Selasa, 07 Juni 2016

Hormon di Balik Kuasa dan Dahaga

Hormon di Balik Kuasa dan Dahaga

Reza Indragiri Amriel ;   Penikmat Bacaan Tentang Bung Karno
                                                   KORAN SINDO, 04 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kendati kedigdayaannya selaku pemimpin nasional tidak terbantahkan, satu hal yang acap dianggap memberi warna ”khas” terhadap nama besar Bung Karno: keputusannya memiliki lebih dari satu istri.

Nama-nama yang dikenal sebagai istri sang Proklamator adalah Oetari, Inggit, Fatmawati, Hartini, Dewi, Kartini, Haryati, Yurike, dan Heldy. Selain nama-nama tersebut, hingga kini masih mengapung obrolan tentang kemungkinan adanya perempuan-perempuan lain yang pernah menjadi— meminjam kata-kata Hartini, ”istri-istri dan pacar-pacar Bapak”.

Bak kata datuk nenek tempo doeloe, Bung Karno adalah tipe lelaki yang tak boleh menengok kening licin. Apa motif Bung Karno menikahi sekian banyak perempuan? Alasan paling fundamental yang pernah Bung Karno kemukakan adalah karena ia pengagum kecantikan. Ungkapan itu, dalam biografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia , dibubuhinya dengan dalil bahwa Nabi Muhammad SAW pun mencintai keindahan.

Itu kalimat sadar yang Bung Karno utarakan secara terbuka. Namun, orang-orang psikologi percaya bahwa perilaku manusia disebabkan oleh faktor jamak. Begitu pula para penganut mazhab Biopsikologi atau Psikologi Faal. Mereka tidak percaya sepenuhnya pada apa yang berseliweran dalam kesadaran manusia. Ada pengaruh nonpsikis nan hebat yang diyakini tak kalah bahkan jauh lebih dominan memengaruhi perilaku manusia.

Atas dasar itu, meski tak terucap, niscaya ada penjelasan yang lebih esensial sekaligus lebih jujur di balik sikap Bung Karno untuk berpoligami. Apalagi karena perilaku poligami Bung Karno bergesekan dengan pandangan-pandangannya sendiri tentang keperempuanan. Sebagaimana tulisannya dalam buku Sarinah, semakin kuat dugaan bahwa justifikasi religi atas poligaminya itu lebih sebagai pemulas bibir saja.

Bung Karno seolah bukti hidup tentang pengaruh faktor hormonal terhadap tindak-tanduk manusia. Sudah sejak lama testosteron diasosiasikan dengan libido. Juga, Alexandra Alvergne dari Universitas Montpellier menemukan bahwa lelaki yang berpoligami mempunyai tingkatan testosteron lebih tinggi. Sampai di situ bisa disimpulkan, testosteron adalah hormon yang kemungkinan kuat bertanggung jawab di balik derasnya dorongan yang Bung Karno alami untuk berpoligami.

Studi yang menyatakan bahwa hormon testosteron turun secara gradual setelah usia tiga puluhan sepertinya tidak berlaku pada Bung Karno. Nyatanya, Bung Karno kian kencang mempersunting sejumlah perempuan sebagai belahan jiwanya justru saat ia berada di umur lima puluhan tahun.

Demikian pula teori yang menyebut bahwa orang dengan level tes-tosteron yang tinggi kurang peduli pada anak-anaknya. Teori itu tumbang untuk menjelaskan perilaku Bung Karno yang faktanya sangat mencintai serta memerhatikan anak-anaknya, dan itu diakui oleh darah daging Bung Karno sendiri. Betapa nyatanya pengaruh faktor hormonal terhadap diri Bung Karno sebenarnya pernah dia akui sendiri.

Kepada Cindy Adams, penulis biografinya, disebutkan testimoni bahwa ia adalah seorang lelaki yang penuh dengan luapan hasrat seksual. Karena itu, Bung Karno tak tedeng aling-aling berujar, ”Aku harus bercinta setiap hari!” Begitulah efek testosteron di ranah kehidupan pribadi Bung Karno. Pada sisi lain, testosteron juga yang boleh jadi merupakan penjelasan biologis-hormonal tentang manuver-manuver politik revolusioner Bung Karno.

Semakin Bung Karno bertambah umur, geledek politiknya semakin sambar-menyambar. Dari perjuangan merebut Papua Barat, konfrontasi dengan Malaysia, keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, hingga rupa-rupa perlawanan terhadap neokolonialisme-imperialisme. Semua itu diimbuhi kumandang Panca Azimat Revolusi tiada henti, menjadi rentetan ledakan testosteron sang Pemimpin Besar Revolusi di gelanggang politik.

Sebuah studi yang dilakukan Robert Josephs dari Universitas Texas beberapa tahun lalu mendukung spekulasi tersebut. Simpulannya, lelaki yang terpacu oleh motivasi kekuasaan mempunyai kadar testosteron lebih tinggi. Semakin besar ancaman atau pun tantangan yang dirasakan seorang anak Adam, semakin deras pula pompaan hormon steroid itu terhadap perilaku agresifnya.

Lengketnya hormon dalam kehidupan Bung Karno juga menyelipkan misteri tentang mengapa, berdasarkan catatan perawatnya, ke tubuh Bung Karno disuntikkan testosteron manakala dia bermukim di Wisma Yaso. Apakah karena Bung Karno mengalami penurunan kadar testosteron (hypogonadism)? Rasanya tidak mungkin. Pasalnya, ketika pemeriksaan medis terhadap organ vital saja tidak dilakukan, apa pula urgensi penguasa kala itu untuk memeriksa kondisi testosteron Bung Karno.

Tambahan lagi, penurunan testosteron pada lelaki berumur tampaknya diagnosis yang terlalu didramatisasi. European Male Ageing Study menemukan, tingkatan testosteron menurun hanya 0,1% pada lelaki berumur 40 tahun, 0,6% pada usia 50 tahun, dan 3,2% (60 tahun) dan 5,1% (70 tahun).

Itu sebabnya, banyak praktisi medis meragukan ketepatan terapi pengganti testosteron, sebagaimana yang dikenakan ke Bung Karno, karena penurunan hormon tersebut ternyata tidak sebesar yang digembar-gemborkan. Pada sisi lain, terapi testosteron juga direkomendasikan sekian banyak dokter dalam penanganan pasien yang mengalami masalah ginjal, jantung, dan tekanan darah tinggi. Problem-problem kesehatan itu pula yang tercatat diidap Bung Karno.

Hormon Bukan Segalanya

Apabila manifestasi testosteron Bung Karno di ranah privat (poligami) dan arena publik (revolusi) seperti tertulis di atas digabung menjadi satu, keluarlah penalaran dari perspektif evolusi. Bahwa tingginya testosteron mempertinggi peluang organisme bereproduksi sekaligus— pada saat yang sama— memperkokoh kesiapan individu untuk berkonfrontasi.

Ujung-ujungnya, manusia bertestosteron tinggi adalah manusia yang paling siap mempertahankan diri. Tentu tidak mungkin mengabaikan unsur-unsur individual dan sosial lainnya yang mengantarai hormon dan tingkah laku Bung Karno. Pun, terlalu mengada-ada untuk lantas menyebut Bung Karno diperbudak hormon.

Terbukti, sebagaimana dilukiskan panjang lebar dalam seluruh biografi para istri, anak, bahkan ajudan Bung Karno, mereka mengabadikan figur yang pernah diangkat menjadi presiden seumur hidup itu sebagai suami, sekaligus ayah dengan cinta kasih sepanjang usianya. Allahu a’lam. ●