maret 1999. Pada mulanya lagu ini direkam dalam dua versi solo terpisah: versi bahasa Inggris oleh Céline Dion dan versi bahasa Italia oleh Andrea Bocelli yang kemudian muncul dalam soundtrack film Quest for Camelot, Mei 1998.

Lagu ini memenangi Golden Globe Award sebagai Best Original Song dari film Quest for Camelot (1999). Dalam film itu, Céline Dion menyanyikan lagu itu secara solo dengan lirik yang sedikit berbeda.

Masih panjang catatan tentang kehebatan lagu "The Prayer". Karena itu, bukan tanpa alasan kalau lagu "The Prayer" menjadi populer, menjadi sangat kondang. Salah satu alasan yang membuat lagu itu populer adalah lirik lagu "The Prayer", dalam bahasa Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo menyentuh rasa dan perasaan orang yang paling dalam, yakni kerinduan atau harapan akan terciptanya dunia dengan keadilan dan dunia tanpa kekerasan. Dengan kata lain, dunia yang damai, aman, dan sentosa.

Coba simak sebagian baitnya:

"Sognamo un mondo senza piu violenza/Un mondo di giustizia e di speranza/Ognuno dia la mano al suo vicino, simbolo di pace e di fraternita (Kita memimpikan suatu dunia yang bebas dari kekerasan. Dunia dengan keadilan dan harapan. Setiap orang hendaknya mengulurkan tangan kepada sesamanya, tanda perdamaian dan persaudaraan)".

Itulah impian semua orang. Semua orang pencinta damai dan perdamaian. Akan tetapi, mimpi ternyata tidak selalu sama dengan kenyataan. Karena itu, mimpi sering disebut hanya "bunga tidur". Mimpi akan dunia yang aman dan damai, dunia tanpa kekerasan, dunia tanpa kekejaman, ternyata harus berhadapan dengan kenyataan dunia yang semakin jauh dari perdamaian dan kedamaian, dunia yang semakin tidak berhati.

Perang di Suriah-yang sering disebut sebagai perang saudara lalu perang proksi-dari hari ke hari semakin menjadi-jadi. Korban tewas, sejak perang berkobar lima tahun silam, menurut PBB, sudah lebih dari 250.000 orang (menurut Syrian Centre for Policy Research, jumlah korban tewas mencapai 470.000). Penduduk Suriah sebelum perang berjumlah sekitar 22,5 juta jiwa.

Perang juga memaksa orang mengungsi untuk mencari tempat yang aman. Jumlah orang Suriah yang mengungsi, baik mengungsi di dalam negeri Suriah maupun ke negara tetangga dan Eropa, mencapai sembilan jutaan orang.

Suriah hanya satu contoh bahwa mimpi akan perdamaian dan kedamaian itu ibarat kata jauh panggang dari api. Di kawasan dunia lain pun sama. Di Nigeria, sejak tahun 2012 hingga kini, 500 hingga 2.000 anak perempuan dan laki-laki diculik oleh kelompok teroris Boko Haram. Mereka, yang perempuan, kalau tidak mau diperistri, dijual dan dijadikan budak seks. Mereka juga dijadikan pengebom bunuh diri. Anak laki-laki dicuci otaknya dan dijadikan tentara untuk memerangi dan membunuh keluarga mereka sendiri.

Negara lain di Timur Tengah, seperti Libya dan Yaman, masih dibelenggu oleh permusuhan: saling bunuh di antara sesama anak bangsa. Konflik Palestina-Israel, sebuah konflik yang sudah melintasi abad, tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Yang terjadi justru sebaliknya.

Terorisme muncul di mana-mana, tidak hanya monopoli Timur Tengah, tetapi juga di AS, Eropa, negara-negara Asia, dan Indonesia. Konflik bermantel agama juga masih muncul. Lalu orang bertanya, apa artinya agama kalau toh orang masih juga berbuat jahat terhadap orang lain, bahkan membunuh atas nama agama.

Melihat kenyataan itu, mengingatkan pada apa yang dikatakan oleh filsuf asal Inggris, Thomas Hobbes (1588-1679). Ia mengatakan bahwa manusia serigala bagi sesamanya, homo homini lupus est. Frasa populer tersebut mula pertama diungkapkan oleh Plautus Asinaria, seorang komedian zaman Romawi. Secara lengkap ia mengatakan, lupus est homo homini, non homo, quom qualis sit non novit, yang kira-kira terjemahan bebasnya adalah manusia serigala bagi sesamanya; ia bukan manusia jika tidak paham hakikatnya.

Manusia serigala, tentu, tidak peduli pada lagu yang dinyanyikan oleh Andrea Bocelli dan Céline Dion: "Ognuno dia la mano al suo vicino, simbolo di pace e di fraternita (setiap orang hendaknya mengulurkan tangan kepada sesamanya, tanda perdamaian dan persaudaraan)". Dalam kalimat lain, Karen Armstrong (Twelve Steps to a Compassionate Life) merumuskan, "Berbuatlah selalu kepada orang lain sebagaimana engkau kehendaki orang lain berbuat terhadap dirimu sendiri." ●