Jumat, 29 April 2016

Nak, Maukah Kau Jadi Polisi?

Nak, Maukah Kau Jadi Polisi?

Reza Indragiri Amriel  ;   Peserta Community Policing Development Program
di Jepang; Anggota Asosiasi Psikologi Islami
                                                   KORAN SINDO, 26 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Di sela-sela kesibukannya melakukan roadshow perlindungan anak di puluhan wilayah, Kak Seto— sapaan hangat Seto Mulyadi, aktivis perlindungan anak— membingkiskan oleh-oleh berupa cerita seru.

Dalam obrolannya bersama anak-anak TK Amanah Ummah, Desa Pogung (Cawas, Klaten), Senin (18/4), sekian banyak bocah menyebut juru masak sebagai cita-cita mereka. Begitu pula dengan profesi lain. Namun, hanya satu siswa yang mengatakan ingin menjadi polisi setelah dewasa kelak. Kak Seto menduga sangat sedikitnya siswa yang ingin bekerja sebagai polisi disebabkan oleh trauma anak-anak pasca- Densus 88 melakukan ”kunjungan” ke TK mereka pada pertengahan Maret lalu.

Menarik sekali apabila kisah Kak Seto itu dibandingkan dengan bagaimana respons anak-anak lain, termasuk di negeri seberanglautan, ketikadihadapkan pada pertanyaan seputarcita-cita mereka pada masa depan. Forbes (2009) misalnya menanyai ratusan anak-anak usia sekolah dasar yang bermukim di kawasan metropolitan New York.

Pada kelompok usia lima tahun, tujuh dari 33 anak-anak berujar bahwa mereka ingin menjadi pahlawan seperti yang ada di dunia kartun yaitu Spiderman dan Spongebobs. Kebersahajaan pola pikir membuat anak-anak abai terhadap pentingnya kesejahteraan. Ketika tidak sedikit dari mereka yang bercita-cita menjadi petugas pemadam kebakaran dan polisi, dua pekerjaan yang sangat populer di mata anak-anak itu faktanya tidak memberikan bayaran yang terbaik.

Adanya cita-cita merupakan salah satu indikasi perkembangan psikologis yang baik pada anak-anak. Cita-cita menunjukkan perluasan wawasan anak sekaligus kemampuannya berefleksi dengan menautkannya ke dirinya sendiri. Bagi orang tua, memperkenalkan anak pada sebanyak-banyaknya jenis pekerjaan maupun ketokohan merupakan unsur penting dalam pengasuhan.

Sejak usia dini orang tua bisa saja menempelkan cita-cita tertentu pada anak. Bisa lewat buku-buku bacaan, dongeng lisan, mengajak anak berkunjung ke berbagai sentra pekerjaan dan berkenalan dengan para pemangkunya, atau lainnya. Bahwa kemudian anak berimajinasi tentang dirinya yang menekuni pekerjaan lain itu tak jadi soal. Intisari pengenalan cita-cita ke anak adalah memberikan pendidikan kepada sang buah hati akan pentingnya tujuan hidup serta ikhtiar untuk mencapai tujuan tersebut.

Anak, dengan kata lain, sejak belia telah dikondisikan untuk menjadi manusia yang visioner. Bahkan tidak sebatas untuk dirinya sendiri; seiring pertambahan usia anak, anak dibimbing untuk menemukan relevansi antara citacita yang ingin digapainya dengan kemanfaatan yang dapat didedikasikannya bagi dunia.

Semakin istimewa ketika saban kali menutup perbincangan tentang cita-cita, anak selalu diajak untuk merendahkan hatinya- bagian dari pendidikan agama dan karakter—dengan mengucapkan, ”Insya Allah. Semoga Tuhan Yang Maha Menguasai menguatkan dan mengantarkanmu ke keinginan yang luhur itu, Nak.”

