Minggu, 12 Juni 2016

Tumbangnya NIIS

Tumbangnya NIIS

Ibnu Burdah ;   Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam;
Dosen KTT Pascasarjana UIN Yogyakarta
                                                         KOMPAS, 11 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) dikabarkan terdesak di hampir semua front. Baik menghadapi Peshmerga Kurdi (Irak Utara), Kurdi Suriah, oposisi-oposisi "moderat", milisi Syiah Irak, tentara Irak, tentara rezim Assad, tentara Turki, serta koalisi serangan udara regional dan internasional pimpinan AS, plus Rusia.

Dalam pertempuran terakhir, mereka sudah demikian terdesak di Fallujah. Pertimbangan kemanusiaan mendorong pengambilalihan Fallujah ditunda sementara. Kota Manbij di Suriah yang sangat strategis untuk menopang ibu kota Raqqa juga menghadapi serangan hebat pejuang Kurdi. Jika kedua kota ini jatuh, kemungkinan agenda pembebasan Mosul dan Raqqa menjadi prioritas selanjutnya.

Sebelumnya, mereka telah kehilangan kontrol atas wilayah Hims, Tadmur, Ramadi. Kota-kota penting, seperti Ramadi, Sinjar, Tal Abyadh, Kobani, dan Tikrit juga sudah lebih dahulu dibebaskan. Mereka juga kehilangan kekuasaan di wilayah-wilayah yang jadi sumber perekonomian, terutama di timur Suriah dan perbatasan Irak-Suriah.

Ini masih diperparah dengan banyaknya korban tewas dari kombatan mereka. Tak ada data yang cukup netral dan dapat dipercaya tentang jumlah kombatan NIIS yang tewas dalam beberapa pertempuran terakhir. Namun, para analis memperkirakan angka ribuan, dan yang jelas melampaui jumlah angka- angka sebelumnya. Bahkan, dua bulan lalu, beberapa pemimpin teras mereka dikabarkan tewas, seperti Abu Muslim al-Turkmani orang kedua NIIS, Abu Sayyaf, dan John al-Jihadi.

Pandangan bahwa beberapa bulan ke depan adalah waktu tumbangnya NIIS semakin kuat. Semua indikasi yang disebutkan di atas menguatkan kesimpulan tersebut. Di samping itu, pasukan NIIS dikabarkan juga meninggalkan banyak sisi pertempuran tanpa perlawanan, sesuatu yang tak biasa mereka lakukan.

Hal yang sering terdengar adalah mereka akan menghukum dengan cara paling keji (dibakar hidup-hidup) terhadap tentara yang mundur dari pertempuran. Mereka mendoktrinkan bahwa wilayah teritorial mereka harus dibela dengan nyawa. Perkembangan ini menimbulkan spekulasi hebat tentang mulai ambruknya "pemerintahan" negara horor ini.

Wilayah-wilayah yang tak memiliki sumber daya ekonomi signifikan dan jarang populasinya juga mereka tinggalkan tanpa pertempuran. Sementara wilayah yang menjadi sumber minyak dan padat populasi masih mereka pertahankan. Keduanya penting bagi perjuangan mereka untuk bertahan dan survive.

Pengetatan secara luar biasa setiap negara terhadap mereka yang berkunjung ke Turki atau Suriah jelas menghambat perekrutan kombatan-kombatan baru itu. Padahal, selama ini mereka sangat mengandalkan para jihader baru yang segar dan masih memiliki militansi luar biasa. Para kombatan lama tentu memiliki mental berbeda. Mereka sudah merasakan bagaimana kenyataan hidup di negara yang  mereka idealkan itu. Mereka bisa menilai kebenaran propaganda NIIS selama ini.

Masih "survive"

Namun, benarkah negara yang berdiri di atas ideologi tawakhkhusy (kekejian) ini benar-benar di ambang keruntuhan? Sulit menilai mengenai kebenaran informasi-informasi tentang NIIS. Apakah pemimpin tertinggi mereka, Abu Bakar al-Baghdadi, masih hidup atau sudah tewas, seperti pernah dispekulasikan?

Apakah Abu Muslim al-Turkmani, orang kedua NIIS, benar-benar telah tewas sebagaimana banyak diberitakan, atau ternyata hanya terluka? Berapa jumlah kombatan kelompok ini yang tewas dalam keterdesakan beberapa bulan terakhir? Berapa kerugian materiil mereka akibat serangkaian kekalahan itu? Apa respons mereka terhadap fakta baru itu? Satu hal yang jelas, semua sumber pemberitaan yang tersebut di atas tak ada konfirmasi dari media yang biasa digunakan negara horor itu.

Namun, potensi ancaman mereka, bagaimanapun, masih sangat besar dan tak bisa dianggap remeh. Pertama, puluhan wilayat (provinsi NIIS) yang tersebar di mana-mana. Di Wilayah-wilayah konflik, NIIS berhasil mendirikan basis teritorial baru, seperti di Libya; Sinai, Mesir; Yaman, bahkan di sekitar Pakistan-Afganistan. Bagi mereka, kekuasaan baru itu disebut dengan provinsi, yang menjadi basis teritorial mereka. Wilayat-wilayat ini berpotensi menjadi  ibu kota negara NIIS yang baru jika mereka tak mampu mempertahankan diri di Irak dan Suriah.

Kedua, sumber daya manusia yang ada dalam kekuasaan teritorial NIIS sangat besar, yakni sekitar 8 juta jiwa. Inilah konon yang terus mereka eksploitasi untuk membangun kombatan-kombatan baru yang militan. Karena itu, berita yang tersebar adalah bahwa NIIS sekarang mengeksploitasi secara paksa para pemuda yang ada dalam wilayah teritorialnya.

Populasi padat di kota-kota besar itu bukan hanya sumber tenaga perang bagi NIIS, tetapi juga perisai hidup yang setiap saat dapat digunakan untuk mempertahankan diri. Ini akan menjadi persoalan serius dalam perang "akhir" terhadap negara NIIS itu nanti.

Ketiga, faktanya mereka masih menguasai sejumlah kota besar dan menjalankan pemerintahannya di wilayah itu. Hingga saat ini, Mosul dan di Irak seperti belum tersentuh, Fallujah dan Manbij sedang dibebaskan. Raqqa dan Dayr Zur di Suriah juga masih utuh dalam genggaman mereka. Mosul dan Raqqa selama ini dipandang sebagai ibu kota negara horor ini.

Semua kemajuan itu sangat penting dalam upaya menumbangkan negara teror NIIS. Namun, mereka masih memiliki kemampuan dan kekuasaan yang cukup besar untuk bertahan. Perang terhadap NIIS bisa saja tiba-tiba mengalami kemunduran lagi, dan lagi, ketika pertempuran multifron kembali melanda Suriah atau Arab Saudi-Iran kembali bersitegang.