Jumat, 22 April 2016

Mir

Mir

Rhenald Kasali  ;   Pendiri Rumah Perubahan
                                                   KORAN SINDO, 21 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Mari kita tinggalkan sejenak negeri ini yang tengah gaduh mengenai berita tentang reklamasi di kawasan pantai utara Jawa. Kita lupakan juga berita soal Panama Papers yang menyebut nama sejumlah petinggi lembaga negara dan kalangan pebisnis. Juga kita lupakan sejenak masalah RS Sumber Waras masalah bisnis yang sedang ditarik-tarik masuk ke ranah politik oleh DPR kita, mungkin karena DPR kita sedang merasa kurang pekerjaan.

Mari, saya ajak Anda ke Pakistan untuk menemui seorang anak muda yang menghadirkan banyak perubahan di sana. Nama lengkapnya Mir Ibrahim Rahman, lahir tahun 1981. Supaya mudah, kita sebut saja dia: Mir.

Mir berasal dari keluarga kaya. Hidupnya enak. Ayahnya, Mir Shakil ur Rahman, adalah taipan media. Ia pemilik Jang Group, kelompok bisnis surat kabar terbesar di Pakistan. Kalau di sini mungkin bisa kita setarakan dengan Jakob Oetama dari Grup Kompas, Surya Paloh dari Grup Media Indonesia, Dahlan Iskan dengan Jawa Pos Group, atau Hary Tanoesoedibjo yang pemilik jaringan MNC Group. Kakeknya, Mir Khalil ur Rahman juga pemilik surat kabar ternama yang terbit di sana.

Sebagai anak orang kaya, Mir berkesempatan menikmati pendidikan di luar negeri. Ia berkuliah di Babson College. Setamat kuliah, Mir bekerja sebagai investment bankers di Goldman Sachs dengan spesialisasi di industri media dan telekomunikasi. Mir kembali ke Pakistan pada 2002.

Sebelum tahun itu, bisnis media elektronik di Pakistan masih menjadi monopoli negara. Ada dua BUMN yang mengelola, yakni Pakistan Television Corporation dan Pakistan Broadcasting Corporation. Ketika Pervez Musharraf menjadi perdana menteri, bisnis media ini dideregulasi.
Swasta boleh mendirikan stasiun TV dan radio.

Peluang inilah yang dilirik Mir. Ia pun mendirikan stasiun TV swasta, GeoTV. Mir menjadi CEO-nya. Mulanya GeoTV berkantor di kamar hotel dan didukung 5 kru.

Kini GeoTV sudah menjadi besar dan memiliki ribuan karyawan.

Pada 2009, Mir juga sempat melanjutkan kuliahnya di Harvard Kennedy School untuk mengambil program master. Ada dua program yang diikutinya sekaligus, yakni master business administration dan master public administration.

Dari cerita awal ini, yang mau saya sampaikan adalah hidup Mir sangat nyaman. Anak orang kaya, berpendidikan tinggi, dan akhirnya memiliki bisnis sendiri. Kalau mau aman, sebenarnya Mir bisa saja duduk manis, membuat program-program yang menghibur, dan tak perlu memicu segala kontroversi di masyarakat.

Tapi, kenyataannya tidak. Mir memilih jalan kedua. Ia memilih membuat program-program yang panas, yang memelopori bukan saja perubahan lanskap bisnis media di sana, tetapi juga perubahan sosial di masyarakat.

Memicu Perubahan

Apa perubahan yang ditawarkan Mir melalui GeoTV -nya?

Ia membuat program talkshow dengan judul Zara Sochiye (atau Just Think dalam bahasa Inggris). Ini program talkshow yang betul-betul panas. Salah satu topik yang pernah dibahas adalah soal Hudood Ordinansi, aturan hukum yang memicu kontroversi luas di Pakistan.

Hudood Ordinansi adalah aturan hukum buatan rezim masa lalu. Salah satu kontroversinya adalah menyetarakan pemerkosaan dengan perzinaan. Aturan yang jelas-jelas merugikan kaum perempuan.

