Jumat, 22 April 2016

Narasi Perempuan di Linimasa

Narasi Perempuan di Linimasa

Okky Madasari ;  Novelis; Novel kelimanya, Kerumunan Terakhir, terbit Mei 2016
                                                       JAWA POS, 21 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

INI tahun 2016. Masa di mana hampir semua orang sudah memiliki telepon genggam. Masa di mana orang-orang seusia saya yang biasa disebut sebagai generasi millennial atau generasi Y sudah terhubung satu sama lain melalui Facebook dan Twitter.

Masa di mana perempuan bisa mengungkapkan pikiran-pikirannya dengan hanya memainkan jempol. Mulai isu politik hingga soal makanan anak. Dari soal pekerjaan sampai soal kecantikan.

Kita hidup di zaman mutakhir. Dan, pada masa ini pula, kita masih akan mendapati perdebatan di layar Facebook dan Twitter tentang mana yang lebih baik: perempuan yang bekerja atau perempuan yang menjadi ibu rumah tangga? Pe¬rempuan yang memakai jilbab syari atau berpakaian seksi?

Perempuan yang memakai rok atau mengenakan celana jins? Perempuan yang menikah atau memilih lajang seumur hidup? Perempuan yang begini atau begitu? Dan sederet perdebatan lain tentang perempuan. Tentang bagaimana seharusnya menjadi perempuan.

Segala dalih dan dalil dikemukakan. Mulai ayat kitab suci, pepatah nenek moyang, kutipan dari buku-buku, hingga omongan pejabat dan ustad-ustad. Konten-konten yang menjadikan perempuan sebagai objek yang harus diatur untuk menjadi begini dan begitu tak berhenti diproduksi.
Hilir mudik setiap hari. Mulai yang panjangnya 140 karakter di Twitter, status di Facebook, hingga tulisan panjang di blog dan media-media lainnya.

Mulai zaman Adam dan Hawa hingga zaman media sosial bangunan imaji atas sosok perempuan selalu menjadi medan pertempuran. Berbagai narasi dibuat untuk mengatur perempuan. Mulai kisah di kitab suci, dongeng yang dikisahkan turun-temurun, buku agama, hingga karya sastra, dan kini konten-konten yang diproduksi di internet.

Kekuasaan agama melahirkan teks-teks kitab suci yang menjadi pedoman bagaimana seharusnya menjadi perempuan. Bahkan, dalam kisah yang pertama hadir di dunia tentang turunnya Adam dan Hawa, perempuan dihadirkan sebagai sosok penggoda yang mengakibatkan Adam melakukan hal yang dilarang Tuhan.

Beratus tahun kemudian, ada seorang laki-laki tampan bernama Yusuf yang digandrungi begitu banyak perempuan. Semua berebut ingin menarik perhatian dia, tak terkecuali ibu angkatnya.

Dia pun dituduh memerkosa ibu angkatnya. Padahal, ibu angkatnya itulah yang terus merayu dan mengajak dia bercengkerama.

Narasi tuduhan pemerkosaan Yusuf itu pun akhirnya menjadi model cerita yang terus dikembangkan setiap ada laporan pemerkosaan hingga hari ini. ''Suka sama suka'' atau ''perempuannya yang merayu terus'' menjadi suara umum dalam masyarakat kita setiap ada laporan pemerkosaan.

Di Indonesia hari ini, kita bisa melihat begitu banyak buku yang menjadikan dirinya sebagai representasi kekuasaan agama. Karya-karya berlabel islami dan religi mendominasi toko-toko buku.

Karya-karya seperti ini menggambarkan perempuan sebagai sosok yang menutup aurat, penurut, berbakti kepada suami, dan mau dipoligami. Melalui kisah di novel, perempuan diberi pengetahuan cara berbusana sesuai dengan aturan agama, cara memperlakukan suami, hukum perkawinan, hukum bergaul, dan sebagainya.

Melalui novel, perempuan diberi pengetahuan yang sesungguhnya hanya merupakan cara kekuasaan untuk mengontrol dan mengatur perempuan sesuai dengan keinginan mereka.

Lihat saja bagaimana Ayat-Ayat Cinta, novel yang laku keras dan mendapat perhatian besar dalam masyarakat itu, menggambarkan perempuan. Fahri seorang laki-laki yang digilai banyak perempuan. Dia menikah dengan Aisha, perempuan cantik berjilbab dan bercadar, yang kelak mendorong suaminya menikah lagi dengan Maria.

Sementara itu, ada satu sosok perempuan yang membuat pengakuan palsu bahwa dia diperkosa Fahri. Bukankah itu semua adalah narasi yang lahir dari imajinasi patriarki?

Karya ini mendorong lahirnya karya-karya lain yang sejenis. Kepentingan patriarki yang menggunakan agama untuk mengendalikan tubuh, pikiran, dan imajinasi perempuan bertemu dengan logika pasar.

Karya-karya semacam itu laku keras, salah satu di antaranya karena ada yang berpikir dengan membaca novel berlabel islami, me¬reka melakukan hal mulia dan mendapat pahala. Terlebih jika kisah yang dihadirkan mampu membuat pembaca terbuai dan larut dalam cerita sehingga akhirnya merasa terhibur.

Di zaman teknologi seperti ini, konten bisa diciptakan dengan mudah oleh siapa pun. Mulai ustad hingga yang hanya mengaku ustad. Mulai penulis buku hingga penulis status media sosial.

Dengan sekali klik pula, setiap konten bisa disebarkan. Menjadi viral di mana-mana, dibaca oleh banyak orang, memengaruhi pi¬kiran, dan tak jarang mengintimidasi banyak orang, terutama para perempuan.

Bayangkan situasi seorang perempuan bekerja yang menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor harus terus-menerus membaca serangkaian twit dan tulisan yang mendiskreditkan perempuan bekerja dengan mengutip berbagai dalil agama.

Ironisnya, hal seperti itu juga terus diamini dan disebarkan ulang oleh banyak perempuan. Hingga akhirnya menciptakan permusuhan di antara sesama perempuan sendiri.

Buku-buku yang lahir dari konten-konten seperti itu juga terus diterbitkan dan terjual laris sehingga mendorong banyak orang untuk menulis hal serupa. Perempuan senantiasa dijadikan pasar. Mulai produk hingga narasi dan pemikiran. Mulai twit hingga buku.

Dari zaman Kartini sampai hari ini, perjuangan untuk kesetaraan perempuan adalah pertarungan untuk melawan narasi-narasi utama yang dibentuk kekuasaan patriarki dalam politik, agama, dan adat istiadat. Dan bagi kita, para millennial, pertarungan itu bisa dimulai di linimasa dan buku-buku yang kita baca. ●