Senin, 20 Juni 2016

Terancam

Terancam

Samuel Mulia ;   Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                         KOMPAS, 19 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Teman saya punya usaha rumah makan. Berlokasi tidak jauh dari sebuah rumah makan lainnya. Nah, rumah makan lainnya ini merasa tidak senang dengan kehadiran rumah makan teman saya itu. Padahal teman saya tak pernah menganggap ia sebagai pesaingnya.

Yaah. namanya manusia tentu berbeda-beda, bukan? Tak hanya merasa tidak senang, tetapi mereka juga acap kali mendekati rumah makan teman saya itu untuk melakukan pengecekan ramai tidaknya pengunjung yang datang.

"Mengapa kalian gak bisa buat yang kayak gini?"

Setelah mendengar ceritanya itu, di dalam mobil yang mengantar saya kembali ke kantor setelah makan siang di rumah makan teman saya yang nikmat itu, saya mulai kembali pada kenangan masa lalu saat pertama kali membuka usaha majalah.

Tak berbeda dengan pemilik rumah makan yang merasa tersaingi itu, saya juga melakukan tindakan yang sama. Tidak datang mengitari kantor mereka yang saya anggap pesaing, tetapi mengecek rubrikasi di dalam majalah yang mereka terbitkan.

Singkat cerita, setiap bulan saya seperti cacing kepanasan. Saya mudah kesal di ruang rapat dan selalu menyuarakan pertanyaan yang sudah saya pastikan memekakkan gendang telinga staf saya "Mengapa kalian gak bisa buat yangkayak gini? Mengapa kalian gak bisa dapat sponsor yang sama?"

Dan dilanjutkan dengan sejuta mengapa ini dan mengapa itu. Saya yakin staf saya hanya tertawa gelak melihat pimpinan yang tak percaya diri, yang panikan hanya karena toko sebelah memiliki keberuntungan yang berbeda.

Kemudian datanglah masanya saya kelelahan karena kepanikan yang tak masuk akal. Lelah bukan karena fokus kepada apa yang saya lakukan, tetapi fokus kepada pesaing. Maka seperti biasa, ketika Anda kelelahan, Anda menyediakan waktu untuk beristirahat.

Saya mengambil waktu rehat dari kepanikan dan rasa iri hati plus sakit hati, dan kemudian memutuskan untuk berkonsentrasi penuh pada usaha saya sendiri. Saya harus akui, sekarang saya berbahagia, bahkan ketika diterpa gosip bahwa usaha saya bangkrut.

Saya harus akui karena fokus, saya bersukacita, saya bisa melihat segala kekurangan dan kelebihan dalam perusahaan sehingga kemudian ditata sesuai dengan solusi yang tidak didasari dengan kepanikan dan rasa dendam.

Lembah kegelapan

Masih dalam perjalanan kembali ke kantor, saya tersenyum membayangkan belingsatannya pesaing rumah makan teman saya itu. Saya tersenyum tidak untuk mencibir, tetapi tersenyum membayangkan mereka sedang melewati sebuah periode yang gelap, yang pada suatu hari akan datang masanya mereka akan kelelahan, dan semoga setelah itu, mereka bangkit setelah raibnya rasa terancam dan iri hati.

Sebab, sudah saya alami, bahwa berjalan dalam lembah kegelapan yang membutakan tak akan membuat saya berbahagia. Ketidakbahagiaan itu tak akan menghasilkan apa-apa kecuali perasaan tertekan. Apa yang diharapkan seseorang kalau usahanya dijalani dengan perasaan tertekan? Dan sedihnya tertekan karena dirinya sendiri.

Karena bahagia, maka sekarang saya tak lagi melihat perusahaan lain sebagai pesaing. Saya bahkan mengundang mereka yang dahulunya saya anggap sebagai pesaing untuk datang menghadiri acara yang saya buat agar saya bisa membagi rasa bahagia saya kepada mereka.

Saya tak pernah merasa terancam karena pesaing saya tahu rahasia dapur saya. Teman saya bercerita kalau ia diusir dari rumah makan yang terancam itu. Padahal, sebelum memiliki rumah makan, teman saya itu sudah berkali-kali makan di tempat itu.

Mendengar cerita pengusiran itu, saya sungguh bersyukur saya tak lagi berkonsentrasi pada perasaan terancam dan berjalan dalam lembah kegelapan. Persaingan itu bukan untuk mengancam, persaingan itu memacu seseorang. Persaingan itu tidak dibuat untuk menjadikan seseorang menjadi jahat, tetapi untuk menjadikan orang melihat ke dalam dirinya sendiri apa sesungguhnya kekuatan mereka.

Karena saya ini kok percaya, kalaupun resep nasi goreng yang baku diberikan kepada beberapa orang, hasil dan rasanya pun tak akan sama. Maka dari itu saya mulai berpikir, mungkin ketika seseorang ingin membuat usaha, hal pertama yang mereka harus lakukan bukanlah mendatangi kalkulatornya dan ahli keuangan untuk membuat sebuah rencana keuangan yang tokcer.

Mungkin hal pertama setelah punya impian atau cita-cita, maka seseorang sebaiknya mengevaluasi kekuatan mental dan fisiknya untuk menggapai cita-cita itu. Kekuatan mental itu bukan diperuntukkan untuk memenangkan peperangan atas pesaing. Kekuatan mental itu untuk menjaga agar kekotoran tidak leluasa masuk ke dalam pikiran yang bisa jadi mengubah pengusaha yang baik pada awalnya, menjadi begitu bengis pada akhir usahanya.

Usaha yang besar dan sukses seyogianya dibangun dengan rasa cinta, rasa bahagia dan percaya diri. Apalah gunanya seorang pengusaha bisa merasa menang atas pesaingnya, tetapi ia tak bisa memenangkan ketakutan di dalam dirinya sendiri?