Jumat, 20 Maret 2015

Nihilisme ISIS Berkedok Agama

Nihilisme ISIS Berkedok Agama

Amanda Adiwijaya  ;  Lulusan  International Biblical  College Yerusalem
KORAN JAKARTA, 19 Maret 2015

                                                                                                                                     
                                                                                                                                                           

Sejak tragedi 11 September 2001 yang menewaskan  3.000 jiwa, Amerika Serikat (AS) melancarkan perang global melawan  terorisme  dan sekutunya. Al Qaeda yang dipimpin  Osama  bin Laden  menjadi sasaran utama. Meski pada Mei 2011, Osama berhasil ditewaskan, terorisme tidak  terkubur. Justru kini dunia menghadapi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang disebut-disebut lebih besar dan berbahaya dari Al Qaeda.

ISIS  sudah dirintis sejak 1999 oleh Abu  Musab al-Zarqawi dengan membangun kamp pelatihan militer di Kandahar Afghanistan dan  mendirikan ”Jund al –Sham (pasukan Syam). Pada 2006, Zarqawi sebagai pimpinan Al Qaeda Irak (AQI)  dibunuh AS. Di bawah penerusnya, Abu Ayyub al-Masri, AQI merger dengan lima kelompok lain dan membentuk Majlis Shura al-Mujahideen. Mereka inilah yang melahirkan ISIS.

Pada April 2013, ISIS di bawah kendali Abu Bakr al-Baghdadi yang pada 10 Juni 2014  memproklamasikan "kekhilafahan Islam" di wilayah yang mereka  kuasai di Irak dan Suriah. Proklamasi ISIS  disampaikan dalam lima bahasa guna mengundang para jihadis seluruh dunia. ISIS memang merindukan kejayaan kekhalifahan Islam.

Bila menengok sejarah, setelah empat khalifah pertama yang menggantikan Nabi Muhammad, kekhalifahan mencapai masa keemasan pada masa dinasti Umayah tahun 661-750, dan  dinasti Abbasiyah, 750-1517. Kekhalifahan dihapuskan tahun 1924 setelah kekaisaran Ottoman runtuh.

Berbeda dengan  kekhalifahan  era kejayaan Islam yang berspirit Islam  ”rahmatan lil alamin,” ISIS menjadikan  brutalitas dan kekejaman  sebagai karakter. Pemenggalan kepala, yang  di-upload di Youtube menjadi modus teror terbaru.

Contoh  video pemenggalan wartawan  Global Post James Foley yang digorok sampai enam kali pada bulan Agustus 2014. Demikian juga  wartawan Jepang, Kenjo Goto  pada awal Februari 2015. Yang terbaru adalah pekerja kemanusiaan Jerman Kayla Jean Mueller.

Kekhalifahan di era kejayaan Islam juga menghargai kaum minoritas, sehingga keberadaan nonmuslim dilindungi dan dihargai. Kafilah Al Makmun (830), misalnya, pernah minta Hunain bin Ishaq, seorang tabib Kristen,  mengoordinasi proyek penerjemahan risalah-risalah dari bahasa Aram, Pahlavi, dan Yunani ke dalam bahasa Arab.

Sayang kekalifahan baru  ISIS,  sangat antikeberagaman, sehingga kaum minoritas kian tertindas. Akhir Februari lalu, misalnya, kaum  militan ISIS telah menyerang 11 desa etnis Asiria yang beragama Kristen di provinsi al-Hasakah dan menculik 220 orang. Mereka dibawa dan disandera di pegunungan Abd al-Asiz. 

Madawi Al-Rasheed, profesor isu Timur Tengah di Universitas London School of Economics, mengatakan, warga Kristen di Suriah dan Irak amat ditindas  ISIS. Sekitar setengah juta warga Kristen Irak dan Suriah mengungsi ke Lebanon, Yordania, atau  negara lain.

Pertengahan Januari lalu, 21 pekerja asal Mesir di Libia yang kebetulan beragama Kristen Koptik, juga  dipenggal  ISIS di kota Darna, Libia Timur. Pemerintah Mesir langsung merespons lewat  serangan udara.

Minoritas lain juga menderita seperti kaum  Syiah atau Yazidi di daerah-daerah yang dikuasai ISIS juga sangat menderita. Demikian pula  penduduk Kurdi, yang tesebar di perbatasan Irak, Suriah dan Turki juga amat menderita. Namun warga  Kurdi berani melawan ISIS.

