Jumat, 29 April 2016

Pendidikan Anak-Anak Usia Bermain

Pendidikan Anak-Anak Usia Bermain

Anton Prasetyo  ;   Pendidik di Pontren Nurul Ummah Yogyakarta
                                              MEDIA INDONESIA, 25 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

AKHIR-Akhir ini ada kecenderungan orangtua dan tenaga pengajar pendidikan formal merasa takut mendidik anak-anak mereka sejak dini.Mereka merasa gamang jika upaya mendorong belajar justru mengganggu perkembangan anak-anak karena melewatkan masa perkembangan yang penuh warna.

Akhirnya orangtua dan para guru banyak yang terkesan membiarkan anak-anak menghabiskan waktu untuk bermain. Alhasil, mereka merasa kesulitan mengajari anak-anak saat masuk SD (kisaran usia 7 tahun) untuk membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Padahal, ketiga keterampilan itu merupakan modal dasar yang harus dikuasai agar anakanak berkembang menjadi pribadi berprestasi.

Dalam teori psikologi perkembangan, Jean Piaget beranggapan pada usia di bawah 7 tahun, anak belum mencapai fase operasional konkret, yakni sudah mampu berpikir terstruktur. Padahal, belajar calistung termasuk ke kegiatan yang memerlukan cara berpikir terstruktur.

Dengan begitu, dikhawatirkan otak anak-anak di bawah usia 7 tahun akan terbebani oleh pelajaran calistung. Kesim pulannya, anak-anak di bawah usia TK belum cocok belajar calistung.

Kesimpulan bahwa anak usia TK ke bawah belum cocok belajar calistung sebenarnya sangat ironis dan penuh dengan tanda tanya. Piaget mengungkapkan ketidakcocokan itu bermula dari kekhawatirannya atas ketidaksiapan anak.

Artinya, jika anak-anak tidak terbebani, bukan tidak mungkin Piaget akan memperbolehkan, bahkan menganjurkan anak belajar calistung sejak dini. Di samping itu, ketika calistung baru dikenalkan di kelas 1 SD, itu sama halnya dengan menciptakan beban berat pada anak.

Hal itu bisa terjadi karena di kelas 1 SD anak-anak sudah dituntut menguasai pelajaran yang sangat kompleks di dalam kelas. Padahal, untuk menguasai seluruh pelajaran itu, modal utama yang mesti dikuasai ialah kecakapan membaca dan menulis.

Tahapan belajar membaca dan menulis pun tak dapat dilakukan dengan sekejap mata. Lebih-lebih, kesuksesan belajar membaca juga tak diukur dengan kebiasaan melafalkan teks ke dalam lisan, tapi juga memahaminya.

Belum lagi para pendidik mendapati anak-anak yang sudah terbiasa bermain (baca: nakal atau bandel). Banyak pendidik yang merasa kewalahan menghadapi anak-anak dengan kepribadian semacam itu. Jika itu yang terjadi, justru anak-anak kelas 1 SD bisa merasa tertekan karena dituntut segera bisa membaca tanpa ada persiapan dasar terlebih dahulu.
Puncaknya, anak-anak takut berangkat sekolah karena melihat para guru yang sejatinya ingin mengajari terkesan seperti monster yang siap melumat dirinya, sebab ketidakbisaannya dalam membaca.

Dari situ, para orangtua dan guru anak-anak harus cakap memaknai ungkapan Piaget itu. Jika perlu, para orangtua dan guru anak-anak juga mengenal teori perkembangan yang diungkapkan Montessori.
Montessori yakin dalam tahun-tahun awal, seorang anak mempunyai sensitive periods (masa-masa anak menerima stimulus-stimulus tertentu dengan mudah). Menurutnya, kepekaan belajar menulis pada anak-anak berada dalam rentang usia 3,5¬4,5 tahun dan membaca ialah 4,5¬5,5 tahun.

Secara lengkap, Montessori mengung kapkan anak-anak memiliki masa-masa sensitif, yakni (1) sejak lahir hingga 3 tahun ialah masa penyerapan pengalamanpengalaman sensoris; (2) usia 1,5-3 tahun ialah masa perkembangan bahasa; (3) usia 1,5-4 tahun ialah masa koordinasi dan perkembangan otot, minat pada benda-benda kecil; (4) usia 2-4 tahun ialah masa peneguhan gerakan minat pada kebenaran dan realitas menyadari urutan dalam waktu dan ruang; (5) usia 2,5-6 tahun ialah masa peneguhan sensoris; (6) usia 3-6 tahun ialah masa rawan pengaruh orang dewasa; (7) usia 3,5-4,5 tahun ialah masa sensitif menulis; (8) usia 4-4,5 tahun ialah masa kepekaan indera; dan (9) usia 4,5-5,5 tahun ialah masa sensitif membaca.

Para orangtua dan guru anak anak mesti paham bahwa usia di bawah 7 tahun merupakan masa yang paling berharga, bahkan sering disebut golden age (masa emas). Pada usia 0-6 tahun, otak anak-anak sedang mudah-mudahnya menyerap informasi yang dilihat dan dipelajari sehingga usia itu sebenarnya ialah masa yang sangat tepat untuk belajar calistung.
Hanya, satu hal yang perlu diingat bahwa belajar mem baca dan menulis memerlukan tahapan perkembangan ke mampuan. Di masa golden age, anak-anak sebaiknya diberi keterampilan pendahuluan sehingga akhirnya mahir calistung.