Pekerjaan yang diimpikan sejak usia kanak-kanak ternyata merupakan sumber energi dahsyat bagi anak untuk memasuki gerbang masa depan yang sesuai minat dan bakatnya. Bermain peran sebagai pembalap, dokter-dokteran, pilot-pilotan, astronot-astronotan, dan lainnya memompa efek sugesti ke dalam diri anak.

Dengan begitu, sadar maupun tidak sadar, anak terdorong untuk menempuh jalan hidup yang sebangun dengan sumber inspirasinya tersebut. Begitulah kesimpulan yang bisa ditarik dari hasil survei LinkedIn pada 2012. LinkedIn menyigi (menyelidiki) hampir 9000 profesional di Kanada, dan menemukan bahwa sepertiga di antaranya ternyata menekuni pekerjaan yang berhubungan dengan impian mereka semasa kanak-kanak.

Para profesional lain (kendati masuk ke bidang kerja yang berbeda) menyatakan bahwa— sekali lagi—kebiasaan berkhayal dan bermain peran pada masa kecil tentang cita-cita mendukung mereka hidup produktif sekaligus progresif.

Anak dan Polisi

Spesifik terkait polisi sebagai cita-cita anak-anak, Bureau of Labor Statistics (2012) mencatat lima belas jenis pekerjaan yang menjadi impian anak-anak di Amerika Serikat yaitu, mulai dari yang tertinggi, astronot, musisi, aktor, penari, guru, petugas pemadam kebakaran, polisi, penulis, detektif, olahragawan, dokter hewan, ilmuwan, pilot, pengacara, dan dokter.

Apabila jajak pendapat serupa dilakukan di Indonesia, boleh jadi hasilnya tidak jauh berbeda. Meski demikian, minimnya minat anak-anak TK Amanah Ummah untuk menjadi polisi, sebagaimana yang Kak Seto ceritakan, tetap patut menjadi sebuah catatan tersendiri. Terlebih bagi kepolisian setempat. Pasalnya, pertama, respons anak-anak tersebut sedikit-banyak sebantun dengan penilaian yang masih belum begitu menggembirakan dari masyarakat terhadap reputasi lembaga kepolisian.

Kedua, jika rendahnya antusiasme anak-anak untuk menjadi polisi benar-benar memiliki tali-temali dengan operasi Densus 88, sikap negatif akibat keterguncangan yang mereka alami itu patut diatasi sebaik mungkin sejak dini. Tujuannya agar hal itu tidak menjadi dasar terbentuknya sikap negatif susulan terhadap polisi (secara khusus) serta nilai-nilai kedisiplinan dan ketaatan pada hukum (secara umum).

Untuk itu, institusi Polri dapat mengadaptasi inisiatif semacam Cops & Kids yang diselenggarakan kepolisian New York sejak 2006. Program dalam kemasan ratusan lokakarya tersebut diluncurkan sebagai tanggapan terhadap ketegangan yang muncul menyusul penembakan terhadap anak muda kulit hitam di sana. Cops & Kids berhasil menjadi program yang efektif memberikan kesempatan kepada anak-anak muda dan kepolisian setempat untuk belajar dan memahami satu sama lain.

Hilirnya adalah terbangunnya komunikasi dan interaksi yang lebih positif antara dua pihak. Tentu saja, terlebih pada anakanak yang berusia lebih muda, persepsi mereka terhadap lingkungan sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang tua membangun pemahaman akan hal tersebut. Itu berarti, pada saat yang sama, kesatu-hatian antara polisi dan masyarakat (khususnya orang tua) juga merupakan agenda yang perlu dijalankan paralel.

Kuncinya bukan pada seberapa sering polisi mendapat panggung media, melainkan pada seberapa sering dan positifnya kontak keseharian polisi dengan stakeholder utama mereka. Andai itu dapat terealisasi, pantas kita berharap akan ada lebih banyak lagi anak-anak Indonesia yang berhasrat menjadi pelayan, pelindung, sekaligus pengayom masyarakat. Wallahualam.