Sabtu, 23 April 2016

Harap Cemas kepada Ahok

Harap Cemas kepada Ahok

Jannus TH Siahaan ;  Analis Kemasyarakatan
                                                   KORAN SINDO, 22 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dulu, ketika penulis masih usia anak-anak, pola bermain dan berbahasa kami memiliki ruang. Ruang ini dibangun di atas nilai-nilai luhur. Anak-anak dengan mudah menjadikan ruang itu sebagai pola bermain dan berbahasa.

Cara bertutur antaranggota keluarga sangat berpengaruh terhadap mereka. Karena terbiasa bertutur dengan benar dan baik di dalam keluarga, lingkungan jadi ruang besar pengejawantahan nilai keluarga di luar ruangan. Di sekolah, jalan, warung, pasar, sungai, di pos-pos RT dan RW, serta di banyak tempat bertemu para anggota masyarakat, lebih-lebih di rumah-rumah ibadah, kita akan temukan pola berbahasa dalam pergaulan berjalan dengan baik dan benar.

Penggunaan cara berbahasa yang benar dan baik, berkontribusi terhadap terjaganya harmoni sosial. Angka kriminalitas rendah, angka perceraian bisa ditekan, angka pertengkaran juga tidak tinggi. Anak-anak sekarang gemar tawuran karena belajar dari cara berbahasa dan bertutur yang tidak benar. Mereka saling serang secara verbal. Saling caci, saling maki, saling hina, dan saling menyakiti.

Ujung-ujungnya bertengkar. Nyawa anak-anak kita melayang sering hanya karena kata-kata kotor. Kita tak bisa berkilah, tidak apa-apa mereka berkata kotor asal pemberani. Alasan yang sangat tidak bisa dibenarkan. Tak apa-apa “ngomong” kotor asal antikorupsi. Alamak! Dulu, para guru yang berdiri di depan kelas, kehadirannya terasa ada di mana-mana. Sikap anak didik di luar sekolah, mudah terpantau karena jaring pengikat sosial masih kuat. Apa sebab? Salah satunya karena cara bertutur antar anggota masyarakat masih terjaga dengan baik.

Para pemimpin pada setiap tingkatan mengambil peran sangat signifikan. Pak Harto (Soeharto, presiden RI ke-2), dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dikenal sebagai penutur bahasa yang santun. Nyaris selalu tersenyum. Sangat irit kata-kata. Mendelegasikan urusan penjelasan kebijakan pemerintah kepada orang yang bertugas untuk itu. Kalau dicek di berbagai keterangan, baik di televisi, koran, majalah atau radio, kita akan kesulitan mendapati Pak Harto marah-marah apalagi mengumpat.

Bung Karno, meski dikenal orator berkelas internasional, rada flamboyan, menguasai banyak bahasa asing, namun saat bertutur, jauh dari kasar apalagi kotor. Karena caranya berbahasa baik dan menyenangkan, pidato Bung Karno selalu menyentuh dinding terdalam kesadaran bangsanya. Kalau tidak karena itu, Bung Karno diragukan tak akan berhasil mempersatukan bangsa yang “Bhinneka Tunggal Ika”. Bahasa pula yang mengantarkan kita bersatu pada masa-masa awal perjuangan mendirikan negeri tercinta. Maka lahirlah Soempah Pemoeda. Sumpah tentang bagaimana berbahasa dengan baik.

BJ Habibie berbicara berapi-api penuh semangat, pintar dan bijak memilih kata-kata. Meski yang dijelaskan soal-soal teknis kedirgantaraan yang rumit, tetapi karena pembawaan serta cara berbahasa yang santun, Pak Habibie mampu menghipnotis siapa saja lawan bicaranya. Tanyakan kepada anak-anak, terutama pada masanya, mereka semua ingin jadi seperti Habibie. Pembuat burung besi kebanggaan bangsa Indonesia.

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah contoh lainnya. Selain karena ilmunya yang mumpuni, beliau dikenal sebagai budayawan, ulama, diplomat, penyair, penulis, dan aktivis LSM. Kendati dikenal suka blakblakan dalam berbicara, Gus Dur tetap mampu bertutur dengan manis, bahkan penuh humor. Selain karena jenaka, cara Gus Dur menyampaikan pesan-pesan moral selalu menyenangkan dan menyentuh. Intinya adalah bagaimana menyentuh hati setiap anak manusia.

Megawati lain lagi. Dikenal teguh pendirian bahkan sedikit kaku dan dingin untuk hal-hal yang baginya prinsip. Tetapi ketika berbicara di hadapan kadernya, terutama di kandang banteng, suaranya menggelegar. Tapi jangan harap kita temukan beliau berbicara kasar, apalagi kotor. Tanyakan orang terdekat di lingkaran terdalamnya, Ibu Mega selalu berkata-kata santun. Kalau tidak suka dan tidak setuju atas suatu hal, ia akan diam. Bukan mengumpat! Itulah beberapa nama dan teladan bagi kita tentang cara bertutur dengan baik dan benar.

Apakah mereka manusia sempurna? Tentu saja tidak, Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, dan Bu Mega adalah manusia biasa. Punya kelebihan dan juga kekurangan. Tetapi cara mereka memimpin bangsanya untuk merdeka, membangun, keluar dari krisis, selamat dari demokrasi totaliter menuju reformasi, adalah berkah teladan yang baik. Mereka adalah prototype, blueprint, danframe yang sangat mungkin dijadikan pola berbahasa bagi anak bangsanya.

Karena kuatnya pengaruh tokoh-tokoh ini di sebagian besar masyarakat, figuritas mereka telah menjelma nilai dan norma. Sungguh elok jika para pemimpin saat ini, pada semua tingkatan, untuk tidak melupakan para guru bangsa dalam cara bertutur dan berbahasa. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), sudah memulai. Perspektif baru dalam memimpin. Ia menggunakan banyak cara untuk menjadi pemimpin yang baik dan benar. Karena ketegasan dan keberaniannya, banyak pihak di lingkungan kerjanya terhenyak.

Beberapa orang menjadi korban kebijakannya dalam memimpin. Beberapa orang digeser, beberapa lainnya dicopot. Banyak yang berharap kepadanya. Salahkah ini? Masih bisa didiskusikan.

Yang tidak bisa dibenarkan adalah caranya berbicara, bertutur, dan berbahasa. Cenderung kasar dan kotor. Kecenderungan negatif inilah yang tak pernah kita temukan di beberapa dasawarsa lalu, ketika Penulis masih anakanak. Tentu semua orang khawatir cara bertutur dan berbahasa Ahok menular dan ditiru oleh anak-anak kita.

Sungguh demi Tuhan! Kita takut anak-anak kita belajar memaki kita, ayah bundanya, kakak adiknya, om dan tantenya, guru-guru di sekolah dan tempat les, orang di jalan, mal, warung, di kendaraan umum hingga rumah ibadah. Terlebih, Tuhan sudah menurunkan kitab-kitab suci. Kitab yang berisi tentang firman-firman-Nya yang adiluhung, agung dan penuh kesantunan.

Kalau dalam diri manusia terkandung nilai-nilai ilahiah, sudah sepantasnya kita bertutur dan berbahasa sebagaimana Tuhan berbahasa. Sebagaimana para nabi berbahasa. Sebagaimana para santo bertutur. Hidup dan kehidupan akan jauh lebih mudah dan damai dengan bahasa yang santun. ●