Kesatuan Pembebasan Rakyat atau  Peshmerga (Kurdi dari Irak)  dan Partiya Kerkeren Kurdistan (Kurdi  Turki,  didirikan 1974 oleh Abdoelah Ocalan) dan  Partai Buruh Kurdi juga memerangi ISIS. Total  yang ambil bagian mencapai  9.000 pejuang Kurdi.

Sikap Gereja Katolik, diwakili  Uskup Agung Tomasi. Katanya,   yang dibutuhkan  koalisi terkoordinasi  dan terencana dengan baik untuk melakukan segala yang mungkin demi  mencapai solusi politis, tanpa kekerasan.

Kebiadaban  ISIS  memang sudah melampaui batas. Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj saja menyebut ISIS lebih sadis dari Al Qaeda. Memang kita diliputi pertanyaan mengapa   ISIS  bergitu biadab.  Orang memang bisa mengaji  ini dari berbagai sudut pandang. Mungkin benar  pendapat Thomas Hobbes bahwa manusia merupakan serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Malah Robert Ardrey dalam bukunya  African Genesis menyatakan,  manusia adalah binatang buas yang naluri alamiahnya  membunuh dengan senjata. Pendapat Hobbes  atau Ardrey seolah cocok dengan aksi-aksi ISIS.

Berbagai Penjuru

Yang mencengangkan, ISIS mengaitkan perjuanganya dengan agama. Banyak kalangan menyebut terorisme yang dibawa ISIS adalah sebentuk nihilisme yang memperalat agama. Nihilisme merupakan pemikiran yang banyak dikaitkan dengan  Friedrich Nietzsche atau Martin Heidegger. Singkatnya, nihilisme menegaskan, hidup ini tanpa tujuan.

ISIS melihat keagamaan   sebagai pemahaman agama yang buta.  Dalam jargon Ludwig Wittgenstein,  kebutaan keagamaan merupakan kebutaan yang tak beragama.

Tak heran aksi biadab ISIS justru   dikecam  hampir oleh semua ormas Islam dan masyoritas umat Islam  dunia yang cinta damai. MUI saja menganggap  ISIS sudah menodai  citra Islam sebagai agama yang antikekerasan.

Menurut Abu Qatada, mantan tokoh Al Qaeda Yordania yang kini menetap di Eropa, ISIS itu mirip Khawarij, sebuah gerakan kegamaan Islam yang sangat ekstrem,   tidak patuh pada  pemerintahan Ali bin Abi Thalib pada abad ketujuh. Khawarij dikenal suka menghalalkan segala cara, termasuk cara-cara kekerasan (The Economist, 1/11/2014).

Anehnya, banyak pemuda  berbagai negara, termasuk Indonesia,  justru mau menjadi relawan ISIS. Kita baru dikejutkan  berita  17 WNI asal Surabaya yang memisahkan diri dari rombongan wisata  ke Turki. Mereka  mencoba menyeberang ke Suriah, lalu ditahan pemerintah Turki.  Badan Nasional Penanggulangan Terorisme  pada November 2014 pernah  menyebutkan  terdapat  500 WNI  bergabung  ISIS. BNPT mengingatkan masih  ada  WNI lain yang ingin bergabung  ISIS.

Memang ketika memproklamasikan pendirian kekhalifahan ISIS pada 10 Juni 2014, Abu Bakr al-Baghdadi, pimpinan ISIS, menyerukan kepada setiap muslim di mana pun bergabung dan berjihad melawan pemerintahan kafir yang tengah dimusuhi ISIS baik  Suriah ataupun  Irak.

Maka, sejak itu, berbondong-bondonglah kaum muda  Eropa, Amerika, Australia, dan Indonesia  merespons seruan Baghdadi. ISIS  pun berani menanggung segala kebutuhan para jihadis karena banyak sumber dananya seperti penjualan minyak di pasar gelap.

Sebagaimana kelompok radikal  dalam banyak agama,  para jihadis ISIS sangat yakin  sekarang  berlangsung   perang akhir  zaman.   ISIS yakin  pasti ”selamat” berhadapan  dengan musuh  kafir dan sesat.

Sebenarnya tidak masalah  para WNI berpindah  menjadi warga negara kekhalifahan ISIS. Persoalan akan runyam andai mereka  kembali ke Indonesia yang amat majemuk. Mereka bisa  mengimplementasikan ajaran  sangat antikemanusiaan, antikeberagaman dan anti-Pancasila.

Perlu mempertimbangkan atau  merespons seruan Raja Yordania Abdullah II. Dia  mengajak umat Islam dan Kristen  moderat berani melawan ISIS dan terus mempromosikan budaya serta   hidup  damai yang  menghargai keberagaman. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar