Rabu, 27 April 2016

Tan Malaka dan Kesombongan Bangsa

Tan Malaka dan Kesombongan Bangsa

Riduan Situmorang  ;   Pegiat Literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Medan;
Pengajar Bidang Studi Bahasa Indonesia di Prosus Inten
                                                        HALUAN, 11 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Meski tak berhak disebut sebagai sastrawan atau budayawan, tetapi sebagai pegiat kebudayaan, saya termasuk salah satu dari banyak orang yang sangat cemas dan gerah ketika baru-baru ini pertunjukan mengenai kisah hidup Tan Malaka dilarang. Yang dicemaskan bukan semata Tan Malaka dengan beribu semangatnya, tetapi kesombongan kita sehingga tidak lagi mau mengenang salah satu pahlawan bangsa.

Padahal, kitalah orang yang dulunya dengan gegap gempita menerima dan bah­kan mengimani sabda bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.

Tan Malaka memang tak henti-hentinya dibahas. Hing­ga detik ini! Segala puji selalu digelorakan, tetapi seketika itu pula beribu-ribu hujat berhamburan. Dan, Tan Mala­ka benar ketika suatu kali dia berkata, 
“Ingatlah bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.” Terbukti sekarang! Meski Tan Malaka sudah bertahun-tahun diincar para pemburu sekelas intelijen Inggris, Amerika, Belanda, dan akhirnya tewas di tangan bangsanya sendiri, suaranya masih saja mengaum keras.

Dia bahkan seperti kem­bali berteriak untuk mengu­langi pidatonya pada rapat pertama Persatuan Perjua­ngan, yaitu “Orang tak akan berunding dengan maling di rumahnya.” Benar, Tan Mal­aka memang tak ada duanya dan sangat antikompromi dengan para maling. Nyawa­nya boleh ditebas, tetapi se­ma­ngat­nya bagaikan nyala-nyala lidah api yang tak per­nah padam. Dia berjuang dan murni untuk berjuang. Tanpa imbalan dan kompromi, teru­tama kepada maling, entah itu di rumah orang lain, terutama di rumahnya sendiri.

Salah Persepsi

Maka itu, tak berlebihan jika Asep Salahuddin menga­takan bahwa kalau ada manu­sia pergerakan yang meng­habiskan seluruh usia untuk Indonesia yang diimpikan­nya, dia adalah Tan Malaka. Seandainya ada the founding father yang tidak pernah men­ci­cipi manisnya takhta kekuasaan, lagi-lagi dia adalah Ibra­him Datuk Tan Malaka. Bah­kan boleh jadi dari sekian kaum pejuang yang riwayat hidupnya paling tragis, lagi-lagi itu pasti merujuk Tan Malaka. Dialah “Sang Rubah Me­rah” yang akan terus ma­rah ketika bangsanya selalu gelisah.

Tetapi, kita seakan salah persepsi. Kemarahan dan kedalaman berpikir dari Tan Malaka menjadi sesuatu me­muak­kan bagi kita. Kita se­per­ti kalah berunding dengan Tan Malaka di rumahnya. Maka itu, meski kita menganut mazhab bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pahlawannya, kita nyata-nyata tidak meng­hormati pahlawan.

Jangankan menghormati, kita justru seakan tak cukup puas dengan membunuh, teta­pi harus ditambahkan lagi dengan melupakan dan bah­kan menghilangkannya dari ingatan bangsa. Benarlah apa yang kemudian dikatakan oleh Harry Poeze dengan judul bukunya: Verguisd en Vergeten yang artinya Difitnah dan Dilupakan. Fitnah itu adalah ketika dia disebut sebagai pemberontak, disebut sebagai pembangkang, dise­but sebagai antiagama.

Padahal, Tan Malaka ada­lah orang yang sangat religius. Hamka, misalnya, sang pu­jang­ga besar dalam salah pengantar satu buku legendarisnya menyebutkan bahwa Islam sejalan dan secorak dengan pergerakan sosial modern yang digelorakan Al Ustadz Tan Malaka. Hanya memang, Tan Malaka adalah orang yang tak mau mencam­puradukkan agama dengan perjuangan. Perjuangan, ya, perjuangan dan agama, ya, agama.

Dan, Tan Malaka sudah barang tentu bukan pem­bangkang, apalagi pemberon­tak, seperti yang dituduhkan di atas. Kecintaannya pada Indonesia melebihi penge­ta­hu­an kita tentang Indonesia. Bo­­­leh dibilang, bentuk negara ki­­­ta yang sekarang berasal da­ri imajinasi dan pemikirannya. Maka itu, Moham­mad Ya­min menyebutnya seba­gai “Bapak Republik In­do­nesia”. Imaji ke­in­do­­ne­­­siaan itu per­ta­ma ka­­li muncul da­lam risalah Naar­ ­de Re­­pu­bliek In­do­­ne­sia (1924).

