Rabu, 08 Juni 2016

Petani, Kuda, dan Para Zombi

Petani, Kuda, dan Para Zombi

AS Laksana  ;   Sastrawan; Pengarang; Kritikus Sastra yang dikenal aktif menulis
di berbagai media cetak nasional di Indonesia
                                                        JAWA POS, 30 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

CERITA tentang petani dan kuda ini saya dengar kali pertama dari sahabat saya, seorang terapis yang suka mengumpulkan cerita-cerita, termasuk kisah nyata, dongeng dari berbagai negara, dan cerita-cerita lucu. Ia bilang, cerita memudahkannya berurusan bukan hanya dengan anak-anak, tetapi juga dengan orang-orang dewasa.

’’Semua orang menyukai cerita,” katanya, ’’dan sesungguhnya komunikasi yang paling mengasyikkan adalah ketika kita saling bertukar cerita. Waktu tidak terasa ketika kita bercakap-cakap dengan orang yang pintar bercerita dan kita bisa betah berlama-lama menghabiskan waktu dengannya.”

Mungkin Anda sudah pernah mendengar atau membaca cerita tentang petani dan kuda ini, atau mungkin belum. Menurut saya, ini cerita yang mengasyikkan tentang bagaimana kebiasaan orang di dalam melihat segala sesuatu di sekitarnya, mungkin juga kebiasaan kita.

Seorang petani di sebuah desa menemukan seekor kuda yang tersesat dipekarangan rumahnya. Pagi-pagi saat bangun tidur ia mendapati binatang itu berdiri di samping kandang kudanya.

Dengan bulu putih yang bersinar terang, ia seperti hadiah istimewa yang di kirimkan malaikat dari langit. Si petani menanyakan kepada tetangga-tetangganya apakah mereka tahu siapa pemilik kuda tersebut, dan tidak ada satu pun di antara mereka yang tahu.

Sampai sebulan kemudian tetap tidak ada orang datang mencari kuda itu. Si petani merawatnya dan kini ia memiliki dua ekor kuda. Tetangga-tetangganya mengatakan bahwa ia sungguh beruntung menemukan kuda tersebut.

’’Tergantung cara kita melihat,” kata petani tersebut.

’’Jelas kau sangat beruntung,” kata tetangga-tetangganya. ’’Kau mendapatkan kuda tanpa harus membelinya.’’

Kuda itu jantan dan gagah dan masih cukup liar. Anak lelaki si petani, seorang pemuda berusia tujuh belas tahun, terjatuh saat berusaha menjinakkannya.

Kakinya patah. Para tetangga datang menjenguk si anak lelaki.

”Nasibmu sungguh malang,” kata seorang tetanggganya kepada si petani. ’’Anak lelakimu sekarang patah kaki.’’

’’Tergantung,” kata petani itu. ’’Bukankah beberapa waktu lalu kau mengatakan aku sangat beruntung menemukan kuda itu? Sekarang kuda itu menyebabkan anak lelakiku patah kaki.”

’’Karena aku tidak menduga anakmu akan jatuh dan mengalami patah kaki. Bagaimanapun, aku ikut bersedih akan nasib burukmu. Jika kau tahu kejadiannya akan seperti ini, tentu kau lebih suka tidak menemukan kuda, bukan?”

’’Tergantung,” kata si petani.

’’Bagaimana kau bisa menjawab seperti itu? Ia anakmu satu-satunya,” kata tetangganya.

Patah kaki yang diderita si anak sangat parah dan ia tampaknya perlu waktu lama untuk pulih. Beberapa saat kemudian, pasukan kerajaan datang ke desa-desa mencari para pemuda untuk dibawa ke medan pertempuran. Raja negeri tetangga mengobarkan perang dan sekarang mereka sedang berkemah di dekat perbatasan.

Sekarang kerajaan memerlukan para lelaki muda untuk dilatih dan dibawa ke medan tempur karena pasukan musuh terlalu kuat. Semua anak lelaki yang sudah dewasa, termasuk para pemuda di desa si petani, dibawa pasukan dari kerajaan, kecuali anak lelaki si petani.

Tidak mungkin membawa anak lelaki yang sedang patah kaki ke medan pertempuran. Saya mengulangi cerita tersebut ke anak saya, sebagai iseng-iseng menjelang tidur, dan mengganti medan tempur dengan serbuan para zombi karena pada waktu itu ia sedang menyukai permainan Plants versus Zombies.

Itu permainan komputer di mana kita harus memagari rumah dengan tanaman-tanaman untuk membendung serbuan para zombi, makhluk yang digambarkan berusaha masuk untuk mengunyah otak pemilik rumah, sehingga pemilik rumah kehilangan otak dan menjadi zombi juga.
”Pada suatu hari,” kata saya, ”kerajaan memanggil semua pemuda yang sudah dewasa karena para zombi menyerbu kerajaan tersebut. Semua anak lelaki yang sudah besar dipanggil ke istana untuk dikirim ke medan pertempuran melawan para zombi, kecuali anak lelaki si petani. Ia sedang patah kaki sehingga tidak mungkin disuruh menghadapi para zombi itu.”

”Zombi itu ada betulan?” tanya anak saya.

”Hanya cerita,” kata saya.

”Tapi, dia ada betulan?” ia terus mengejar.

Saya hampir tidak tahan dan ingin mengatakan bahwa zombi-zombi itu ada betulan dan mereka bergentayangan di sekeliling kita. Mereka adalah makhluk-makhluk tanpa otak sehingga tidak mampu berpikir dan tidak mampu memahami baik-buruk.

Mereka tidak memiliki perasaan bersalah, tidak tahu bahwa apa yang mereka lakukan sangat merugikan orang lain, dan tidak mempan diberi tahu karena mereka tidak punya otak.

Tetapi, saya tidak menyampaikan jawaban seperti itu. Ia baru enam tahun saat itu.

Saya hanya meyakinkan anak saya bahwa zombi hanya cerita tentang makhluk-makhluk bodoh yang ingin membuat orang lain menjadi bodoh juga sama dengan mereka. Jika mereka berhasil menguasai kerajaan, pasti sengsaralah semua orang.

Negara akan dikuasai makhluk-makhluk bodoh. Maka, begitulah, setiap pemuda dibawa pasukan kerajaan untuk memerangi para zombi.

Orang-orang tua di desa itu merasa sedih melepas keberangkatan anak-anak mereka. Si petani sedang memberi makan dua ekor kudanya ketika beberapa tetangganya lewat di dekat rumah.

Mereka berhenti dan menyampaikan perasaan mereka kepada si petani.

”Kau beruntung,” kata salah seorang dari mereka.’’Anakmu tidak harus berangkat menghadapi para zombi karena kakinya patah, sedangkan anak-anak kami harus berangkat dengan risiko kehilangan otak.”

”Ketika aku menemukan kuda, kalian mengatakan aku beruntung. Ketika anakku patah kaki karena jatuh dari kuda itu, kalian mengatakan alangkah buruk nasibku. Kuda itu membawa nasib sial. Sekarang, kalian mengatakan aku beruntung karena anakku patah kaki. Jadi, sebenarnya aku beruntung atau sial sudah menemukan kuda itu?” tanya si petani.

”Ternyata nasibmu baik,” kata tetangganya.

”Anakku justru bersedih tidak bisa ikut memerangi makhluk-makhluk bodoh itu,” kata si petani.

”Justru karena itu kau bernasib baik,” kata tetangganya.

”Baiklah,” kata si petani. ”Kalian boleh berkata apa saja, tetapi nasibku tidak bergantung kepada kata-kata kalian. Masalahnya, tidak lelahkah kalian memikirkan nasib baik dan nasib buruk orang lain?Kalian perlu memikirkan nasib kalian sendiri.” ●