Senin, 08 Februari 2016

Bahagia Hidup Melajang?

Bahagia Hidup Melajang?

Agustine Dwiputri  ;   Penulis Kolom “Konsultasi Psikologi” Kompas Minggu
                                                     KOMPAS, 07 Februari 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Menjelang peringatan Valentine, saya suka merasa sedih dan malu dengan kelajangan saya. Saya selalu berpikir betapa bahagianya mereka yang mempunyai pasangan, bisa terus menjalin hubungan dan saling berbagi. Di lain waktu, saya sebenarnya juga sering menikmati kesendirian saya. Bagaimana pandangan Ibu tentang keadaan saya ini, termasuk wajarkah? Bagaimana supaya saya bisa merasa lebih bahagia? Terima kasih. (Sinta, 45 tahun).

Dari beberapa studi yang saya baca sejak belasan tahun yang lalu sampai sekarang, terungkap bahwa orang-orang berstatus lajang menjalani hidup yang bahagia. Kualitas kebahagiaan responden lajang, menurut para peneliti, sama dengan kebahagiaan mereka yang telah berpasangan dan memiliki keluarga. Penelitian itu menyebutkan, status hubungan tidak berkaitan dengan kualitas kebahagiaan. Bahkan, beberapa orang yang melajang hingga usia tua justru memiliki kehidupan sosial yang lebih baik dengan teman-teman serta tetangganya.

Namun, peneliti mengatakan, untuk menjaga hati dan kehidupan terus nyaman dan bahagia, Anda harus pandai memilih teman dan orang di sekeliling Anda. Sebagian besar responden yang masih melajang memang mengatakan punya sahabat yang menyenangkan dan kehangatan dari dukungan keluarganya. Mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk memberi serta menerima bantuan dari orang lain.

Hasil penelitian itu bisa saja tidak menggambarkan seluruh perasaan individu yang melajang. Perasaan yang dirasakan oleh Sinta juga mewakili perasaan cukup banyak orang yang hidup tanpa pasangan.

Penyebab tidak bahagia

Noah Elkrief mengatakan, banyak orang yakin bahwa berada dalam suatu relasi adalah kunci menuju kebahagiaan. Jika Anda mengajukan pertanyaan ”Bagaimana menjadi bahagia sebagai lajang?”, itu hampir pasti karena Anda percaya bahwa ”Berada dalam suatu relasi adalah kunci menuju kebahagiaan”. Keyakinan ini juga dapat muncul sebagai ”Anda harus berada dalam suatu relasi”, ”Anda akan bahagia jika Anda menikah”, ”hidup tidak berarti jika Anda tidak memiliki seseorang untuk berbagi dengannya”, dan semacamnya. Pertanyaan demikian menyiratkan bahwa lebih sulit untuk menjadi bahagia jika Anda tidak berada dalam suatu relasi.

Ketika Anda percaya bahwa hubungan (atau cinta) adalah kunci menuju kebahagiaan, dan Anda tidak berada dalam hubungan (atau tidak dicintai), maka secara otomatis Anda akan percaya bahwa hidup Anda tidak cukup baik. Anda secara tidak sadar (atau sadar) membandingkan hidup Anda pada ide tentang kehidupan yang ”sempurna”. Ketika hidup Anda tidak cocok dengan ide yang ”sempurna” itu, secara tidak sadar Anda memutuskan hal-hal lainnya tidaklah cukup baik. Anda mulai merasa kurang dan seolah-olah ada sesuatu yang hilang dalam hidup Anda.

Noah Elkrief memberikan sebuah ilustrasi: Ketika Anda sedang menonton sebuah film komedi/laga dan sepenuhnya tenggelam dalam film, apakah Anda merasa tak bahagia sebagai lajang? Tentu saja tidak. Mengapa? Sebab, di saat Anda memberikan perhatian penuh pada film itu, Anda tidak berpikir tentang betapa buruknya menjadi lajang. Ketika Anda melakukan sesuatu yang Anda sukai, seperti masuk kelas yoga, berolahraga, menari, bermain dengan anak-anak Anda, bergaul dengan teman-teman, apakah Anda tidak bahagia dengan kelajangan? Tentu tidak bukan. Ini disebabkan Anda teralihkan dari pikiran-pikiran yang mengklaim hidup Anda tidak cukup baik.

