Senin, 13 Juni 2016

Kerelawanan Berbangsa dalam Puasa

Kerelawanan Berbangsa dalam Puasa

Abdul Munir Mulkhan ;   Guru besar, Ketua Senat UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta; Komisioner Komnas HAM 2007–2012; Wasekjen PP Muhammadiyah 2000–2005
                                                       JAWA POS, 04 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

FENOMENA menarik dalam kehidupan negeri ini ialah kerelawanan politik (baca: keikhlasan) sebagai kritik kinerja partai muncul bersama demokrasi transaksional. Ketika banyak pihak ragu, sebagian calon berbasis kerelawanan menang dalam pilkada.

Kemarakan hidup hedonis, narkoba, korupsi, dan kekerasan seksual terhadap anak-anak muncul bersama antrean panjang naik haji. Juga, maraknya siaran agama di TV, membeludaknya jamaah masjid, dan pengajian, terutama di bulan Ramadan.

Bagaimana menempatkan praktik keagamaan sebagai jalan revolusi mental kerelawanan berbangsa? Bagaimana menempatkannya dalam kerangka meredam kejahatan demoralisasi bagi kesejahteraan warga berkeadilan sebagai praktik ber-Pancasila?

Pertanyaan tersebut cukup menggoda, sekaligus kritik teologis yang bisa mengundang perdebatan panjang. Puasa, selain kewajiban ilahiah, adalah tanggung jawab kemanusiaan bagi pendidikan moral dan rekayasa sosial berbangsa yang warganya mayoritas muslim.

Kita saksikan intensitas pendidikan agama di semua tingkatan sekolah, dakwah, taklim, tablig di semua lorong kampung hingga hotel berbintang. Pesawat televisi secara reguler menyiarkan dakwah dalam durasi panjang.

Hampir 24 jam penuh saat puasa. Kejahatan dan kekerasan meluas menjarah semua arah bagai jalan setan menandingi jalan malaikat. Apa yang salah dengan praktik pendidikan dan dakwah?

Penjelasan masuk akal gejala tersebut ialah hilangnya otentisitas diri, ketika manusia diperlakukan bagai benda mati, seperti kritik Erich Fromm. Sebelumnya, kritik eksistensialis atas ketiadaan kebebasan aktualisasi diri dalam modernitas.

Dari sini, praktik pembelajaran lebih sebagai penggelontoran segudang materi ilmu sepanjang hari. Sosialisasi ajaran agama lebih sebagai ancaman. Bersama ’’penebusan dosa’’ dengan tindakan saleh, bukan meredam hasrat setan.

Akibatnya, anak-anak kehilangan ruang ke-kanakan-nya dalam dunia bermain. Pembelajaran sekolah dikemas bukan sebagai bagian dari bermain yang menyenangkan.

Sementara praktik dan dakwah keagamaan dikemas sebagai rumus jalan masuk surga, baku matematika pahala-dosa. Kehadiran Tuhan sekadar peta matematis tindak malaikat dan setan yang baku, pasti, dan material.

Gadget baru yang tumbuh tiap detik membuat dunia kehidupan selebar dan setebal pesawat smartphone. Dalam pesawat, yang akrab bagi anak seusia 10 tahun, bahkan lebih muda itu, info setanis hadir bersama aura malaikat.

Kehadiran sosok setan lebih menarik, dinamis, indah, dan memenuhi hasrat natural. Sebaliknya, aura malaikat lebih kering, sepi, dan nestapa. Situasi kultural demikian justru membuat peluang surgawi semakin terbuka, saat Tuhan melihat perilaku manusia secara progresif.

Besaran peluang surgawi justru berada dalam besaran desakan setan. Namun, situasi demikian justru bisa membuat manusia mengalami kepribadian terbelah. Saat menjalani ritual, aura malaikat tampil nyaris sempurna.

Sementara nafsu serakah dan hasrat hewani bagai kuda liar merajalela, begitu usai ritual. Seperti filsafat mutasi genetik hierarkis dari jasad renik, pelikan, tumbuhan, hewan, dan manusia, tiap tahap lanjut secara dialektik membawa serta unsur dan karakter tahap sebelumnya.

Sementara manusia sebagai puncak hierarki membawa serta unsur dasar binatang dari tahap sebelumnya. Hanya jika manusia mampu mengelola hasrat hewaninya secara cerdas, karakternya lebih manusiawi.

Sebaliknya, manusia bisa menjadi lebih ganas dari binatang. Sebab, pemenuhan hasrat hewaninya dikelola berdasar kemampuan nalar tanpa bimbingan norma spiritual-religius.

Ruang spiritual tersebut bisa terbuka saat mutasi puncak pada manusia, Tuhan melibatkan diri dengan meniupkan roh kepadanya. Gagasan Islam memungkinkan manusia memasuki ruang rohaniah, yang antara lain ditempuh melalui ritual puasa.

Penyucian jiwa melalui ritual puasa memungkinkan tumbuhnya pribadi dengan karakter setengah malaikat, lebih dari sekadar manusia. Puasa adalah jalan dan metode pembelajaran sehingga seseorang bisa tumbuh melampaui hasrat manusiawi menyentuh aura malaikat.

Melalui proses ini, seseorang rela berkorban bagi kepentingan orang lain, yang bahkan bisa membuat dirinya menderita. Syaratnya ialah bersedia menempatkan diri pada titik nadir manusia otentik yang tiap saat bisa jatuh tersungkur hanya oleh penyebab sederhana.

Hasrat kuasa dalam pandangan Friedrich Nietzsche digunakan bagi upaya menguasai diri, bukan sebaliknya. Inilah makna puasa yang sering hilang saat dipahami sebatas tidak makan minum dan tidak melampiaskan hasrat biologis bagi istri atau suami pada siang hari.

Puasa otentik adalah jalan revolusi mental kerelawanan berbangsa bagi promosi kesejahteraan seluruh umat manusia yang terlukis dalam nilai luhur Pancasila. Berbagi bagi sesama.

Materi pembelajaran agama dan dakwah perlu dikemas menembus batas regulasi fikiah halal-haram. Metode pembelajaran dirancang lebih sekadar operasi kognisi, melainkan menembus ruang bawah sadar tentang kesadaran ketuhanan.

Di sinilah kesalehan menjadi bekerjanya kecerdasan spiritual superkreatif, menembus batas kemampuan manusia menjadi setengah malaikat, kadang disebut wali. Revolusi mental terkait aksi radikal-revolusioner, menembus memasuki ruang malaikat yang dalam dunia pewayangan terlukis dalam sosok Semar Brodonoyo.