Sabtu, 18 Juni 2016

Mayat dengan Tato di Dadanya

Mayat dengan Tato di Dadanya

AS Laksana ;   Sastrawan; Pengarang; Kritikus Sastra yang dikenal aktif menulis
di berbagai media cetak nasional di Indonesia
                                                       JAWA POS, 12 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PADA setiap bencana, yang muncul berikutnya adalah statistik. Kita akan diberi tahu melalui angka-angka berapa jumlah yang mati, berapa total kerugian, berapa yang dirawat di rumah sakit, dan sebagainya.

Para jurnalis tahu bahwa statistik hanya akan menjadikan tulisan terasa datar, membosankan, dan tidak menghasilkan efek apa pun yang menyentuh perasaan. Untuk menjadikannya lebih menyentuh, mereka menentukan angle, menentukan sudut pandang penceritaan, dan memilih untuk menyampaikan cerita tentang bencana itu dari pengalaman satu orang.

Dari sana, kita disuguhi detail segala sesuatu yang menyangkut kehidupan pribadi seseorang dan dibawa larut ke dalam nasib mengenaskan orang itu di dalam situasi tertentu. Dan diam-diam kita menanam anggapan di kepala kita bahwa orang-orang lain, di dalam situasi yang sama, kurang lebih serupa juga nasibnya.

Kisah tentang nasib buruk satu orang adalah metafora bagi nasib buruk orang-orang lain yang lebih luas. Bencana disorot dari pengalaman satu orang, itulah angle. Kita sering mendapati tulisan feature semacam itu di media massa dan menjadi lebih paham ketika dibawa masuk ke dalam kehidupan satu orang, mencermati kesehariannya, mengetahui aspek-aspek terkecil kehidupannya.

Beberapa hari lalu saya mendapatkan video dari seorang teman, berjudul Who is Dayani Cristal?, film dokumenter yang meraih penghargaan untuk sinematografi terbaik Sundance Film Festival 2013.

Film itu menyampaikan cerita besar tentang perjalanan sengsara para imigran dari Amerika Tengah untuk menemukan surga di Amerika Serikat. Mereka meninggalkan rumah, menempuh jarak 3.200 mil dengan bus, berdesakan di atap gerbong kereta api, untuk tiba di tempat yang mereka tuju: pagar perbatasan.

Bus membawa mereka ke tempat di mana tersedia tangga dari tali yang digantungkan pada pagar. Dengan tangga itu, mereka melompati pagar dan memasuki perjalanan selanjutnya... menuju kematian.

Padang tandus Sonora, Arizona, dikenal di kalangan para imigran dengan sebutan lorong kematian. Yang mampu bertahan hidup di sana adalah kaktus-kaktus raksasa yang tegak menjulang, seperti bayang-bayang hantu saat matahari terbenam.

Statistik menyebutkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir jumlah imigran yang meninggal di sana meningkat sepuluh kali lipat. Mereka adalah orang-orang yang putus asa di negara sendiri dan nekat menyeberanginya dengan niat luhur untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Tetapi, film tersebut tidak bicara statistik. Ia bercerita tentang orang-orang yang ingin mengubah nasib.

”Kau juga imigran, Tuhan, meninggalkan surga untuk turun ke bumi dan menyelamatkan kehidupan kami di bumi,” seseorang berdoa di awal film, di depan salib Yesus. ”Aku mengikuti jejakmu.”

Dengan cara yang menyentuh, Who is Dayani Cristal? bercerita tentang jenazah imigran yang ditemukan di Sonora. Dia terbujur kaku di lorong kematian ketika petugas imigrasi menemukannya. Tentu saja dia tidak sendirian. Ada banyak jenazah lain di sana, beberapa sudah menjadi tulang belulang.

Tidak ada kartu identitas untuk bisa mengenali siapa dia (para imigran gelap disarankan untuk tidak membawa kartu identitas apa pun); hanya ada secarik kertas berisi doa di saku celananya dan tato ”Dayani Cristal” di dadanya.

”Dia terabaikan pada saat hidup dan menjadi misteri ketika mati,” kata narator.

Gael Garcia Bernal, pemeran Ernesto ”Che” Guevara dalam film The Motorcycle Diaries, menjadi narator dalam film dokumenter itu. Dia memerankan salah seorang imigran, merenungi kehidupan yang keras dan tak memberikan apa-apa, membawa kita ke masa lalu jenazah tersebut serta mencari tahu siapa orang itu.

Memandang sebuah peristiwa besar –atau bencana besar– dari sudut pandang satu orang selalu akan menghasilkan efek yang menyentuh perasaan. Anda tahu, kita selalu akrab dengan cerita dan bisa tersentuh oleh cerita. Bahkan, kita bisa dibuat bersimpati kepada karakter Don Vito Corleone, seorang kepala mafia yang bengis dalam film The Godfather, dan ikut bersedih ketika dia mengalami nasib buruk.

Itu hal yang paling patut dicemburui dari para pencerita. Dengan kecakapan yang mereka miliki, mereka bisa membuat kita ”berpihak” kepada tokoh seperti apa pun. Tidak selalu tokoh utama dalam cerita adalah pribadi-pribadi yang baik. Tetapi, selalu saja kita bisa bersimpati kepadanya. Tokoh utama dalam film Raging Bull, Jake LaMotta (diperankan oleh Robert De Niro), adalah petinju yang mengerikan. Dia memukul istrinya dan mencampakkan perempuan itu ketika sudah menjadi juara dunia tinju kelas menengah. Tetapi, tetap saja penonton bisa bersimpati kepadanya.

Cerita-cerita yang baik selalu berhasil membuat orang terpesona dan bersimpati kepada tokoh-tokohnya.

Apa pun pendapat Anda tentang Holocaust, tragedi yang dialami orang-orang Yahudi di masa Hitler itu telah melahirkan cerita-cerita yang menyentuh perasaan. Statistik tentang jumlah korban yang meninggal akibat kekejaman Hitler hanya akan menjadikan orang berdebat tentang berapa sebetulnya jumlah orang Yahudi yang meninggal. Dan perdebatan tentang Holocaust bisa menyulut kebencian. Sebaliknya, kita bisa bersimpati dan dihanyutkan oleh perasaan haru saat menyaksikan cerita-cerita Schindler’s Lists, Life is Beautiful, Catatan Harian Anne Frank, dan sebagainya yang berkisah tentang satu orang di tengah kekejaman Nazi.

Hampir dalam semua hal seperti itu. Statistik memberi kita gambar besar, cerita memberi kita gambar konkret tentang kehidupan.

Gelombang imigran gelap, rombongan orang dari satu negara yang mencoba memasuki negara lain yang tidak menginginkan mereka, tentu saja merupakan masalah besar bagi negara tujuan. Namun, orang tidak akan membicarakan hal itu ketika menonton film Who is Dayani Cristal? Informasi demi informasi yang disampaikan selama film berlangsung terasa semakin menyesakkan.

Di akhir film, kita tahu bahwa pria dengan tato ”Dayani Cristal” di dadanya adalah seorang lelaki Honduras berusia 29 tahun, ayah tiga anak dan suami yang tidak pernah mendapatkan uang. Anak bungsunya menderita leukemia.

Perjalanannya menyeberangi padang tandus Arizona mungkin keputusan bodoh, tetapi tetap bertahan di kampung halamannya pun tidak akan membuat perubahan sama sekali. Baginya, hidup tidak menyediakan pilihan.