Jumat, 25 April 2014

Kedangkalan dalam Keberlimpahan

Kedangkalan dalam Keberlimpahan  

Budi Widianarko  ;   Rektor Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang
SUARA MERDEKA, 23 April 2014
                                      
                                                                                         
                                                             
SAATini, kita hidup dalam suatu masa yang paling menarik dalam perjalanan peradaban manusia. Kita beruntung mengalami kemajuan teknologi komunikasi dan informasi (TIK) yang luar biasa cepat. Sejak introduksi komputer pribadi kepada kalangan terbatas di negeri ini tahun 1980- an, kini jumlah kepemilikan peranti TIK melesat bak meteor.

Perangkat TIK, dalam bentuk komputer pribadi, laptop, ponsel, dan tablet bukan hanya mengalami evolusi radikal dalam bentuk dan ukuran, melainkan juga dalam fungsi. Begitu pula perkembangan teknologi internet yang belakangan diikuti oleh ledakan pertumbuhan media sosial dan penggunanya.

Dalam perkembangannya, kita dikejutkan oleh kenyataan tiba-tiba Indonesia menjadi salah satu pusat pengguna internet dan media sosial. Hampir 30 juta orang di negeri ini adalah pengguna Twitter, menempati peringkat kelima sedunia. Jakarta bahkan dinobatkan sebagai Ibu Kota Media Sosial Dunia (’’The Social Media Capital of the World’’).

Tahun 2013 tercatat 2,4% kicauan Twitter dunia berasal dari Jakarta. Jakarta juga menjadi kota dengan pengguna Facebook terbanyak kedua (lebih dari 11,6 juta) di dunia, diapit oleh Bangkok dan Sao Paulo. Angka-angka yang fantastik itu, di satu sisi merupakan cermin kemajuan tapi bukan berarti tanpa risiko.

Kemajuan pesat dalam konsumsi produk TIK menghadapkan penggunanya pada keberlimpahan informasi. Dalam lingkungan sekolah dan universitas kondisi itu menghasilkan paradoks mati ayam dalam lumbung (paradox of plenty).

Di lumbung informasi yang begitu melimpah para pembelajar justru ìkandasî dalam kedangkalan. Perilaku potong dan tempel (cut and paste), bahkan ìpencurianî sebagian atau seluruh karya orang lain (plagiarim) menjadi modus yang makin menakutkan. Sebagai salah satu akibat dari perkembangan TIK tersebut kondisi pembelajaran siswa dan mahasiswa sekarang memiliki ciri khas, dibanding apa yang dialami para pendahulu mereka.

Kini pencarian bahan pelajaran dan informasi ilmiah mengandalkan mesin pencari (search engine). Google, mesin pencari yang paling populer di kalangan mahasiswa, sampai-sampai mendapat julukan Mbah Google. Si Mbah tersebut mampu mencarikan informasi nyaris tentang apa saja.

Akibatnya siswa, terutama mahasiswa, lebih banyak menenteng gadget daripada buku. Memang lingkungan pembelajaran di sekolah dan universitas telah meninggalkan beberapa ciri ketradisionalannya.

Reproduksi Kedangkalan

Sayang, kemajuan teknologi informasi, sebagai wajah kekinian, telah melahirkan sebuah paradoks. Keberlimpahan informasi ternyata hanya mereproduksi kedangkalan. Keragaman sumber belajar (diversity of learning resources) yang tersedia saat ini menghadirkan tantangan baru bagi proses pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi.

Ledakan informasi dalam jaringan atau daring (online contents) telah menjerumuskan para pembelajar untuk cenderung mencecap kedangkalan tanpa mencerna kedalaman.

Bahkan lebih parah lagi, kelimpahan informasi juga mendorong para pelaku pendidikan atau pembelajar untuk mengambil jalan pintas, melakukan tindak plagiasi. Joseph S Nye Jr, pereka cipta istilah softpower 10 tahun yang lalu menulis, ’’ ...an explosion of information, one that has produced a paradox of plenty’.

Plenty of information leads to scarcity-of attention. When people are overwhelmed with the volume of information confronting them, they have difficulty discerning what to focus on. Menurutnya, keberlimpahan, atau lebih tepatnya, ledakan informasi menghasilkan sebuah paradoks mati ayam dalam lumbung. Makin melimpah-ruahnya informasi maka makin langka perhatian yang dicurahkan.

Para pencari informasi atau pengetahuan mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian, dan hasilnya adalah kedangkalan semata. Alih-alih melakukan pengendapan atau refleksi atas pengetahuan yang didapat, para pembelajar digital bahkan tidak sempat untuk melakukan pembacaan secara cepat - skimming. Mereka hanya mampu melakukan pemindaian - scanning.

Jika kini sebagian besar orang sudah terjerumus dalam jebakan digital ini maka beruntunglah mereka yang masih memilih cara konservatif tanpa harus mengabaikan panggilan zaman untuk mulai merdeka dari kertas. Mengamini dalil information is power yang ditawarkan Joseph S Nye Jr maka saat ini keberhasilan seseorang ditentukan oleh kemampuannya untuk bisa menguasai informasi secara mendalam.

Dengan kata lain, mereka yang mampu bergeser pindah dari kondisi attention deficit ke attention surplus akan berhasil dalam hidup profesionalnya. Perhatian menjadi barang langka di tengah keberlimpahan informasi. Kemampuan untuk menguasai dan mengunyah informasi itulah yang dikenal sebagai softpower. Inilah tantangan dunia pendidikan kita saat ini. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar