Jumat, 08 April 2016

Memperkuat Upaya Pengentasan Tuberkulosis

Memperkuat Upaya Pengentasan Tuberkulosis

Poonam Khetrapal Singh ;   Direktur Regional, WHO Kawasan Asia Tenggara
                                               MEDIA INDOESIA, 07 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SEBAGAI bagian dari pembaruan upaya pengentasan penyakit tuberkulosis End TB, kita perlu kembali ke prinsip-prinsip utama kesehatan masyarakat. Tuberkulosis (TB) ialah masalah kesehatan masyarakat global. Pada 2014, 9,6 juta orang di seluruh dunia terinfeksi penyakit ini dan 1,5 juta penderita TB meninggal dunia. Di kawasan Asia Tenggara, kawasan dengan jumlah penderita TB terbanyak di dunia, penyakit ini membunuh 460 ribu orang setiap tahun dan menjangkiti 340 ribu anak. Upaya keras memberantas TB selalu dilakukan tetapi dengan upaya yang ada sekarang, keadaan tak akan berubah, orang tetap jatuh sakit, menderita, dan meninggal karena TB.

Di awal tahun ini, sebuah upaya diluncurkan untuk melawan TB, dan mengubah keadaan. End TB Strategy bertujuan untuk menekan angka kematian sebesar 95% dan memotong kasus baru hingga 90% pada 2035. Dengan begitu, mewujudkan 'Kawasan tanpa Kematian, Kesakitan, dan Penderitaan akibat TB'. Meskipun ambisius, target ini dapat dicapai dengan strategi yang didasarkan pada tiga pilar. Pertama, pentingnya integrasi layanan dan pencegahan berbasis pasien. Kedua, kebijakan dan sistem penunjang yang kuat. Ketiga, intensifikasi riset dan inovasi. Ini berarti pemerintah menciptakan dan memberlakukan kebijakan yang mendukung faktor sosial, ekonomi, dan perilaku yang memengaruhi perawatan dan pengendalian TB, serta secara khusus menciptakan kebijakan bagi masyarakat yang paling rentan.

Pemerintah perlu berusaha keras memastikan dilakukannya deteksi dan perawatan dini bagi penderita TB sementara untuk mengendalikan penyakit yang terkait dengannya. Pemerintah juga perlu menganggarkan cukup dana untuk program TB dan mendorongnya dengan komitmen politis. Riset perlu diperkuat untuk memastikan upaya yang dilakukan telah efektif, yang berarti penggunaan secara efektif APBN. Lebih penting lagi, pemerintah perlu memperkecil dampak TB terhadap keadaan keuangan keluarga yang perlu mengeluarkan dana untuk berbagai keperluan dalam rangka berobat. Pengentasan kemiskinan, peningkatan gizi, kondisi hidup, dan kerja yang lebih baik sangat berpengaruh pada upaya mengendalikan TB. Ini semua memerlukan perubahan di masyarakat secara luas.

Cara paling efektif di kawasan ini untuk mengendalikan TB ialah dengan meningkatkan cakupan layanan kesehatan. TB sering menimpa kalangan ekonomi lemah dengan lingkungan yang kurang sehat. Minimnya layanan kesehatan sering membuat TB tidak terdeteksi dan pasien tak mendapat pengobatan yang diperlukan. Peningkatan akses terhadap layanan kesehatan bermutu baik akan meningkatkan kemampuan mencegah, mengobati, dan menghapus TB serta penyakit terkait, misalnya HIV/AIDS.
Keberhasilan pengendalian TB akan berdampak pula pada pertumbuhan ekonomi.

Kelompok masyarakat memiliki peran penting mendukung pemerintah dalam peningkatan layanan kesehatan. Hak anggota masyarakat tertera pada Perjanjian Internasional untuk Hak Sosial, Ekonomi, dan Budaya perlu diterapkan. Perubahan harus berjalan langgeng dan jaminan kesehatan menyeluruh menjadi elemen yang sangat berharga. Kesadaran akan perlunya peningkatan cakupan, pengentasan epidemi TB di kawasan Asia Tenggara, terutama terkait dengan resistensi terhadap obat-juga memerlukan kerja sama antarnegara. Penguatan pencegahan, pengobatan, dan pengendalian TB di seluruh negara berarti membentuk kerangka pengelolaan antarnegara terhadap perawatan dan pengobatan bagi kelompok rentan di setiap bagian kawasan. Ini dapat diraih dengan upaya kolektif semua negara, mengingat penyakit tak kenal batas negara.

Pada Hari TB Sedunia dan awal kerja intensif WHO untuk 'End TB', kita berkesempatan untuk bersama-sama memperbarui resolusi terhadap TB.
Jangan sampai kita kehilangan kesempatan memanfaatkan momentum ini.