Kamis, 16 Juni 2016

Program ”Religi” di Televisi

Program ”Religi” di Televisi

Gun Gun Heryanto ;  Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI); Dosen Komunikasi Politik di UIN Jakarta
                                                   KORAN SINDO, 08 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Bulan Ramadan 1437 H telah datang. Bulan suci bagi umat Islam ini selain menjadi momentum ibadah dalam perspektif agama, juga biasanya menghadirkan ritus tahunan yang mapan terpola.

Salah satu fenomena lumrah di hampir setiap Ramadan adalah semaraknya acara televisi dengan berbagai kemasan program bercita rasa religi. Mulai dari reality show, sinetron, talkshow, komedi, ceramah keagamaan, dan lain-lain. Bahkan iklan sekalipun banyak yang bungkus dengan ornamen Ramadan. Kesemarakan kian lengkap dengan kehadiran para selebritas di berbagai paket tayangan program tersebut.

Entitas Ekonomi

Kiprah berbagai stasiun televisi dalam menyemarakkan Ramadan sering menuai kritik. Ada beberapa catatan penting dalam menilai televisi dalam konteks Ramadan. Pertama, mesti disadari bahwa televisi saat ini telah tumbuh dan berkembang menjadi industri padat modal.

Mengutip pendapat Shoemaker dan Reese dalam bukunya, Mediating the Message: Theories of Influence on Mass Media Content (1991), bahwa organisasi media merupakan entitas ekonomi. Sebagai capitalist venture, media penyiaran beroperasi dalam sebuah struktur industri kapitalis.

Pernyataan senada terlontar dari Smythe, dalam tulisannya, Communication: Blindspot of Western Marxism (1997), menyebutkan bahwa fungsi utama media pada akhirnya menciptakan kestabilan segmen audiens bagi monopoli penjualan pengiklan. Stasiun-stasiun televisi komersial tentu memakai logika berpikir yang sama dalam memaknai Ramadan. Selama bulan Ramadan ada perubahan kondisi kejiwaan, perasaan, dan selera dari khalayak.

Perubahan ini ditangkap, kemudian dikomodifikasi dalam bentuk beragam format acara yang ”memanjakan” jiwa, perasaan, dan selera khalayak tersebut. Khalayak yang puas dengan pemakaian media akan berdampak pada kumulasi modal. Dimmick dan Rothenbuhler dalam The Theory of the Niche: Quantifying among Media Industries (1984) mengatakan ada tiga sumber kehidupan media yakni isi (content), modal (capital), dan khalayak (audiences).

Dengan isi yang menarik, audiens akan tetap memilih stasiun televisi tertentu sebagai pilihannya. Kian banyak audiens yang menonton suatu program, kian tinggi pula rating program tersebut. Dampak lanjutannya, tentu saja para pengiklan akan kian berminat memasang iklan pada program yang bersangkutan. Dalam konteks inilah, tampilan media televisi yang kental dengan wajah industri dianggap sebagai hal yang lumrah dan sudah seharusnya. Ramadan dalam konteks industri televisi diperlakukan seperti momentum perhelatan bola Piala Dunia.

Sama-sama memiliki segmen khalayak yang jelas dan dipersatukan oleh situasi psikologis yang sama. Momentumnya sama-sama membentuk basis massa dan segmen khalayak yang jelas bagi media. Kedua, meskipun wajah industri nyata-nyata tergambar dalam gegap gempitanya paket Ramadan di televisi, tak bisa dinafikan bahwa televisi menjadi entitas sosial yang sangat berpengaruh.

Bingkai (framing) yang dikonstruksinya- meminjam istilah Erving Goffman- ibarat kepingan-kepingan perilaku (strips of behavior) yang membimbing individu dalam membaca realitas. Seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspekaspek realitas Ramadan telah memungkinkan individu khalayak dapat melokalisasi, merasakan, mengidentifikasi, serta memberi label tertentu.

Dengan keperkasaannya sebagai institusi sosial yang memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan secara cepat dan menjangkau khalayak luas, televisi pun tampil digandrungi khalayak dari berbagai usia dan strata. Kiprah berbagai stasiun televisi menonjolkan fenomena Ramadan dalam konteks ini patut dihargai. Karena bisa jadi, terpaan Ramadan membentuk dampak yang kuat karena media menerapkan prinsip konsonansi.