Tahapan belajar yang dapat diberikan kepada anak-anak sebelum belajar calistung ialah mengikuti kelas toddler. Kelas ini bertujuan membiasakan anak bersosialisasi bersama ke lompok serta mengembang kan aspek psikomotorik, afektif, dan kognitif dalam belajar sejak usia dini.

Pada usia 2-3 tahun, anak-anak perlu belajar bersosialisasi dan bermain dengan konsep, belum sepenuhnya belajar. Pada usia 3 tahun, anak anak bisa diperkenalkan warna, angka 1-5, bentuk bentuk datar, segi tiga, dan lain-lain. Pada usia 4 tahun (masuk TK A), anak diperkenalkan nama kendaraan transportasi, nama bagian tubuh, sekolah, kesehatan, pantai, dan laut. Pada usia 5 tahun (masuk TK B), anak anak bisa belajar materi seba gaimana usia 4 tahun, DUTA tapi dengan tingkat kesulitan yang lebih besar.

Setelah kecakapan-kecakapan itu dimiliki anak-anak, tahapan belajar calistung siap diberikan.Perlu digarisbawahi bahwa tahapan-tahapan yang dimulai sejak usia dini itu merupakan rangkaian belajar. Hanya, cara yang digunakan bukan dengan memaksa anak-anak agar langsung memegang buku yang berisi deretan huruf dan angka yang harus dilafalkan.

Anak-anak butuh pendidikan calistung sedini mungkin dengan metode yang tepat. Karena usia anak-anak ialah usia bermain, mereka bisa belajar calistung dengan bermain. Memberikan pendidikan serasa bermain-main inilah yang menjadi pekerjaan rumah (PR) utama paraorang tua dan guru anak-anak.

Pendidikan sejak dini ini sudah banyak terbukti mampu melahirkan generasi-generasi pilihan. Imam Syafii kemungkinan tidak akan menjadi mujtahid besar dan aliran mazhabnya tidak dapat digunakan hingga saat ini manakala dirinya tidak dididik ibunya semenjak belia. Semenjak masih dalam gendongan ibunya, Imam Syafii terus diajarkan menghafal kitab suci Alquran. Dalam usia 7 tahun, Imam Syafii pun berhasil menghafal Alquran dengan baik. Padahal, Alquran terdiri atas 30 juz dengan tiap-tiap juz terdiri atas 20 halaman di dalam musaf standar.

Hanya, yang perlu diingat bahwa pengajaran menghafal Alquran yang dilakukan ibundanya itu sangat menyamankan Imam Syafii kecil. Ibunya selalu membacakan ayat-ayat Alquran dengan metode reading aloud (membaca yang dikeraskan).

Alhasil, dengan modal usia 7 tahun hafal Alquran, pada usia 10 tahun, Imam Syafii sudah menguasai beragam ilmu terkait Alquran dan usia 12 tahun sudah layak memberikan fatwa.

Di Indonesia sendiri, akhir-akhir ini masyarakat Islam dibuat terharu oleh capaian prestasi seorang bocah bernama Musa. Ia merupakan peserta termuda (umur 8 tahun) pada MTQ Internasional di Mesir 2016 dan ditetapkan sebagai juara 3.

Semenjak usia 5,5 tahun, Musa sudah hafal Alquran sebanyak 29 juz. Hafiz cilik kelahiran 2008 itu sebelumnya juga telah menorehkan beberapa prestasi, di antaranya menghafalkan matan-matan hadis penting, seperti kitab Arbain Nawawi.

Prestasi Musa itu tidak dapat dilepaskan dari proses belajarnya semenjak dini. Semenjak usia balita, ia sudah mendapat pendidikan yang ketat dari orangtuanya. Ia dididik orangtuanya agar menghafal Alquran sejak pukul 02.30 hingga malam hari.

Hanya, orangtuanya selalu memberikan waktu bermain kepada Musa setiap harinya. Orangtuanya juga selalu memberikan 1 hari penuh untuk bermain setelah menghafal selama 4 atau 5 hari. Hasilnya, Musa dikenal sebagai anak berprestasi yang ceria.

Sungguh, pendidikan kepada anak-anak harus diberikan sedini mungkin. Di dalam kitab Kasyf adz-Dzunun karya Musthofa bin Abdullah, terdapat pesan Rasulullah SAW, “Utlubul `ilma minal mahdi ila lahdi.“ (Carilah ilmu sejak dari ayunan hingga ke liang lahat).

Dengan demikian, sangat disayangkan ketika orangtua ataupun guru anak-anak merasa takut mendidik anak-anak semenjak dini. Ingat, pesan dalam teori pendidikan modern bukan berarti melarang para orangtua dan guru memberikan pendidikan kepada anak-anak semenjak dini. Justru, anakanak harus diberi pendidikan sedini mungkin dengan metode yang dapat diterima anak.

Diharapkan, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi berprestasi tanpa harus kehilangan masa-masa bahagia di usia dini. Wallahualam.