Jumat, 26 April 2013

UN dan Kegelisahan


UN dan Kegelisahan
Milto Seran ;  Mahasiswa Pascasarjana STFK Ledalero Flores, NTT
MEDIA INDONESIA, 25 April 2013

  
Kaum peminat dan penikmat novel novel Paulo Coelho sedang tak sabar menunggu terjemahan Manuscript Found in Accra (April 2013) atau Manuscrito Encontrado Em Accra (2012). Novel terbaru Coelho itu merupakan inspirasi, refleksi, dan meditasi atas kehidupan, cinta, dan pentingnya perubahan.

Menggapai perubahan dalam hidup merupakan salah satu hasrat bawaan dalam diri manusia. Setiap hari, tampak manusia berada pada lintasan waktu yang sama. Mulai bangun pagi, tenggelam dalam aktivitas harian, hingga malam merayap menghampirinya. Tetapi sesungguhnya tiap-tiap hari memiliki kisahnya tersendiri. Angin perubahan yang dihirup, mentari pagi yang memberi kehangatan, kicauankicauan yang terekam, kata-kata terucap dan aksara yang terbaca, serta arus komunikasi yang tak pernah terpacak mandek.

Pendidikan

Akan tetapi, dalam kondisi politik yang berantakan, kita saksikan harmoni berangsur retak. Nilai-nilai kejujuran kian pudar, korupsi menjadi lumrah, hukum rimba semakin trendi, di bui tahanan dan sipir sama-sama tak nyaman. Berikut sistem pendidikan makin acak-acakan.

Wajah pendidikan di negeri ini sebegitu meresahkan. Karena itu, timbul pertanyaan sederhana, apa itu pendidikan? Pendidikan adalah jalan panjang dan tak selesai, proses tak berkesudahan tentang tanggung jawab menjadikan manusia lebih manusiawi, sadar dan terbebaskan dari belenggu irasionalitas.

Tentu jelas, pendidikan bukan soal `guru' yang berkatakata di depan siswa-siswanya. Juga pendidikan bukan `murid' yang setiap kali mendatangi sekolahnya dengan rasa takut. Peserta didik takut akan bullying. Barangkali mereka tak nyaman karena ongkos pendi dikan yang mahal. Atau mungkin takut akan tawuran yang sewaktu-waktu mengancam. Pada waktu tertentu mereka P dihadapkan pada monster bernama `ujian nasional' (UN).

Dengan UN, sistem pendidikan yang seharusnya membebaskan siswa dari kubangan irasionalitas malah mencampakkannya ke dalam tindakantindakan irasional. Sebagai misal, meski para peserta UN telah belajar sungguh-sungguh, rasanya tak cukup kalau makam leluhur tak dikunjungi. 

Sekalipun mereka sudah mempersiapkan diri berbulanbulan, strategi lain ditempuh untuk menggapai kelulusan. Beberapa skandal seperti perilaku menyontek dan pembocoran soal menjadi contoh yang sudah kuno. Tetapi itulah konsekuensi dari tekanan psikologis dalam diri yang gelisah, bukan hanya murid, melainkan juga guru.

UN Terakhir?
Di tengah kondisi kegelisahan ini, sebagaimana narasi dalam Manuscrito Encontrado em Accra itu, “Orang-orang mulai bertanya-tanya tentang kega galan, kekalahan, perjuangan, ... mereka merenungkan hasrat untuk berubah dan kebajikan loyalitas serta kesendirian; dan mereka akhirnya beralih mempertanyakan keindahan, cinta, kebijaksanaan, seks, keanggunan, dan masa depan yang dapat diraih.“

Imam Koptik, tokoh bijak dalam novel itu lalu bertanya, “Apakah kesuksesan itu?“ “Kesuksesan adalah ketika kamu dapat pergi ke tempat tidur setiap malam dengan jiwa yang damai.“
Tatkala menyaksikan UN 2013 yang amat semrawut ini, sesungguhnya kita tidak tahu, apakah peserta UN dapat pergi ke tempat tidur setiap malam dengan jiwa yang damai. Entah damai atau gelisah, ketakpastian pelaksanaan UN 2013 di 11 provinsi dapat dipastikan telah menambah sederet pengalaman tak menyenangkan tentang UN. Itu sebabnya ada seruan, “UN bukan cuma sengkarut, melainkan juga gagal. Semua itu lebih dari cukup bagi kita untuk mendesak pemerintah menyatakan UN tahun ini ialah UN terakhir,“ (editorial Media Indonesia, 19/4).

Akan tetapi, semuanya masih terus bergerak pada tataran ketakpastian. Apakah benar UN tahun ini ialah UN terakhir? Karena tak jelas, kegelisahan terus bergelora.
Peserta UN generasi yang akan datang pun perlahan-lahan terlempar ke dalam kecemasan serupa lantaran tahun ini mereka telah menyaksikan pengalaman buruk.

Kecemasan atau kegelisahan memang gejala universal yang dapat menyergap siapa saja. Mengikuti pendahulunya Martin Heidegger (1889-1976), Jean Paul Sartre (1905-1980) membicarakan kecemasan (angst) sebagai salah satu topik penting dalam refleksi filosofisnya mengenai eksistensi manusia. Sartre berbicara perihal kebebasan dan tanggung jawab. Kebebasan sesungguhnya bukan hal yang menyenangkan. Ia merupakan beban yang menyebabkan kecemasan. Dan, kecemasan itu sendiri adalah pengalaman yang sangat mencekam dan tidak menggembirakan akibat manusia dihadapkan pada kebebasan dan tanggung jawab yang harus dipikul sendirian (Zainal Abidin: salihara.org, 2011).

Bencana Besar

Tampak sistem pendidikan dengan penerapan UN yang sepenuhnya dikontrol menurut kekuatan tunggal dari pusat telah berubah menjadi belenggu yang tak menyenangkan. Bahaya yang dapat timbul ialah sikap menerima kenyataan ini sebagai suratan takdir, walau ada kesadaran bahwa UN merupakan `bencana' besar dalam sistem pendidikan itu.

Bencana gara-gara ia menelan anggaran miliaran rupiah, membuka peluang bagi jamaknya praktik-praktik tidak jujur, menyengsarakan peserta UN yang menunggu naskah ujian hingga malam dan terpaksa menggelar UN tanpa dukungan penerangan yang memadai, serta mereka yang tak lulus UN (mungkin) patah arang dan minder atau lebih buruk lagi bunuh diri.

Sesungguhnya kecemasan memang gejala universal. Tetapi apakah kita mesti berlarut-larut dalam realitas UN dengan kondisi seburuk ini? Ataukah kita mungkin boleh bertanya, jangan-jangan kecemasan itu hanyalah mitos situasional belaka? Sebagai mitos, kecemasan itu merupakan jawaban atas sesuatu yang terbatas dan belum sepenuhnya terpahami. Mitos, seperti kata Karen Armstrong, menatap ke dalam `jantung sebuah kebisuan agung', the heart of a great silence. Kebisuan tentang realitas ketakpastian, termasuk di dalamnya adalah datang dan hilangnya kurikulum pendidikan dari tahun ke tahun.

Tampaknya, UN dan berbagai kesulitan yang diakibatkannya membuat siswa-siswi di Republik ini seolah terlempar ke dalam fakta tak terelakkan, sebuah kecemasan yang menjadikan mereka terombangambing. Mereka cuma belajar untuk memahami fakta ini tetap dalam lembah kecemasan; gejala universal yang dapat diakrabi. Ia tak ubahnya badai, sewaktu-waktu datang dan berlalu, memberi arti kepada hidup yang tak akan pernah lengkap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar