Selasa, 26 April 2016

Sesat Pikir

Sesat Pikir

Sarlito Wirawan Sarwono  ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
                                                   KORAN SINDO, 24 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Coba simak argumentasi (bahasa filsafatnya: silogisme) seperti ini, “Semua manusia perlu makan, Sarlito perlu makan; jadi Sarlito adalah manusia.” Benar atau salah? Salah! Mau buktinya? Mari kita ganti kata “manusia” misalnya dengan kata “kuda nil”.

Jadi argumentasinya berubah menjadi seperti ini, “Semua kuda nil perlu makan, Sarlito perlu makan; jadi Sarlito adalah kuda nil.” Salah, kan? Padahaltidakada yang salah dalam premis (alasan) yang dijadikan dasar argumentasi. Manusia, kuda nil maupun Sarlito, semua perlu makan. Mengapa dalam argumentasi pertama kesimpulannya benar, tetapi dalam argumentasi kedua kesimpulannya bisa salah?

Ini yangdalamfilsafat logikadisebut “sesat pikir”, yaitu kesalahan dalam membuat keputusan. Penjelasan dari sesat pikir dalam contoh di atas lumayan rumit dan membutuhkan satu mata kuliah senilai 3 SKS. Pasalnya sesat pikir yang satu ini disebabkan pelanggaran salah satu dari delapan hukum silogisme yang memang tidak mudah untuk dijelaskan sampai orang mengerti. Tapi sesat pikir tidak harus karena pelanggaran hukum silogisme, melainkan bisa juga karena premis yang salah.

Contohnya, “Semua yang hidup di laut adalah ikan, paus hidup di laut; jadi paus adalah ikan.” Betul? Salah lagi! Tapi kali ini kesalahan terletak pada premisnya, yaitu bahwa tidak semua yang hidup di laut adalah ikan. Selain ikan yang bernapas dengan insang, banyak hewan lain yang juga hidup di laut, termasuk mamalia yang bernapas dengan paru-paru. Paus bernapas denganparu-paru, jadi dia termasuk mamalia, bukan ikan.

Tapi orang awam tetap menyebutnya “ikan” paus. Demikian juga dengan ikan lumba-lumba yang sebetulnya mamalia (segolongan dengan Sarlito dan kuda nil), tetapi tidak ada hubungannya dengan ikan (seperti tuna, bandeng, gurami atau salmon). Untuk mengatasi sesat pikir karena kesalahan informasi ini, diperlukan ilmu pengetahuan.

Hanya ilmu pengetahuan yang bisa membedakan antara ikan dan mamalia karena ilmu pengetahuan tidak berhenti pada apa yang teramati saja, melainkan mencari tahu sampai tuntas segala hal yang ada di balik yang teramati. Walau begitu sampai hari ini masih saja lebih banyak yang percaya bahwa paus itu ikan, bukan mamalia.

Namun lebih dahsyat lagi adalah apa yang disebut teori Dunia Datar (Flat Earth theory) yang dikemukakan seorang rohaniwan Yunani bernama Cosmas, pada abad keenam, yang berargumentasi bahwa dunia ini rata seperti nampan yang terbang di langit yang dikelilingi lautan dan Yerusalem sebagai pusatnya dengan matahari yang mengelilingi bumi.

Teori ini kemudian dijadikan ajaran dalam agama Kristen dengan sebutan Peta Dunia Kristen (Christian Topography) dan dipercaya umat selama berabad-abad. Namun pada abad ke-16 ada seorang rohaniwan bernama Copernicus yang mengajukan teori Heliosentris, yaitu bumilah yang mengitari matahari, bukan sebaliknya.

Sayang Copernicus wafat pada waktu bukunya dipublikasikan, tetapi penelitiannya dilanjutkan oleh rohaniwan abad ke-16 bernama Galileo Galilei yang menyatakan bumi ini bulat dan mengelilingi matahari. Sebagai dampaknya, Galileo dikucilkan dari gereja dan baru direhabilitasi namanya setelah (kalau saya tidak salah) 300 tahun. Jadi penguasa pun bisa menjadi sumber sesat pikir, bahkan untuk membela pikirannya yang sesaat itu, penguasa bisa menggunakan kekuasaannya.

Dalam salah satu salat Jumat, kebetulan saya mendengarkan khatib yang mengemukakan “teori” bahwa toilet laki-laki yang biasa ada di toilet-toilet umum (yang digunakan dengan cara berdiri) adalah ciptaan orang Yahudi. Alasannya, kata beliau, toilet seperti itu pasti menyebabkan pipis kita (semua yang salat Jumat laki-laki) bisa muncrat ke kanan-kiri dan mengotori celana kita sehingga kita tidak suci dalam bersalat, akibatnya kita semua tidak ada yang bisa masuk surga.

Itulah memang tujuan Yahudi, yaitu mencegah muslim masuk surga (selanjutnya dia kutip ayat tentang Yahudi dan Kristen yang senantiasa ingin melihat hancurnya Islam). Jadi yang benar, kata beliau, adalah kalau kita menggunakan toilet duduk atau jongkok seperti toilet yang digunakan para perempuan.

Tentu saja khatib yang satu ini tidak mewakili khatib-khatib lain pada umumnya. Bisa juga dia agen toilet yang rangkap pekerjaan sebagai khatib. Tapi yang berbahaya adalah jika kata-katanya itu dipercaya orang (padahal orang Indonesia cepat percaya). Padahal kalau kita mau kritis sedikit saja, pendapat khatib itu gampang untuk dipatahkan.

Misalnya, siapa nama Yahudi pencipta toilet itu? Yang namanya mencipta harus oleh seorang, tidak bisa oleh seluruh bangsa. Kalaupun sudah diketahui siapa Yahudi pencipta toilet, tidak otomatis bisa digeneralisasi ke semua Yahudi. Einstein juga Yahudi, tetapi temuannya di bidang ilmu fisika telah membawa kemaslahatan buat seluruh umat, termasuk yang muslim. Jadi, yang penting itu adalah berpikir kritis sehingga kita tidak sesat pikir.

Masalahnya, sekarang ini di media massa maupun media sosial, banyak sekali orang yang ngomong-nya asal saja, salah, sesat pikir, bahkan sengaja menyesatkan pikiran orang lain. Termasuk para pakar, profesor, mantan menteri, bahkan juga menteri yang masih aktif dan seterusnya. Acara-acara dialog interaktif di TV dan radio diisi oleh orang-orang awam, yang ikut berpendapat, padahal tidak punya data sama sekali.

WA dan/atau SMS dipenuhi dengan hoax yang langsung disebarluaskan tanpa mengecek kesahihannya dulu. Kalau orang Indonesia tidak mau belajar kritis, sesat pikir akan merajalela dan semua orang kebingungan karena tidak ada lagi yang bisa dipercaya. Akibatnya adalah masyarakat yang chaos, yang menurut sosiolog Merton disebut sebagai masyarakat anomie. ●