Dilihat da­­ri segi per­ge­­­rakan, tulisan ini mendahului berdirinya Perhimpoenan In­­donesia (1925). Ini bah­­kan ditulis sebelum Hatta menuliskan Indo­nesia Vrij (1928), sebelum Soekarno menyampaikan Menuju Indonesia Merdeka (1933), dan sebelum kaum muda bersatu melalui Sumpah Pemuda (1928). Ide spketakuler ini ditulis juga ketika dia masih di penga­singan. Kita tahu, hidup Tan Malaka berada banyak dalam pengasingan dan pemburuan sebelum akhirnya kembali ke negeri impiannya dan akhir­nya dibunuh oleh saudara sebangsanya sendiri.

Sekali lagi, Tan Malaka bukan pembangkang, apalagi pemberontak. Moh Yamin mengakui bahwa beliau ada­lah serupa Jefferson Washing­ton yang merancang Repu­blik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai, atau serupa Rizal Bonifacio meramalkan Filipina sebe­lum revolusi di negara itu pecah. Tan Malaka adalah pohon yang melahirkan tunas-tunas pergerakan. Pohon itu mengakar dan semakin me­ngakar di nadi kita.

Akan tetapi, kita adalah bangsa yang bebal. Kita ada­lah bangsa yang selalu ber­kom­promi ketika ada kesu­litan. Kita adalah bangsa yang berunding dengan kejahatan, bahkan di rumah kita sendiri. Kita adalah pohon yang lupa pada akarnya. Maka, ber­munculanlah koalisi bengis dari penguasa dan pengusaha. UU dibuat menjadi alat lega­lisasi bisnis, bukan sebagai alat kontrol.

Hanya Alibi

Orang miskin semakin ter­pinggirkan dan orang kaya se­makin kaya. Perbudakan mo­dern, serupa yang dialami Tan Malaka di perkebunan pun terjadi. Penjajahan juga ter­ulang. Bahkan lebih tragis ka­rena kita harus ditindih oleh penguasa kita sendiri dan di­jajah oleh bangsa sen­diri. Ironisnya, kita tak merasa ter­jajah. Kita justru merasa me­nang ketika berkompromi. Pa­dahal, kom­promi adalah ben­tuk ke­kalahan dan ketakutan.

Bahkan, manakala kom­promi itu diberlakukan akan inisiatif kedekilan, kita tidak hanya takut dan kalah, tetapi sudah hampir mati. Tetapi, dengan sombong, kita tidak mengakuinya. Kita justru memamerkan daging kita, padahal, di baliknya hanya ada onggokan tulang yang rapuh. Saya curiga, sikap kita yang selalu mengalibikan dan bahkan menghilangkan Tan Malaka adalah bentuk keta­kutan kita. Kita takut pada bangsa penjajah sehingga ha­rus berlindung dengan koalisi bengis. Kita takut tulang keropos kita kelihatan sehing­ga harus bersembunyi di balik daging kesombongan.

Atau, yang lebih mungkin, kita takut jika suatu saat nanti kita tidak lagi dapat menjajah. Sebab kalau tak menjajah, kita tak dapat hidup. Kita hanya hidup dari penjajahan, dan ironisnya, penjajahan itu ada­lah terhadap bangsa kita. Kita hidup dari hasil keringat budak-budak bangsa kita. Maka itu, ketika dentuman suara Tan Malaka mulai deras mengalir, kita marah. Marah sebagaimana bangsa kolo­nialis menghantam pada bapak pendiri bangsa. Marah karena takut akan segera kehilangan sumber kehi­du­pan. Marah lebih-lebih jika bangsa kita sadar sedang dijajah hanya karena mendengar suara emas Tan Malaka.

Ya, kita adalah bangsa penjajah. Tak ada bedanya dengan kolonialis. Jika kolo­nialis membawa senjata, kita juga membawa pentungan. Dan bahkan lebih hebat lagi karena itu dilakukan dengan menggunakan polisi kita sendiri sebagai alatnya. Polisi tak lagi menjadi pengayom pergerakan. Polisi dan segala bentuk lainnya sudah menjadi semacam alat agar rakyat nyaman untuk dijajah.

Para pengagum Tan Ma­laka tak berdaya. Jumlah mereka tak seberapa. Maka itu, ketika mereka melafazkan teriakan-teriakan Tan Malaka, mereka langsung diusir, disi­sir. Mereka tak mustahil kini menjadi incaran negara. Se­dikit saja bergerak lagi, maka akan kembali ditembak oleh saudaranya sendiri seperti yang dilakukan pada Tan Malaka. Memang, pada akhir­nya, predikat pahlawan sudah disematkan pada Tan Malaka.

Tetapi, apalah gunanya itu ka­lau tidak untuk dikenang dan pemikirannya diapli­ka­si­kan. Saya justru curiga, pre­di­kat pahlawan yang dibe­ri­kan kepada Tan Malaka se­rupa ge­lar yang diberikan pada bu­dak-budak bangsa yang acap kita sebut pah­lawan devisa. Kita menyebut mere­ka pah­la­wan, tetapi kita men­ja­di­kannya menjadi tum­bal. Kita memberi gelar itu hanya alibi agar kita bisa bersom­bong-sombong dan semakin leluasa menjajah. Sungguh miris! ●