Jumat, 29 April 2016

Reklamasi Solusi Jakarta

Reklamasi Solusi Jakarta

Firdaus Ali  ;   Dosen dan Peneliti Teknik Lingkungan FTUI;
Pendiri dan Pimpinan Indonesia Water Institute
                                              MEDIA INDONESIA, 27 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SEBAGAI kota metropolitan, Ibu Kota NKRI, yaitu DKI Jakarta sedang menghadapi permasalahan serius terkait dengan daya tampung dan daya dukung lingkungan. Kondisi daya dukung ruang di Ibu Kota terus menurun tajam sejalan dengan beban populasi yang semakin tinggi. Sementara, pengelolaan masalah perkotaan di Ibu Kota tidak dilakukan dengan baik selama ini. Beban populasi nyata kota sudah mencapai 12,5 juta jiwa lebih pada luas wilayah daratan 662 km2.

Beban populasi yang sangat tinggi dengan keterbatasan lahan dan ruang ialah tantangan besar yang dihadapi Jakarta untuk mewujudkan ibu kota yang berkualitas. Keterbatasan kelengkapan infrastruktur pendukung telah menyebabkan Jakarta tumbuh menjadi kota metropolitan yang sarat dengan berbagai permasalahan lingkungan.

Pada saat bersamaan, wilayah pantura Ibu kota sedang dihadapkan pada ancaman naiknya permukaan air laut sebagai dampak dari fenomena pemanasan global. Hasil simulasi Tim Geodesi dan Geologi ITB serta Indonesia Water Institute pada 2012 lalu, jika tidak ada upaya signifikan untuk mengendalikan laju turun muka tanah di Jakarta, diperkirakan pada 2050, sekitar 95% wilayah Jakarta Utara akan berada di bawah permukaan air laut. Tentunya kerugian ekonomi dan biaya sosial yang ditimbulkan akan semakin masif.

Reklamasi pantura Jakarta

Sebagai dampak dari buruknya tata kelola lingkungan, Teluk Jakarta terus mengalami penurunan kualitas lingkungan yang sangat serius dalam hampir 4 dekade terakhir. Tidak saja, itu tertinggal dalam pelayanan air bersih/minum perpipaan. Jakarta hingga saat ini belum memiliki sistem pengelolaan limbah cair perkotaan sebagaimana lazimnya sebuah kota modern sehingga hampir sebagian besar limbah perkotaan yang tidak diolah berakhir di kawasan Teluk Jakarta yang akhirnya menimbulkan kehancuran ekologi masif pada ekosistem Teluk Jakarta.

Sudah saatnya penanganan masalah perkotaan Jakarta yang secara geografis merupakan kota pinggir pantai dilakukan secara menyeluruh, terpadu, dan berkelanjutan dengan mengedepankan terobosan. Dalam aspek pengembangan ruang dan kawasan, untuk bisa menambah daya tampung dan daya dukung ruang serta lingkungan, opsi yang tersisa hanyalah optimalisasi lahan ke depan, yaitu ke kawasan pantura Jakarta yang dalam hal ini aialah Teluk Jakarta.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah melakukan reklamasi, yang merupakan pembentukan kawasan daratan baru, baik di wilayah pesisir maupun di tengah lautan. Hal ini bertujuan menjadikan kawasan yang rusak atau yang belum dimanfaatkan secara maksimal dapat lebih berguna menjadi suatu kawasan yang memiliki nilai fungsional. Baik dari segi ekonomi maupun untuk tujuan strategis lainnya, dengan tetap mengedepankan aspek keberlanjutan lingkungannya.

Pelaksanaan reklamasi tentunya memiliki ketentuan ataupun kebijakan yang harus diperhatikan, untuk mengantisipasi dampak negatif dari kegiatan reklamasi tersebut. Adapun dampak negatif yang mungkin muncul, di antaranya berupa dampak fisik, biologi, sosial, dan ekonomi.

Dampak fisik yang harus diantisipasi, di antaranya perubahan hidro-oseanografi, sedimentasi, dan peningkatan potensi banjir, sedangkan dampak biologi, antara lain terganggunya ekosistem bakau dan terumbu karang. Hilangnya wilayah tangkapan hasil laut yang dapat berimbas pada penurunan pendapatan petani tambak, nelayan, dan buruh ialah bagian dari dampak sosial dan ekonomi yang harus diantisipasi dengan cerdas.