Jika menjadi lajang secara nyata menciptakan ketidakbahagiaan dan perasaan kekurangan, Anda akan dipaksa untuk merasa kurang dan tidak bahagia di setiap saat Anda adalah lajang. Tetapi, jika semua yang diperlukan untuk menghentikan perasaan kurang dan tidak bahagia adalah dengan hanya mengalihkan perhatian Anda dari pikiran Anda, maka jelas bahwa perasaan kekurangan dan ketidakbahagiaan pasti diciptakan oleh pikiran.

Kemudian, luangkan waktu untuk mengatakan kepada diri sendiri beberapa pemikiran berikut. ”Hidupku tidak berarti apa-apa jika tidak menemukan seseorang yang mencintai saya”, ”Saya tidak akan pernah bahagia jika saya tidak menikah”.

Bagaimana perasaan Anda ketika mengatakan semua cerita itu kepada diri sendiri? Tidak bahagia? Sedih? Takut? Padahal, semenit yang lalu, sebelum Anda bercerita dalam pikiran Anda, perasaan tersebut tidak ada. Namun, begitu Anda mulai memberikan perhatian pada cerita-cerita tadi, perasaan itu muncul. Jika berbagai emosi itu muncul segera setelah pikiran muncul, berarti berbagai pikiran pasti menciptakan berbagai emosi.

Menjadi bahagia hidup melajang?

Jawabannya adalah dengan menemukan bahwa suatu relasi tidak dapat membuat Anda bahagia. Cara untuk menjadi bahagia adalah dengan memikirkan bahwa hidup Anda saat ini tidak ”lebih buruk” dari kehidupan yang ”sempurna”. Dengan kata lain, Anda harus menemukan bahwa hidup yang ”sempurna” ini tidak sama sempurnanya seperti yang Anda pikirkan itu. Kemudian, Anda tidak akan lagi memutuskan bahwa hidup Anda tidak cukup baik, dan akan berhenti menciptakan perasaan kekurangan dan ketidakbahagiaan.

Apakah relasi, cinta, atau pernikahan menciptakan kebahagiaan? Jika benar demikian, maka setiap orang yang memiliki semua itu akan bahagia. Kenyataannya di mana-mana tingkat perceraian meningkat. Oleh karena itu, pernikahan dan persahabatan itu sendiri jelas tidak menciptakan kebahagiaan.

Jika Anda berpikir bahwa kebahagiaan Anda bergantung pada hubungan, maka tentu saja Anda akan takut kehilangan hubungan. Anda pasti akan terus mencari jaminan bahwa Anda masih mencintai pasangan Anda. Anda ingin mereka menunjukkan apresiasi, memberi tahu bahwa mereka mencintai Anda, menghubungi Anda, dan sebagainya hanya untuk terus meningkatkan dan menegaskan kembali cinta mereka untuk Anda karena Anda tidak pernah bisa tahu pasti bahwa mereka masih mencintai Anda.

Menyadari bahwa berada dalam sebuah relasi tidak bisa membuat Anda bahagia akan menghilangkan rasa malu dan kekurangan tentang menjadi seorang yang lajang, tetapi masih akan ada banyak pikiran lain yang membuat Anda tidak bahagia dalam hidup. Oleh karena itu, untuk benar-benar menjawab pertanyaan ”Bagaimana saya bisa menjadi bahagia sebagai lajang?”, jawabannya adalah dengan cara yang sama untuk membuat diri bahagia ketika berada dalam suatu relasi, yaitu dengan menghilangkan pikiran-pikiran yang membuat Anda tidak bahagia.

Anda harus mulai dengan mengidentifikasi pikiran-pikiran yang membuat Anda tidak bahagia. Setelah Anda melakukan itu, pastikan bahwa pikiran tersebut tidak benar. Ketika Anda berhenti memercayai suatu pikiran, pikiran itu akan berhenti menciptakan emosi.

Dalam suatu relasi, Anda perlu memeriksa pikiran-pikiran yang membuat Anda tidak bahagia. Hal yang sama berlaku pada Anda yang lajang. Yang benar adalah Anda tidak mengikuti pikiran Anda, sendirian tidak membuat Anda tidak bahagia. Anda sudah berada dalam keadaan baik-baik saja. Satu-satunya hal yang membuat Anda tidak bahagia adalah karena mengikuti berbagai cerita negatif dalam pikiran Anda.

Selamat mengubah pikiran negatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar