Selasa, 07 Juni 2016

Ise-Shima Summit dan Jokowi

Ise-Shima Summit dan Jokowi

Tirta N Mursitama ;   Guru Besar Bisnis Internasional; Ketua Departemen Hubungan Internasional Binus University; Senior Analis KENTA Institute
                                                    KORAN SINDO, 30 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pertemuan G-7, kelompok negara termaju di dunia baru selesai diselenggarakan 26-27 Mei 2016 di Ise-Shima, Mie Prefektur, Jepang.
Pertemuan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sebagai tuan rumah, dihadiri oleh para pemimpin negara dari Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jerman, Kanada, dan Prancis. Bagi Jepang dan negaranegara di Asia, pertemuan G-7 di tanah Asia menjadi penting. Pertama, pertemuan ini pertama kali diadakan di Asia dalam delapan tahun terakhir. Kedua, situasi Asia yang dinamis dalam pertimbangan geostrategis maupun geoekonomis kawasan.

Potensi konflik Laut China Selatan dan kekhawatiran akan uji coba nuklir Korea Utara terus membayangi kestabilan kawasan Asia. Sedangkan di sisi yang lain, kekuatan ekonomi dunia yang sedang bangkit dan mulai menguasai dunia juga berada di Asia, yaitu China. Dinamika ini semakin kompleks ketika kepentingan negara-negara maju di luar kawasan Korea Utara dan berbagai kepentingan negara maju di dalamnya.

Ketiga, menunjukkan kepemimpinan Jepang yang lebih asertif secara internasional dengan mengatur agenda pembicaraan dan inisiatif mengundang beberapa negara Asia-Pasifik, Afrika dan lembaga internasional dalam G-7 outreach meeting. Diskursus yang diangkat tentang kesejahteraan di Asia yang menempatkan Asia sebagai motor perekonomian dunia merupakan tema yang relevan saat ini.

Inisiatif Ekonomi Layaknya pertemuan penting lainnya, para pemimpin negara mengeluarkan G-7 Ise-Shima’s Leaders Declaration yang mengedepankan Inisiatif Ekonomi Ise-Shima. Pernyataan setebal 32 halaman tersebut menggarisbawahi pentingnya beberapa hal seperti perekonomian dunia, migran dan pengungsi, perdagangan, infrastruktur, kesehatan, perempuan, siber, anti korupsi, iklim dan energi.

Dari masing-masing persoalan tersebut sepakati beberapa hal yang lebih rinci lagi untuk dilakukan. Di antara sekian banyak hal yang dibahas, mengatasi persoalan melambatkan pertumbuhan ekonomi global masih menjadi perhatian yang utama. Para pemimpin negara G-7 sepakat untuk menggunakan kebijakan fiskal, moneter dan struktural secara terintegrasi.

Dengan penerapan strategi fiskal yang fleksibel, mereka berharap dapat menciptakan pertumbuhan dan lapangan kerja yang luas. Mereka juga sepakat untuk terus melakukan serangkaian kebijakan struktural dalam rangka meningkatkan pertumbuhan, potensial output dan menjadi contoh bagaimana menangani tantangan struktural.

Komitmen negara-negara tersebut terus berinvestasi pada area-area yang mendukung pertumbuhan ekonomi seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, energi yang ramah lingkungan, ekonomi digital dan pengembangan sumber daya manusia. Serangkaian kebijakan ekonomi yang mengedepankan pertumbuhan tersebut dikombinasikan dengan penguatan sektor perdagangan internasional.

Mereka terus meyakinkan bahwa upaya perdagangan multilateral melalui organisasi perdagangan internasional (WTO) harus dikedepankan. Sementara itu, sembari terus melakukan liberalisasi perdagangan di berbagai kawasan dunia dengan mendorong kesepakatan perjanjian perdagangan seperti Trans-Pacific Partnership (TPP), Japan-EU Economic Partnership Agreement (EPA), the Transatlantic Trade and Investment Partnerhip (TTIP).

Bila dilihat dari dua komponen besar di atas, jelas bahwa upaya mengatasi kelesuan ekonomi global sangat terletak pada dorongan pemerintah agar swasta khususnya perusahaan- perusahaan global dan berskala besar lebih aktif. Artinya, hambatan-hambatan tarif maupun nontarif harus semakin dihilangkan atas nama bekerjanya mekanisme pasar secara lebih baik.

Bila hal ini terus terjadi, tidak akan ada tempat lagi bagi negara berkembang untuk menerapkan kebijakan yang protektif. Pada akhirnya, perlindungan terhadap usaha nasional, pengusaha menengah dan kecil dan kelompok-kelompok ekonomi marjinal semakin terpinggirkan. Hal ini yang harus menjadi perhatian khususnya bagi negara-negara di Asia termasuk Indonesia.

Bangga Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) diundang dalam rangka G-7 outreach meeting untuk berbicara di depan tujuh pemimpin adidaya dunia di Jepang. Indonesia memang bukan satu-satunya negara yang diundang. Selain Indonesia, beberapa negara yang diundang adalah antara lain Bangladesh, Laos, Vietnam, Chad, Sri Lanka, dan Papua New Guinea.

Perwakilan lembaga internasional seperti PBB, OECD dan Bank Pembangunan Asia pun diundang. Undangan ini dapat dilihat dari tiga pandangan. Pertama, tidak bisa dimungkiri Jokowi semakin diakui secara internasional. Kepemimpinan Jokowi dalam menakhodai 255 juta penduduk Indonesia dan kompleksitas masalah yang dihadapi Indonesia jadi salah satu alasannya.

Hingga menjelang dua tahun kepemimpinannya, Jokowi relatif mampu mengatur permasalahan ekonomi bahkan berhasil melakukan konsolidasi politik domestik untuk mendukung pemerintahannya. Kedua, posisi strategis Indonesia di Asia Tenggara tidak bisa dinafikan dari percaturan politik, ekonomi dan strategis di kawasan.

Artinya, bila para pemimpin G-7 berkomitmen menggerakkan ekonomi dunia yang sedang lesu sedangkan Jepang dalam keketuaannya menegaskan bahwa Asia sebagai mesin penggerak untuk bangkit, maka mendengarkan Indonesia menjadi keharusan. Paparan yang disampaikan Jokowi pun berusaha menyambut sinyal dari para pemimpin negara maju tersebut dengan mengedepankan pentingnya stabilitas kawasan dankesejahteraanpada saat yang sama.

Ketiga, bagi bangsa Indonesia sudah selayaknya bangga dengan kehadiran Jokowi tersebut. Dalam khasanah percaturan global, diundang saja dalam satu forum prestisius kelas dunia sudah menjadi hal yang diharapkan, apalagi bila diberikan kesempatan untuk menyampaikan pemikiran-pemikirannya. Kehadiran Jokowi ini juga merupakan penghormatan Indonesia terhadap negaranegara besar di dunia. Indonesia menunjukkan partisipasi aktif dalam mewujudkan kesejahteraan dunia.

Negara G-7 dan Indonesia sama-sama berkepentingan menjalin hubungan yang baik, khususnya Indonesia dan tuan rumah Jepang pascamemanasnya hubungan karena kasus High Speed Train lalu. ●