Dalam literatur komunikasi massa, konsonansi diartikan sebagai isi informasi tentang sesuatu yang disampaikan oleh berbagai media massa yang relatif sama atau serupa. Kesamaan dalam hal materi isi, arah dan orientasinya, termasuk juga dalam hal waktu, frekuensi, dan cara penyajiannya.

Berbagai stasiun televisi yang ramai menayangkan sinetron, talkshow,reality show, ceramah yang berbau Ramadan seyogianya diapresiasi karena bagaimanapun realitas simbolik Ramadan yang diusung televisi turut menghadirkan suasana Ramadan hingga ke ruang-ruang keluarga.

Catatan Kritis

Selain apresiasi, catatan kritis juga perlu penulis kemukakan terutama menyangkut kualitas program yang ditampilkan. Pertama, kualitas bahasa dan tindakan simbolis yang digunakan untuk menyimbolkan keagungan bulan Ramadan seyogianya terjaga. Jangan hanya karena mengejar keuntungan, berbagai stasiun televisi terjebak pada model identifikasi mitis dan distansi alegoris. Identifikasi mitis artinya melebihlebihkan kesatuan identitas Ramadan, antara tindakan simbolis dan apa yang disimbolkannya.

Sementara distansi alegoris justru mengonstruksi realitas Ramadan terlampau berbeda dengan substansinya sehingga menyebabkan keterasingan Ramadan dari hakikat yang sesungguhnya. Ramadan cukup disimbolkan sebagai bulan evaluasi dan refleksi dalam peneguhan sosok manusia penyabar, peduli, memiliki komitmen sosial, dan mampu mengendalikan dirinya. Sehingga, khalayak dapat menyingkap simbol itu dan terpengaruh baik pemikiran, perasaan, maupun tindakannya.

Kedua, harus ada perimbangan antara program yang bermuatan edukasi dan yang entertainment. Dengan konsep dan inovasi kreatif serta didukung produksi yang baik, tentu bisa lebih menghadirkan kesemarakan Ramadan di layar televisi, tanpa mendistorsi muatan nilai yang terkandung di dalamnya. Kita memang tidak bisa menafikan keberadaan televisi sebagai entitas industri. Biasanya, ada tiga hal yang dapat digunakan sebagai indikator untuk mengidentifikasi karakteristik suatu industri media.

Customer requirements merujuk pada harapan konsumen tentang produk yang mencakup aspek kualitas, diversitas dan ketersediaan. Competitive environment, yaitu lingkungan pesaing yang dihadapi perusahaan. Social expectation yang berhubungan dengan tingkat harapan masyarakat terhadap keberadaan industri. Semakin tersedia program Ramadan yang bagus dan beragam format acaranya, akan memunculkan kepuasan pada khalayak. Industri televisi kerapkali memiliki kelemahan.

Di antara kelemahannya itu industri media kerap berorientasi pada pemenuhan keinginan pasar sesuai dengan kriteria apa yang paling menguntungkan secara ekonomi dan politik bagi para pemodal. Kita melihat, berbagai produk media pada paket acara Ramadan bersifat dangkal dan tidak sesuai dengan substansi Ramadannya. Misalnya, ceramah dan diskusi keagamaan di beberapa stasiun televisi justru diisi bukan oleh ahlinya, melainkan oleh para selebritas yang secara komersial dianggap menguntungkan.

Kalaupun ada kiai atau ustaz sungguhan, rumusannya adalah kiai atau ustaz yang ngetop dan ngepop. Begitu juga dalam paket program buka puasa dan sahur, substansi acara keagamaan justru hanya menjadi pelengkap penderita.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa dalam konteks industri kapitalis, produk siaran televisi lebih merupakan mode of production yang kerap mereduksi kesejatian nilai religiusitas Ramadan. Kita berharap televisi menghormati Ramadan, dengan menyuguhkan varian program yang relevan dan tak berlebih-lebihan.