Senin, 25 April 2016

Pyongyang yang Cantik

Pyongyang yang Cantik

Komaruddin Hidayat  ;   Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
                                                   KORAN SINDO, 15 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Juni 1983 saya menghadiri Konferensi Jurnalis Internasional di Pyongyang, Korea Utara. Lantaran waktu itu tak ada rute penerbangan melalui China agar lebih pendek, saya mesti terbang melingkar Jakarta- Moskow-Pyongyang.

Sesampai di Pyongyang, saya baru sadar, pada konferensi ini yang hadir para jurnalis aliran kiri, pendukung blok Uni Soviet yang tengah menghadapi penetrasi kekuatan Islam Afghanistan melawan Moskow, yang terkenal sebagai perang Soviet versus Afghanistan 1979-1989 di mana Amerika Serikat (AS) berada di belakang Afghanistan.

Uni Soviet di bawah kepemimpinan Leonid Brezhnef ingin mempertahankan pemerintahan Marxis-Lenin di Afghanistan di bawah komando Presiden Karmal, namun gagal karena memperoleh perlawanan sengit dari pasukan Mujahidin yang dibantu AS dan Pakistan. Moskow dibuat kaget ketika menemui kenyataan bahwa banyak tentara Uni Soviet, bahkan juga anggota KGB, ternyata membelot membela Afghanistan karena hubungan etnis dan agama (Islam).

Seperti kita ketahui bersama, rakyat negara bagian Asia Tengah masih banyak yang diam-diam memegang tradisi dan keyakinan Islam. Oleh karenanya, ketika mereka dikirim untuk menumpas perlawanan Afghanistan, banyak yang membelot sehingga tahun 1989 Soviet menyatakan mundur, tetapi perang saudara di Afghanistan masih berlanjut sampai hari ini.

Waktu itu Korea Utara berpenduduk sekitar 22 juta jiwa dipimpin Presiden Kim Il-sung yang berkuasa selama 46 tahun, sejak Korut berdiri 1948 sampai kematiannya tahun1994. Pyongyang ibu kota Korut sangat cantik. Semuanya terawat rapi dan serba teratur. Namun di balik kecantikan kota dengan warganya yang serbateratur dan disiplin, berlaku kontrol tangan besi Kim Il-sung yang bertindak diktator militeristik.

Saya perhatikan wajah-wajah panitia yang berusaha melayani para tamu sebaik dan seramah mungkin, tidak mencerminkan keramahan asli dan spontan. Mungkin benar kata pengamat, perilaku warga Korut serbadiatur negara. Bahkan untuk tersenyum atau menangis di depan publik tidak bisa sembarangan. Saya memperoleh cerita dari guide tour, jika menyimpan uang yang tertera foto Kim Ilsung tidak boleh disaku celana bawah, foto wajahnya juga tidak boleh dilipat.

Lalu, jika melewati patungnya mesti berhenti sejenak untuk memberikan hormat. Kalau tidak, bisa-bisa akan mendapatkan hukuman karena antarmereka saling bertindak sebagai mata-mata negara terhadap sesamanya. Penguasa Korut berusaha meyakinkan rakyatnya bahwa negara mereka paling indah, paling sejahtera dan paling unggul. Dengan berbagai cara, rakyat dihalangi untuk mengetahui dunia luar sehingga praktis Korut merupakan negara dan masyarakat tertutup.

Korut dan Kuba mungkin dua negara yang masih setia melaksanakan doktrin Marxisme- Leninisme, sementara Uni Soviet sudah bubar karena hantaman gelombang kapitalisme dan demokratisasi sebagaimana China yang sudah mulai mengadopsi model kapitalisme Barat. Sekarang ini Korut dipimpin Kim Jong-un, cucu dari Kim Ilsung. Sebuah pemerintahan dinastiisme yang otoriter-tiranik. Korea merupakan negara yang terbelah dengan berakhirnya Perang Dunia II.

Lagi-lagi, aktornya adalah AS dan sekutunya, di pihak lain Uni Soviet bersama gengnya. Uni Soviet didukung China menduduki Korea Utara, AS mengendalikan Korsel. Nasib serupa yang jadi korban persaingan antara blok Barat dan Timur adalah Vietnam yang juga terbelah menjadi Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, juga Jerman yang terbelah menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur, namun kini keduanya telah menyatu kecuali Korea.

Ketika berlangsung konferensi, saya diberi waktu untuk menyampaikan pandangan politik mengenai pendudukan Moskow atas Afghanistan. Tanpa banyak pertimbangan saya sampaikan bahwa saya tidak setuju. Kita mesti menghargai kemerdekaan bangsa dan negara lain. Pidato singkat saya tentu saja sangat tidak disukai forum sehingga ketika selesai konferensi saya diundang menjadi tamu di TASS Moskow, kantor berita Uni Soviet waktu itu.

Saya diceramahi mengapa Moskow mengintervensi Afghanistan, karena AS telah menjadikan Afghanistan sebagai pintu gerbang untuk mengganggu stabilitas Uni Soviet melalui wilayah selatan yang berbatasan dengan Pakistan. Saya ditunjuki peta dunia mengenai agresivitas dan ekspansi AS ke negara-negara sahabat Uni Soviet. Kenangan yang tersisa, Pyongyang kotanya cantik. Tapi rakyatnya tertekan. Jauh berbeda dari Korea Selatan yang lebih terbuka dan pengaruh budaya AS sangat kental.

Negara adidaya ini selalu berkecenderungan menguasai dan mengendalikan negara lain dengan berbagai cara, baik melalui kekuatan senjata, ekonomi maupun politik. Indonesia pun tak luput dari objek kontestasi negara-negara adidaya. ●