Rabu, 08 Juni 2016

Rumah Radio Bung Tomo di HUT Surabaya

Rumah Radio Bung Tomo di HUT Surabaya

I Basis Susilo  ;   Dosen FISIP Universitas Airlangga Surabaya
                                                        JAWA POS, 31 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

KASUS dirobohkannya rumah Radio Pemberontakan di Jalan Mawar Nomor 10 awal Mei ini semestinya menyadarkan warga kota dan Pemkot Surabaya -yang berhari jadi pada 31 Mei ini- akan pentingnya secara sungguh-sungguh menjaga, memelihara, dan menumbuhkembangkan nilai-nilai kebangsaan. Terutama patriotisme dan kepahlawanan.
Pasalnya, rumah itu amat bersejarah. Pada Oktober dan November 1945, rumah tersebut dipakai sebagai markas pertahanan dan tempat bersiarannya Radio Pemberontakan. Radio Pemberontakan yang dipimpin Bung Tomo itu telah membakar dan me¬ngobarkan patriotisme dan kepahlawanan arek-arek Suroboyo serta pejuang-pejuang dari daerah-daerah lain datang ke Surabaya u¬ntuk berjuang dan bertempur.

Radio dan Provokasi

Digunakannya radio sebagai alat perjuangan di Kota Surabaya pada 1945 membuat patriotisme dan kepahlawanan di Surabaya terlalu kuat dibanding yang ada di kota atau tempat lainnya. Sehingga oleh pemerintah 10 November dijadikan Hari Pahlawan.

Mulai mengudara 16 Oktober 1945, radio itu mengawali siarannya dengan lagu Hawaiian Tiger Shark yang (mungkin) sedang populer saat itu. Setiap lagu tersebut berkumandang melalui radio, rakyat Surabaya berkumpul di sekitar radio untuk menanti pidato Bung Tomo.

Siaran itu juga didengar masyarakat di daerah-daerah lain. Sebab, siaran Radio Pemberontakan tersebut di-relay sebagian pemancar Radio Republik Indonesia (RRI) seperti di Malang, Solo, dan Jogjakarta.

Salah satu nukilan pidato Bung Tomo pada malam sebelum perang besar terjadi (9/11/45): "Saudara-saudara rakyat Surabaya. Bersiaplah! Keadaan genting. Tetapi, saya peringatkan sekali lagi. Jangan mulai menembak. Baru kalau kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang mereka itu. ... Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin merdeka. Dan untuk kita, Saudara-saudara, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap. Merdeka atau mati! Dan kita yakin, Saudara-saudara, akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita. Sebab, Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah, Saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!"

Pekikan Allahu Akbar! dan Merdeka! berulang-ulang itu memprovokasi seluruh lapisan masyarakat untuk ikut bertempur. Kiai NU seluruh Jawa dan Madura mengadakan rapat raksasa di Surabaya pada 22 Oktober 1945 untuk mendukung perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda.
Akibatnya, pelbagai organisasi tumpah ruah berjuang ke Surabaya. Selain dari BKR dan TKR, ada sekitar 60 pasukan dan laskar yang didirikan para pemuda, santri, dan karyawan berbagai profesi dari pelbagai daerah dan suku.

Semangat itu juga sampai ke luar negeri karena diteruskan para warga asing di Surabaya. Salah seorang yang paling gigih adalah Ktut Tantri. Dia perempuan Amerika Serikat kelahiran Skotlandia bernama asli Muriel Pearson. Dalam semalam, dia siaran bahasa Inggris dua kali, menjelaskan kepada dunia internasional mengenai kisah perjuangan bangsa Indonesia.

Markas dan Tekad

Selain tempat radio, rumah di Jalan Mawar tersebut dijadikan markas pertahanan. Di rumah itu, 28 Oktober 1945, pukul 17.00, ada pertemuan sejumlah pimpinan perjuangan. Di antaranya HR Muhammad Mangundiprojo, Sutopo, dan Katamhadi dari BKR, Soemarsono dari PRI, serta Bung Tomo dari BPRI. Mereka bertekad bulat untuk melancarkan serangan dengan perhitungan pasukan Inggris saat itu masih lemah.
Kebulatan tekad itu disiarkan Soemarsono melalui Radio Pemberontakan. Pidato Soemarsono disusul pidato Bung Tomo yang membakar semangat rakyat Surabaya khususnya, dan rakyat Indonesia umumnya, untuk melawan tentara Inggris serta Belanda.

Segera malam harinya beberapa tempat atau gedung yang diduduki tentara Inggris dikepung rakyat Surabaya. Seperti ceceran gula pasir dikerubungi semut. Pasukan Inggris tak bisa bergerak dari tempatnya, tak bisa minta bantuan dari tempat lain, serta kehabisan peluru, air, dan makanan. Pasukan Inggris saat itu hampir musnah seluruhnya ("Narrowly escape complete destruction").

Brigjen Mallaby panik. Untuk mencegah kehancuran pasukannya, dia meminta Jenderal Hawthorn mendatangkan pejabat pemerintah Indonesia. Terbanglah ke Surabaya pada 29 Oktober 1945 Bung Karno (presiden), Bung Hatta (wakil presiden), dan Amir Sjarifuddin (menteri penerangan). Esoknya, trio pemimpin kita itu sempat menghentikan perang untuk sementara. Tapi, malam harinya konflik terjadi dan menewaskan Mallaby sehingga kemudian memperkeras pertempuran.
Apa pun, permintaan Mallaby dan Hawthorn pada 29 Oktober itu amat penting bagi perjuangan negara-bangsa kita, terutama di bidang diplomasi. Sebab, secara jelas dan nyata itu merupakan pengakuan secara de facto kedaulatan RI dari pejabat yang mewakili pemerintah Inggris.

Pugar dan Akses

Pembongkaran itu telanjur terjadi. Namun, upaya tetap menjaga, memelihara, dan menumbuhkembangkan patriotisme serta kepahlawanan harus juga tetap dilakukan. Sebelum kehilangan lebih banyak memori patriotisme dan kepahlawanan, Pemkot Surabaya harus segera membangun lagi dan memugar rumah itu supaya bisa menjaga nilai sejarah dari rumah tersebut.

Justru pemugaran itu bisa kita jadikan momentum untuk lebih mendayagunakan rumah dan bangunan cagar budaya tersebut (dan cagar budaya yang lain). Agar lebih mudah bisa diakses dan dijadikan sarana belajar bagi rakyat, khususnya generasi muda kita. Tentu saja tanpa mengubah keotentikan objek, pemugaran perlu mempertimbangkan layanan-layanan dengan fasilitas-fasilitas yang menarik bagi para (calon) pengunjung di kemudian hari. ●