Rabu, 27 April 2016

Mencermati Dinamika Harga Minyak Dunia

Mencermati Dinamika Harga Minyak Dunia

Ronny P Sasmita  ;   Analis Ekonomi Politik Internasional Financeroll Indonesia
                                                       HALUAN, 01 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Beberapa waktu lalu, departemen commodity strategy RBC Capital and Global Markets pernah mengungkapkan tentang tiga skenario kemungkinan harga minyak untuk tahun ini, terutama untuk varian WTI.
Pertama adalah skenario bullish di mana terjadi pe­ngu­rangan cadangan minyak yang mencapai 1 juta barel. Kondisi ini diperkirakan bisa me­macu harga minyak bergerak ke kisaran US$ 60 per barel.

Skenario kedua adalah skenario terburuk yang meli­batkan produksi minyak be­sar-besaran dari OPEC, Arab Saudi, Iran dan Libya di pasar minyak dunia, disamping ledakan shale oil dari kawasan Amerika Utara. Tak pelak lagi, hal ini akan menye­babkan harga minyak tergerus kian dalam. Sehingga tak heran jika Golman Sach dan Morgan Stanley membuka kemungkinan prediksi bahwa harga berpeluang merapat ke level US$20 per barel. Dan ketiga adalah skenario lain yakni terciptanya ke­seim­ba­ngan pasar minyak pada paruh kedua 2016.

OPEC pun pada peng­hujung tahun lalu mem­perki­ra­kan harga minyak 2016 akan naik US$ 5 per barel, di­asumsikan ada di level US$ 60 dan di 2020 mencapai US$ 80. Jika diteliti lebih detail, ketika itu OPEC tidak menggunakan kata prediksi, tapi lebih cendrung menyebut angka-angka proyektif terse­but sebagai asumsi yang mere­ka buat dalam publikasi world oil outlook yang dirilis 23 Desember 2015 lalu.

Selain itu, IMF juga mem­buat per­nyataan bahwa harga minyak bisa tercukur US$ 5 – 15 per barel dengan tam­ba­han pro­duksi Iran akibat dicabutnya sangsi embargo ter­hadap minyak Iran oleh Amerika Serikat dan Eropa. Sejatinya, sebelum mengutip secara serampangan proyeksi-proyeksi yang muncul ini, ada baiknya harus dibedakan ter­le­bih dahulu antara pernya­taan “harga minyak berke­mung­kinan bisa menyentuh level tertentu” dan pernyataan “harga minyak rata-rata se­pan­jang tahun akan berada pada kisaran tertentu”.

Kedua pernyataan ini seki­las terkesan sama, tapi secara substansial sangatlah berbeda. Harga bisa saja menyentuh $15-20 per barel dalam tahun ini, tapi belum tentu harga rata-rata sepanjang tahun ini adalah $15-20 per barel. Jika bicara harga akan turun sam­pai level tertentu, maka faktanya setiap hari harga minyak bisa berubah, bahkan bisa saja jatuh dibawah level yang di­per­kirakan. Nah per­ta­nya­annya, berapa lama harga akan berada pada level tersebut?

Dialektika proyeksi harga minyak yang berkembang belakangan memang sangat menarik untuk disimak dan diperdebatkan.  Semua pi­hak punya komentar dan analisa sendiri-sendiri tentang batas bawah (support/ floor price) pergerakan harga mi­nyak untuk tahun ini, lengkap dengan berbagai data fun­da­mental dan kalkulasi-kal­ku­lasi grafis-teknikal. Bahkan pertengahan tahun lalu, ham­pir semua pihak sepakat bah­wa harga tidak akan sanggup menjebol angka $40 per barel. Ada indikasi yang mendukung proyeksi ini ketika itu karena harga minyak sempat mengalami recovery seder­hana, tetapi justru setelah itu harga malah kembali turun hingga ke bawah US$ 40 per barel

Sehingga dunia prediksi dan proyeksi menjadi sema­kin hangat dan menarik, kare­na akan memunculkan teba­kan baru soal floor-price selanjutnya setelah batas psi­ko­logis US$ 30 per barel tembus. Mengapa? Karena faktor kebiasaan pasar saja. Tendensi tebakan akan sama ketika harga minyak cen­derung naik. Secara psikho­logis para pihak akan cenderung menerka ke angka ter­ting­gi mana lagi harga akan bergelayut.

Jadi tidak heran ketika pertengahan tahun 2008 lalu, ketika harga minyak men­capai US$ 140 per barel, banyak pihak yang terbawa lebay, lalu ikut-ikutan mema­sang angka target prediksi di level US$ 200 per barel, bahkan ada yang lebih eks­trim, yakni US$300- 400. Sebagaimana yang sama-sama telah disaksikan, harga terse­but tak pernah tercapai, seka­li­pun untuk level US$ 200. Nah, situasi yang sama ketika har­ga minyak terjun bebas, secara psikologis para analis akan berlomba-lomba untuk memasang tebakan batas ba­wah yang akan dituju oleh harga (floor-price).