Kuatnya rezim militer, yang berkelindan dengan tokoh-tokoh agama, membuat masyarakat tak melawan. Jangankan menolak, membicarakan saja mereka takut luar biasa. GeoTV mendobrak ketakutan masyarakat dengan memboyong isu sensitif tersebut ke ranah publik.    Memperdebatkannya secara terbuka dalam ajang talkshow. Dalam programnya tersebut, GeoTV juga menampilkan sejumlah kesaksian masyarakat, termasuk debat panas antara kalangan konservatif dengan kaum liberal.

Dalam kontroversi ini, GeoTV menarik garis yang tegas bahwa Hudood Ordinansi adalah hukum buatan manusia. Bukan hukum Ilahi. Sengitnya debat dan meluasnya penolakan masyarakat terhadap Hudood Ordinansi akhirnya memaksa pemerintah mengamendemen aturan hukum tersebut.

Apa pelajaran yang bisa dipetik dari kasus itu?  Bagi masyarakat Pakistan, program tersebut membuka pemahaman baru. Pertama , isu-isu sensitif seperti sudut pandang agama ternyata bisa diperdebatkan. Padahal di masa lalu ini sesuatu dianggap ”haram” untuk dibicarakan.

Kedua, perdebatan tersebut ternyata dapat membantu pemahaman masyarakat dalam meluruskan ajaran agama itu sendiri. Itu perubahan sosial yang pertama. Saya ajak Anda untuk melihat perubahan sosial lainnya yang digagas GeoTV.

Mir menggagas pembuatan film berjudul Khuda Kay Liye (In The Name of God dalam bahasa Inggris). Ini film pertama yang diproduksi Mir. Isi filmnya secara berani menentang fatwa yang dikeluarkan pemimpin Masjid Merah di Islamabad, ibu kota Pakistan.

Ketika itu masyarakat Pakistan tahu persis bahwa masjid ini yang dindingnya kebetulan juga berwarna merah—dan oleh karenanya disebut Masjid Merah—dilindungi oleh para pejabat pemerintahan dan militer Pakistan. Mulai dari presiden, perdana menteri hingga petinggi militer.

Kalau di sini, siapa yang berani menentang mereka?

Setelah diluncurkan, segera film ini disaksikan secara meluas oleh rakyat Pakistan dan membentuk pandangan baru di masyarakat. Boleh dibilang inilah film blockbuster pertama dan terbesar dalam industri perfilman Pakistan.

Film ini pulalah yang memicu menguatnya tekanan dan kebutuhan akan dialog soal-soal Islam dan Pakistan di masyarakat—sesuatu yang dianggap tabu pada masa lalu dan seakan-akan hanya menjadi hak eksklusif kalangan elite.

Dibredel

Mir dengan GeoTV-nya memang dikenal berani menggarap proyek-proyek panas. Salah satu di antaranya dengan mengungkapkan secara terbuka pertentangan antara sipil dan militer di Pakistan.

Keberanian Mir harus dibayar mahal. Pemerintah menutup stasiun TV-nya selama sekitar 90 hari dan menyebabkannya mengalami kerugian bersih lebih dari USD25 juta. Mir maju ke pengadilan. Hakim agung akhirnya memenangkan gugatan Mir dan GeoTV-nya.

Membaca kisah Mir, saya jadi merenung. Seandainya saja stasiun-stasiun TV kita seberani GeoTV, mungkin banyak sekali perubahan sosial yang bakal terjadi di negara ini.

Sayangnya masih banyak stasiun TV kita yang lebih suka menampilkan acara kedumbrangan tak keruan, pengisi acara yang berebut perhatian, atau menjual mimpi.

Juga harus diakui berita-berita kita hanya memotret reaksi demi reaksi dari ucapan dan perbuatan-perbuatan. Pers kita masih menari-nari dari genderang yang ditabuh para newsmaker, entah itu politisi, preman, artis pemantik sensasi atau para pemburu rente.

Yang diburu pun tak mengerti betul makna popularitas yang dimilikinya, apakah itu famous atau notorious.

Seandainya saja kita punya seorang Mir!