Sabtu, 23 April 2016

Pemegang Tongkat Estafet RA Kartini

Pemegang Tongkat Estafet RA Kartini

Esthi Susanti Hudiono ;  Aktivis “Perempuan dan Anak” yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Indonesia Membangun Bangsa
                                                       JAWA POS, 22 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

R.A Kartini adalah pembaru abad ke-20 dengan mengusung nilai kesetaraan, keadilan, dan pluralisme di Indonesia. Nilai-nilai perubahan yang diusung mengikuti perubahan nilai yang terjadi di Eropa, terutama Belanda.

Dia menjadi tokoh yang hadir dalam perubahan zaman yang bergerak. Nilai-nilai itu difokuskan dengan membuka ruang selebar-lebarnya untuk pendidikan anak perempuan. Nilai yang diperjuangkan telah terealisasi dalam kebijakan nasional serta terus berproses dalam kehidupan sosial dan budaya saat ini.

Abad ke-21 mensuntut perubahan yang berbeda. Saya sebagai salah satu pemegang tongkat estafet Kartini melihat pentingnya merumuskan agenda perubahan yang relevan. Nilai persamaan, keadilan, dan pluralisme telah terinternalisasi dalam diri banyak perempuan, termasuk saya.

Lalu, pertanyaannya, setelah perempuan berposisi setara dan mendapatkan keadilannya, apa yang hendak dicapai?

Tentu bukan semata kemajuan berhenti pada dirinya. Lantas apa? Melihat konteks internasional dan Indonesia, menurut saya, ada dua nilai penting sebagai kelanjutan nilai yang diperjuangkan Kartini. Yaitu, keberlangsungan dan kerja sama gender.

Keberlanjutan

Karena itu, saatnya kita memikirkan keberlanjutan generasi penerus yang unggul. Bonus demografi yang dilihat sebagai peluang Indonesia untuk menjadi bangsa besar akan menjadi ancaman kalau kita tidak mempersiapkan generasi penerus.

Ancaman meluasnya kriminalitas dan pelacuran dari tren yang terjadi saat ini bukanlah isapan jempol. Untuk mendapatkan generasi penerus yang unggul, berbagai ancaman nyata mereka hadapi. Mulai pornografi, seks dini dan bebas, penelantaran anak, pola asuh yang salah, narkoba, hingga kekerasan seksual yang dipicu media sosial dan lain-lain. Belum lagi dampak dari semua itu, yakni aborsi, pembunuhan janin, anak di luar nikah, HIV, hingga infeksi menular seksual.

Pemerintah, masyarakat sipil, dan orang tua belum mengantisipasi semua masalah itu dengan layak. Kalau itu tidak segera diatasi, dampaknya akan kita lihat nanti dalam bentuk peningkatan kriminalitas, penganggur, dan pelacuran.

Keberlanjutan generasi penerus yang unggul harus menjadi misi setiap orang tua. Abad ke-21 yang melahirkan generasi X dan Y yang berbeda sama sekali dengan generasi baby boomer membawa konsekuensi bahwa anak-anak harus dididik secara berbeda. Jiwa entrepreneur, inovasi, dan kreativitas yang akan membuat anak-anak bisa bertahan serta berkembang pada zaman ini.

Karena itu, ibu maupun bapak harus meluangkan waktu untuk memberikan bekal layak yang diperlukan kepada anak-anaknya. Untuk itu, orang tua harus memiliki misi bagi anak-anaknya agar potensi bisa teraktualisasi.

Dunia pendidikan dan media massa berada di depan, membantu para orang tua untuk mewujudkan keberlanjutan generasi penerus yang hebat. Karena itu, isu keberlanjutan dan mekanisme pencapaiannya harus dikampanyekan dan diinternalisa¬sikan terus-menerus.

Kerja Sama Gender

Nilai penting lainnya dalam membangun generasi penerus yang unggul adalah kerja sama antara perempuan dan laki-laki. Semangat bersaing antargender yang berbeda sudah saatnya dipinggirkan. Ruang publik yang terbuka untuk perempuan melahirkan suasana persaingan, yang tentu bisa berdampak pada kehidupan privat.

Selain itu, pembagian kerja perempuan dan laki-laki dalam rumah tangga perlu direvisi. Selama ini, perempuan diposisikan untuk melakukan pengasuhan anak dan laki-laki ditempatkan untuk melakukan peran publik. Pembagian kerja seperti itu harus direvisi. Pengasuhan anak menjadi tanggung jawab ibu dan bapak.

Hal itu terbukti dalam berbagai riset yang ada tentang dampak dari pengasuhan bapak. Bapak yang terlibat dalam pengasuhan anak melahirkan anak yang tangguh dengan kepercayaan diri tinggi. Dampak absennya bapak dalam peng¬asuhan akan membuat anak lemah. Sebab, terjadi gangguan emosi yang membuat anak kurang mampu menghadapi stres.

Relevan dengan Semangat Zaman

Semangat zaman ini mengutamakan nilai keberlangsungan di bidang usaha, sumber daya alam, budaya, dan lain-lain. Di luar urusan keluarga, isu keberlangsungan telah dibahas terus-menerus di dunia usaha dan lingkungan. Sayang, kita belum bicara soal keberlangsungan generasi penerus yang unggul.

Keberlangsungan generasi penerus yang hebat sekalipun, terutama, menjadi tanggung jawab orang tua. Namun, harus ada yang membuka kesadaran dan mendampingi orang tua. Menjadi orang tua zaman sekarang tidak bisa mengandalkan naluri dan contoh dari orang tuanya dulu. Karena itu, pendidikan orang tua harus digalakkan dalam kerangka pendampingan. Sekolah dan masyarakat juga harus inovatif, selaras mengembangkan nilai keberlangsungan generasi yang akan datang dengan membuat program-program yang sesuai.

Begitu juga semangat kerja sama, menjadi aspek yang akan membuat orang bisa bertahan dan berkembang pada abad ke-21 ini. Kemampuan untuk bisa bekerja dalam tim telah dibahas di dimensi lain. Namun, kerja sama gender antara laki-laki dan perempuan di ranah domestik maupun privat belum dibahas. Karena itu, saatnya kita membahas kerja sama laki-laki dan perempuan untuk generasi penerus. ●