Solusi masalah ibu kota

Belajar dari pengalaman banyak negara yang sukses melakukan reklamasi kawasan pantainya, hal-hal yang berpotensi memberikan dampak buruk terhadap lingkungan dapat diantisipasi dan dikelola dengan baik. Dengan kemajuan iptek, kemampuan manusia untuk memahami dan mengelola alam dan lingkungan semakin meningkat.

Tidak bisa dibantah bahwa perkembangan teknologi dengan perencanaan serta pengawasan yang baik semakin mampu mewujudkan reklamasi yang ramah lingkungan. Di sisi lain, adanya kegiatan reklamasi juga akan membawa peluang ekonomi baru dengan segala turunannya yang juga membuka peluang perbaikan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat pesisir tradisional melalui suatu perencanaan terpadu. Reklamasi di Teluk Jakarta bisa dikatakan pilihan terbaik untuk mengatasi problem Ibu Kota yang multidimensional. Tak hanya untuk melakukan restorasi ekologis, penambahan ruang darat kota juga bisa untuk mengendalikan tingkat kepadatan di Ibu Kota.

Reklamasi juga akan merevitalisasi wilayah utara Jakarta yang elevasinya relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan wilayah lainnya di Jakarta. Meningkatnya kualitas wilayah di bagian utara berpotensi untuk meredistribusi sebaran penduduk Jakarta dari daerah-daerah resapan air, seperti di selatan Jakarta, ke wilayah yang tingkat kepadatan penduduk relatif lebih rendah, dalam hal ini di wilayah utara Jakarta. Reklamasi merupakan suatu keniscayaan akhir-akhir ini dan di masa yang akan datang. Kita dapat belajar dari keberhasilan reklamasi di Teluk Tokyo, Osaka, Shanghai, Dubai, Singapura, dll. Reklamasi bisa menjadi solusi pengembangan ruang dengan menitikberatkan pada fungsi dan rekayasa lingkungan yang berkelanjutan.

Dengan melihat arah pembangunan DKI Jakarta yang saat ini diarahkan ke barat, timur, dan utara, akan butuh pengembangan sekaligus optimalisasi pemanfaatan ruang, dalam hal ini terutama Teluk Jakarta.

Keseluruhan lahan yang nantinya terbentuk akan berupa pulau-pulau baru di lingkungan Teluk Jakarta yang direncanakan mencapai sekitar 5.200 ha dan akan menjadi ikon pembangunan Kota Metropolitan Jakarta yang berbasiskan daya dukung dan daya tampung lingkungan, khususnya terhadap badan air yang merupakan amenitis kota-kota maju dan modern dewasa ini.

Pulau-pulau baru hasil reklamasi yang dirancang menjadi bagian dari rencana pengelolaan lingkungan terpadu dan berkelanjutan kawasan Teluk Jakarta juga merupakan etalase Indonesia dalam upaya penanganan permasalahan lingkungan perkotaan pinggir pantai yang terpadu sehingga menunjukkan pembangunan metropolitan yang berkelanjutan serta mampu mengantisipasi tantangan peradaban ke depan.

Jika direncanakan dan dilaksanakan dengan baik melibatkan seluruh pemangku kepentingan, tentunya reklamasi dapat menghasilkan ruang binaan baru dari hasil rekayasa dan juga menciptakan kawasan Water Front City modern yang menyatukan aspek kelautan/bahari yang ramah lingkungan. Dengan melihat bahwa reklamasi merupakan sebuah kegiatan pembangunan yang sangat besar, dibutuhkan juga perencanaan dan penelitian terkait dengan kegiatan itu.

Rencana Pemprov DKI Jakarta untuk menata ulang dalam rangka reklamasi/restorasi kawasan Teluk Jakarta ialah pilihan yang tepat. Perbedaan pandang dan pendapat yang ada, jika disikapi dengan bijak akan menghasilkan rancang bangun reklamasi Teluk Jakarta yang optimal dan ramah lingkungan. Ekosistem baru yang direncanakan harus jauh lebih baik dari sebelumnya. Nelayan yang selama ini 'terpaksa' mencari nafkah di kawasan yang sudah rusak ekosistemnya harus mendapat prioritas perbaikan nasib dengan adanya reklamasi Teluk Jakarta ini.