Rabu, 08 Juni 2016

Memerangi Minol (Oplosan)

Memerangi Minol (Oplosan)

Bagong Suyanto  ;   Memerangi Minol (Oplosan)
                                                      REPUBLIKA, 30 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Sejumlah daerah kini telah mengibarkan kapak perang melawan minuman beralkohol (minol). Kehendak sejumlah daerah membatasi peredaran minol bukan karena kebetulan momennya untuk menghormati kehadiran Ramadhan, melainkan juga karena dampak peredaran minol sudah dianggap makin mencemaskan, terutama oplosan.

Di Indonesia, kasus minol oplosan yang menewaskan sejumlah peminumnya kita tahu tidak sekali-dua kali terjadi. Tetapi, seolah tak pernah takut dan sepertinya sengaja menantang maut, di berbagai daerah selalu saja bermunculan orang-orang marginal yang kembali mengulang kesalahan yang sama.

Kasus terbaru kembali terjadi di Yogyakarta. Akibat minum oplosan, setidaknya 10 orang tewas dan beberapa orang lain dirawat di rumah sakit. Sebelumnya, kasus yang sama juga terjadi di Yogyakarta. Akibat minum vodka oplosan, dilaporkan paling tidak 26 orang tewas. Tidak hanya membuat mabuk, racikan minol dengan menggunakan campuran etanol 96 persen, air, sari manis, sitrun, aroma rasa buah salak atau jeruk, dan sering kali masih ditambah para peminumnya dengan korek api serta benda-benda aneh lain-lain, akhirnya menjadi racun maut yang menewaskan puluhan korban.

Sama seperti minol yang dikonsumsi kelas menengah ke atas di berbagai pub, diskotek, bar, atau di restoran mewah, oplosan pada dasarnya adalah salah satu bentuk representasi dan reproduksi dari gaya hidup kelas masyarakat borjuis yang ditransplantasikan menjadi bagian dari gaya hidup kelompok masyarakat marginal. Kelompok masyarakat marginal, sama seperti kelas borjuis, mengonsumsi oplosan untuk mendemonstrasikan keberanian dan sikap ngejago (sikap berani mati) yang membuat sesuatu yang dilarang dan berbahaya justru menjadi tantangan tersendiri.

Ketika di media massa sering kali diberitakan bahaya minum oplosan karena bahan-bahan dicampur jauh dari kelayakanan prasyarat kesehatan, bagi kelompok masyarakat marginal justru di situlah letak tantangannya. Sekelompok anak muda, seperti anak punk atau anak-anak geng, ketika lolos dari maut dan berani mengonsumsi minol oplosan yang disebut media berbahaya, justru di situlah mereka lolos dari proses inisiasi untuk diakui sebagai pimpinan geng atau anggota yang pemberani. Subkultur anak-anak marginal seperti inilah yang menjelaskan mengapa kasus kematian peminum oplosan telah berulang kali terjadi.

Seperti dikatakan Ken Gelder (2005), subkultur pada dasarnya adalah konsep yang menyangkut perbedaan antara kelompok nonnormatif di satu sisi dan marjinal di sisi lain. Sekelompok anak muda yang mengembangkan subkultur marginal, mereka bukan saja akan diidentifikasi dan diberi label sebagai kelompok yang menyimpang, melainkan juga perlu dipahami sebagai kelompok marginal yang mengembangkan gaya hidup tersendiri yang memberontak pada tatanan sekaligus berkeinginan untuk tampil beda.

Minum oplosan bukan hanya merupakan perwujudan perilaku menyimpang. Perilaku ini juga tidak bisa dipahami hanya sebagai bentuk ketegangan psikologis atau penyimpangan, tapi harus dimengerti sebagai bentuk perlawanan kolektif terhadap hegemoni budaya yang selama ini diperlihatkan kelompok borjuis.

Sama-sama minum minuman keras beralkohol, tetapi dalam konstruksi sosial masyarakat marginal apa yang mereka lakukan adalah melampaui ketakutan dan sikap sok kelas borjuis yang dinilai hanya berani minum minol bermerek yang sama sekali jauh dari sikap macho. Hebdige (1979), misalnya, salah seorang dari peneliti Cultural Studies Mazhab Birmingham, menyatakan bahwa apa yang dilakukan anak-anak punk di Inggris yang suka minum-minuman keras, berkelahi, dan lain sebagainya bukan sekadar suatu bentuk perlawanan semiotik terhadap tatanan yang dominan. Apa yang ingin diperlihatkan anak-anak punk adalah bagaimana mendramatisasikannya.

Minol oplosan bagi anak-anak marginal bukanlah sarana untuk mabuk, melainkan instrumen yang mereka pergunakan untuk menunjukkan bentuk perlawanan mereka terhadap gaya hidup kelas borjuis. Makin tidak masuk di akal benda-benda yang dicampur ke dalam minol oplosan, hal itu dinilai sebagai simbol untuk menunjukkan identitas diri mereka.

Mencegah agar kelompok masyarakat marginal lain tidak mengulang kesalahan yang sama dan menjadi korban minol oplosan, selama ini yang dilakukan aparat penegak hukum adalah dengan melakukan berbagai razia minol. Cara lainnya adalah melalui kebijakan yang melarang peredaran minol di toko atau supermarket yang dengan mudah diakses masyarakat.

Di atas kertas, strategi dan cara kerja yang bersifat punitif, mengancamkan sanksi, dan membatasi ruang gerak peredaran minol seperti di atas mungkin akan terkesan efektif. Minimal, akan dapat mengurangi peredaran resmi minol di masyarakat. Tetapi, perlu disadari bahwa membatasi peredaran minol dan mencegah perilaku masyarakat marginal yang gemar mengonsumsi minol oplosan adalah dua hal yang berbeda.

Langkah ketat razia dan pembatasan peredaran minol perlu dijalankan dengan dibarengi pendekatan budaya yang memahami subkultur masyarakat marginal. Tanpa sinergi kedua langkah tersebut, dapat dipastikan kasus-kasus kematian akibat oplosan akan tetap terjadi di berbagai tempat.

Selain pendekatan yang sifatnya represif dan punitif, sesungguhnya akan lebih bijak jika upaya untuk mengurangi atau mengeliminasi kasus kematian akibat oplosan juga dibarengi dengan pendekatan budaya yang berbasis subkultur anak-anak marginal. Mengajak anak-anak marginal lomba melukis mural, lomba band indie, dan lain sebagainya sesungguhnya adalah tawaran alternatif yang mungkin menarik dan efektif--di samping melakukan berbagai kegiatan razia atau membatasi peredaran minol. ●