Senin, 25 April 2016

Malnutrisi

Malnutrisi

Samuel Mulia  ;   Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                        KOMPAS, 24 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saya duduk di sebuah warung es yang menghadap kali kecil dengan pohon petai cina yang sudah bongkok tak kuasa menahan terpaan angin setiap hari. Hari itu, tak seperti biasanya, daun dan batangnya sampai menyentuh air kali. Ia seperti sedang menghadapi ajalnya. Langit di atas gelap gulita, tanda hujan sebentar lagi akan turun.

Egois

Warung es di tepi kali itu sudah sejak lama berdiri. Mungkin separuh umur saya. Siang itu ada empat orang sedang bercakap-cakap. Tiga orang pemilik warung dan seorang teman dekat mereka yang sedang berkunjung. Sedang saya dan seorang teman menjadi pembelinya, menyeruput setiap sendok es berwarna merah muda itu dengan lahap.

Tak lama setelah saya duduk, tamu pemilik warung pamit untuk pulang. "Mesti jemput anakku," katanya. Baru saja wanita tua itu meninggalkan tempat, dan hilang di belokan, salah satu pemilik warung mulai bercerita tentang wanita tua itu. Saya sebagai pembeli yang memiliki kuping seperti penyadap menyimak dengan baik sambil menyeruput es yang nyaris kandas.

Dalam hati saya tertawa geli. Saya itu punya kebiasaan yang sama, kalau teman atau klien atau siapa saja baru meninggalkan tempat pertemuan, saya bisa langsung membicarakan mereka. Ya kebaikannya, tanpa melupakan keburukannya yang lebih mak nyus untuk menjadi bahan obrolan.

"Kasihan dia," kata salah satu wanita pemilik warung berambut pendek dengan mulutnya yang bawel dan air mukanya yang kelihatan galak. "Lama menikah ndak punya anak terus dikirim ke Eropa. Pulang dari sana punya anak dua. Setelah ada anak, suaminya minta cerai. Kasihan mesti besarin anak-anaknya sendiri sampai sekarang."

"Suami, kok, ya egois banget. Waktu belum punya anak ndak dicerai, setelah punya anak ya begitu," jelasnya dengan suara yang keras sehingga warung kecil itu hanya dipenuhi dengan ceritanya.

Mendengar sebuah kata egois, saya seperti tersengat listrik. Sisa cerita wanita itu sudah tak bisa menarik hati saya lagi. Kata egois itu sungguh kuat terdengar, mungkin seperti tiupan angin kencang yang mampu membengkokkan petai cina sampai menyentuh bibir sungai.

Lucunya, satu hari sebelum peristiwa di warung itu, saya dikatakan egois secara tidak langsung oleh teman saya gara-gara saya mengirim pesan kepadanya untuk menanyakan nomor telepon teman kami yang tinggal di Surabaya. "Elo tu cuma kirim pesan kalau ada perlunya aja." Setelah percakapan dalam pesan itu, ia tetap tak memberikan nomer telepon yang saya minta.

Kelaparan

Sejujurnya saya memang egois, sungguh saya menyadari itu. Jadi, saya tak tersinggung mendapat jawaban seperti itu dan tak mendapatkan nomor telepon yang saya inginkan, padahal saya sedang sangat membutuhkan nomor telepon teman di Surabaya itu.

Saya belum pernah berkunjung untuk melakukan pemeriksaan jiwa, untuk mengetahui atau mencari akar mengapa saya, kok, bisa menjadi manusia yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Kalau batuk atau jantung berdetak lebih kencang dari semestinya, saya langsung ke dokter. Saya ingin tahu apa penyebabnya.

Tetapi untuk urusan jiwa, saya tak pernah terpikir untuk melakukan tindakan yang sama. Padahal, egois itu sudah bertahun lamanya bercokol. Yaa. seyogianya saya memeriksakan mengapa sampai terjadi, bukan? La wong kalau batuk saja langsung diobati karena cukup mengganggu.

"Kamu berobat untuk batukmu karena itu sudah mengganggu dirimu. Kalau egoismu itu kenapa gak diobati, karena itu tidak mengganggu dirimu, dan nggak kepikiran kalau itu mengganggu orang lain. Memang dasar egois," demikian saudara-saudari suara nurani yang tiba-tiba menikam.

Maka, sebelum saya memeriksakan kesehatan jiwa, saya memeriksa diri sendiri. Saya melihat kembali pada bagaimana kondisi keluarga saya di masa kecil dahulu. Kami bukan datang dari keluarga yang mapan. Sejak awal ayah berjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mungkin saya merasa, sebagai anak, saya kekurangan dibandingkan teman-teman saya yang keluarganya sungguh kaya raya.

Saya kelaparan finansial, kemudian timbul iri hati sebagai bentuk sebuah kelaparan emosional. Mau menyalahkan orangtua, kok jadi orangtua miskin, tentunya tidak bisa. Mau menyalahkan kehidupan yang katanya adil, tetapi bisa tidak adil, makin tidak bisa. Sehingga sekarang kalau saya egois, itu karena memenuhi rasa lapar yang bertahun lamanya itu, yang tak saya sadari telah membuat saya malnutrisi.

Karena saya kelaparan, maka saya harus berhemat. Sehingga persediaan tidak habis kalau dibagi. Maka penghematan itu saya lakukan sampai sekarang. Kebiasaan menghemat yang kemudian menjadikan saya sebuah pribadi yang oleh orang lain diberi predikat egois. Karena orang seperti saya ini tak akan pernah merasa egois, karena berpikir bahwa tidak berbagi itu menyelamatkan hidup saya. Saya harus memikirkan diri saya dahulu, sebelum saya kelaparan lagi.

Mumpung hari Minggu, semoga Anda tidak terlalu sibuk, cobalah periksa kesehatan Anda. Apakah Anda malnutrisi sejak dahulu seperti saya atau malah kelebihan sehingga predikat yang saya dapati juga Anda miliki. Semoga setelah pemeriksaan diri sendiri, Anda dan saya memiliki hidup yang baru. Berani memberi dan tak takut kelaparan lagi. ●