Minyak, sebagaimana ko­mo­­ditas lainnya, juga memi­li­ki beberapa faktor sebagai pe­nentu harga. Setidaknya, ber­dasarkan referensi yang ada, terdapat empat faktor yang mempengaruhi harga mi­nyak, yaitu: pasokan (su­p­ply), per­mintaan (demand), pasar (mar­ket), dan per­se­dia­an (inventory). Pasokan akan di­pengaruhi oleh harga mi­nyak, pro­duksi OPEC dan non OPEC, situasi geopolitik, bia­ya aktifitas hulu, kinerja dan perkembangan teknologi dan lain-lain. Sementara itu, faktor permintaan akan dipe­ngaruhi oleh harga minyak, pertum­bu­han ekonomi, trans­portasi, cuaca, efisiensi, energi alter­natif, subsidi, dan lain-lain.

Faktor pasar akan terben­tang diantara pasar minyak yang sesungguhnya (physical mar­ket) dan pasar finansial (pa­per market). Physical mar­­ket bisa dalam bentuk bar­ter, spot, dan kontrak dengan harga yang telah ditetapkan untuk penyerahan ke­mu­dian (forward) serta term contract (kontrak berjangka) yang merupakan mekanisme transaksi perdagangan paling banyak digunakan, yakni kisa­ran 90 – 95 persen dari perda­gangan minyak global.

Sedangkan paper mar­ket adalah dinamika pasar minyak yang terkait dengan penggunaaan komoditas mi­nyak sebagai instrumen deri­vatif di pasar finansial. Pada awal tahun 1990-an, kegiatan di pasar minyak derivatif lebih banyak didorong untuk keper­luan aktivitas lindung nilai (hedging) oleh institusi yang terlibat langsung dengan per­da­gangan minyak.Dengan semakin banyaknya jenis pro­duk di pasar keuangan ini, ditambah prospek untuk mem­peroleh imbal-hasil yang lebih besar, maka terjadi peningkatan transaksi “mi­nyak kertas” di pasar komo­ditas global, bahkan belaka­ngan muncul pula para inves­tor yang sebenarnya tidak ada hubungan langsung dengan aktivitas perminyakan mau­pun aktifitashedging.

Yang tidak terkait lang­sung ini biasanya kerab dise­but dengan spekulan seperti ya­yasan pensiun, yayasan atau perusahaan lain yang menge­lo­la dana (endowment funds), dan lain-lain. Transaksinya di­kenal dengan sebutan tran­sak­si non-commercial oleh com­mo­dity futures trading commission. Imbasnya, harga mi­nyak kemudian tidak hanya di­pengaruhi oleh demand dan supply di pasar fisik, tapi juga oleh dinamika sektor keua­ngan, seperti perubahan su­ku bunga Federal Reserve, peru­ba­han nilai tukar dan lain-lain.

Faktor keempat yang mem­­pengaruhi harga minyak adalah persediaan (inventory). Negara-negara maju yang bergabung dalam IEA mewa­jib­kan anggotanya untuk me­num­puk persediaan. Hal ini dilakukan untuk mengan­tisipasi terputusnya pasokan minyak. Kemudian masing-masing anggota diwajibkan menyimpan persediaan mi­nyak dan produk turunannya, seperti bensin dan diesel setara dengan volume yang diperlukan minimal 90 hari dari net-impor minyak. Nah, kelebihan pasokan bela­ka­ngan ini memiliki arti bahwa level persediaan yang ada di masing-masing negara ang­gota IEA sudah jauh di atas persyaratan minimum 90 ha­ri. Mau tak mau, kondisi ini akan mengirim sinyal kepada pasar yang kemudian akan ikut menggerakan harga un­tuk waktu mendatang.

Pendek kata, dari ketiga skenario diatas dan dinamika faktor-faktor yang mem­pe­ngaruhi harga tersebut, pro­bal­bilitas untuk skenario kedua sangat tinggi. Balapan memompa minyak dari perut bumi antara OPEC dan Amerika sampai hari ini tak ter­ben­dung. Rencana ne­go­siasi pe­ngu­rangan output sekira 5% antara Rusia dan OPEC pun tak jua menuai kepastian. Harga mungkin saja bisa terjun lebih jauh, tapi saya kira, rata-rata pergerakan tahunan masih akan berada pada median US$ 30-40 per barel. Karena jika harga harus diproyeksikan diatas angka median ini, nampaknya dunia belum mem­punyai faktor-faktor pendorong yang cukup. Bah­kan ancaman tergang­gu­nya pasokan akibat ketega­ngan di Timur Tengah pun tak mam­pu mendorong harga ke atas. Lihat saja imbas serangan Irak ke Yaman atau pemu­tusan hubungan diplomatik Sau­di dan Iran, implikasi har­ga yang muncul tercatat sa­ngat kecil, kemudian harga kem­bali meluncur bebas. ●