Minggu, 07 Februari 2016

Teror Pendidikan Musik

Teror Pendidikan Musik

Citra Aryandari  ;   Etnomusikolog; Pengajar Institut Seni Indonesia Yogyakarta
                                                     KOMPAS, 06 Februari 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Musik dipercaya sebagai media yang mampu merangsang pertumbuhan otak kiri manusia. Wajar bila kemudian lembaga pendidikan musik formal dan nonformal menjamur di kota-kota besar.

Stigma bahwa anak harus mengenyam pendidikan musik sejak dini menjadi orientasi yang dianggap terbaik bagi orangtua masa kini.  Pendidikan musik nonformal yang menjamur di Indonesia biasanya menawarkan sejumlah program dengan membagi usia anak didik. Pengenalan musik usia dini, misalnya pada anak usia 2-3 tahun dijanjikan memicu peningkatan kecerdasan. Anak usia 4-6 tahun diharapkan mampu mengenal do-re-mi. Anak usia selanjutnya mulai dengan instrumen pilihan individual yang mengejar grade atau tingkatan keterampilan.

Di Indonesia, pendidikan musik untuk anak cukup diminati para orangtua dengan kondisi ekonomi menengah ke atas. Biaya pendidikan yang cukup mahal  mau tak mau membuat kelas sosial tersendiri.  Tren dan gengsi  tak jarang turut menghiasi tujuan utama para orangtua memberi pendidikan musik kepada anak- anaknya. Belajar musik di Indonesia kebanyakan hanya mengikuti gelombang zaman atau hobi, jarang yang  memilih menjadi pilihan hidup.

Pilihan hidup menjadi seorang musisi dinilai masih belum menjadi cita-cita favorit anak-anak Indonesia. Dokter dan insinyur tetap pilihan utama. Jika kita menilik sekolah kejuruan musik dan pendidikan tinggi musik di Indonesia, kebanyakan siswa mereka berlatar anak musisi atau anak yang tak diterima di sekolah umum atau perguruan tinggi dalam bidang ilmu lainnya.

Ini ironis, menimbang pendidikan musik yang awalnya dipercaya dapat meningkatkan kecerdasan otak pada akhirnya hanya menjadi pilihan pelarian. Terlebih mengingat biaya yang cukup mahal meneror kantong para orangtua. Sudah membayar mahal ternyata hanya terseret tren sesaat.

Berbeda dengan pendidikan musik di Taiwan. Riset yang berjudul West Meets East: The Meaning and Study of Western Classical Music in Taiwan (Dr Pan Li-ming)  disampaikan dalam simposium Royal Music Association yang bertajuk "Intercultural Transfer in Music" di Singapura, beberapa waktu lalu, menyatakan bahwa  masyarakat  Taiwan menganggap anak perempuan yang mampu memainkan musik klasik adalah aset berharga.

Maka, menjadi kewajiban memberikan pendidikan musik klasik yang terbaik meski harus dengan berutang. Dikatakan sebuah aset karena anak perempuan denganketerampilan musik klasik yang baik akan dipinang lelaki berprofesi dokter atau pengacara. Artinya, ini akan menaikkan derajat atau strata kehidupan keluarga mereka.

Di setiap ruang

Pendidikan musik memiliki makna tersendiri di setiap ruang. Di Indonesia masyarakat masih terjebak pada penawaran kapital yang menggiurkan. Tren dan gengsi masih menjadi teror dalam memilih yang terbaik untuk anak. Mengutip pernyataan musikolog Erie Setiawan, pendidikan musik di Indonesia berbasis tren dan gengsi menjadikan anak-anak pinter main musik, tetapi belum tentu memiliki jiwa baik, karakter unggul, mentalitas, dan jiwa kepemimpinan.

Artinya, seorang anak yang belajar musik di lembaga pendidikan musik-baik formal maupun nonformal-rupanya sekadar mengasah kemampuan motoriknya. Anak piawai memencet tuts piano atau menggesek violin, tetapi jiwa dan emosi musiknya tak terasah. Ini berseberangan dengan harapan yang disebutkan di awal tulisan ini bahwa musik mampu menggenjot level kecerdasan anak.

Jika ditarik ke ranah sempit hubungan anak dan keluarga, ini ironis karena anak belajar dan bermain musik hanya untuk memenuhi tuntutan orangtua. Anak tak mampu memainkan musik karena jiwanya tidak musikal. Ditarik ke ranah yang lebih luas, misalnya kenegaraan atau kebangsaan, anak-anak jebolan pendidikan musik ini tak bisa memberi faedah pemikiran atau ide untuk bangsa karena musik yang dimainkan sekadar bentuk musik tanpa emosi.

Setelah menyelesaikan pendidikan musik akhirnya anak-anak ini harus ikut arus musik kapital yang mapan. Malang nian, sudah belajar musik karena teror tren dan gengsi orangtuanya, setelah menyelesaikan studi musiknya harus ikut meneror masyarakat penikmat musik dengan sajian musik berbasis kapital yang tak mementingkan estetika, dan rasa musik yang bagus.

Di ranah tradisi ada model pembelajaran musik yang patut diadaptasi: Bali. Masyarakat Bali memaknai musik tak hanya sebagai laku kesenian, tetapi juga laku spiritual. Maka, anak-anak belajar karawitan tidak karena paksaan orangtua, tetapi mereka menyadari sejak usia dini bahwa karawitan adalah bentuk kesenian dan laku spiritual yang penting bagi kehidupan. Hasilnya, musik tradisi karawitan Bali bisa hidup berkesinambungan, dirayakan sebagai laku spiritual mendukung berbagai upacara keagamaan, sekaligus juga mampu menyumbang nominal yang tak sedikit saat dihadirkan dalam ranah pariwisata. Musisi bisa menjadi pilihan mata pencaharian yang tak kalah gengsi dengan pekerjaan di ranah nonkesenian, seperti dokter atau pengacara.

Sudah saatnya para orangtua di Indonesia memaknai musik secara lebih luas dan menganjurkan anaknya belajar musik di lembaga pendidikan musik bukan hanya demi gengsi. Para orangtua harus memberi tawaran yang bisa dibicarakan dengan anak apakah anak memang mau belajar musik dengan benar agar anak ikhlas belajar musik. Akhirnya anak bisa menjadi musisi yang bahagia.

Para orangtua yang takut dengan teror mahalnya biaya pendidikan musik dapat mencari pilihan lain di luar lembaga formal. Toh mudah dijumpai komunitas atau perkumpulan musik tertentu dengan semangat kolektif yang tak mematok biaya karena bertujuan belajar musik bersama.

Ini saatnya pendidikan dan pedagogi musik memikirkan strategi pembelajaran musik yang lebih relevan dengan semangat kekinian anak-anak yang tumbuh di zaman sekarang. Anak-anak belajar musik tidak dalam suasana teror; mereka mampu jadi musisi dengan karya yang berfaedah bagi khalayak luas penikmat musik, bukan menghadirkan teror.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar