Selasa, 07 Juni 2016

Dari Muhammadiyah untuk Indonesia Berkemajuan

Dari Muhammadiyah untuk Indonesia Berkemajuan

Ahmad Fuad Fanani ;   Mahasiswa S3 the Universityof Toronto-Canada;
Peneliti MAARIF Institute for Culture and Humanity
                                                   KORAN SINDO, 03 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PP Muhammadiyah belum lama ini mengadakan Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) pada 23-24 Mei 2016 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).  KNIB yang dibuka oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu mengambil tema ”Jalan Perubahan Membangun Daya Saing Bangsa”. Selama dua hari berbagai tema dibahas secara mendalam oleh para pakar dan praktisi. Tema-tema yang dibahas KNIB adalah membangun daya saing bangsa; mewujudkan cita-cita para pendiri republik, demokrasi, HAM, dan penegakan hukum, good governance dan pemerintahan daerah, menggerakkan ekonomi bangsa, revitalisasi agama dan Pancasila dalam identitas keindonesiaan, dan revitalisasi karakter bangsa.

KNIB adalah kontribusi Muhammadiyah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kebangsaan yang hingga hari ini terus terjadi dan membutuhkan perhatian serius. KNIB merupakan kelanjutan dari kontribusi Muhammadiyah yang aktif berperan dalam kebangsaan semenjak sebelum kemerdekaan Indonesia.

Menurut Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, KNIB bertujuan untuk membangkitkan kembali etos perjuangan seluruh rakyat guna mencapai cita-cita Indonesia Berkemajuan. Indonesia Berkemajuan adalah Indonesia yang seperti dicita-citakan para pendiri bangsa ini: merdeka, berdaulat, adil, dan makmur.

Cita-cita itulah yang harus dipegang teguh dan harus direalisasikan segera. Untuk menggapai cita-cita itu, tentu saja dibutuhkan keberanian dari bangsa Indonesia menghadapi tantangan dan menyelesaikan berbagai persoalan bangsa ini dengan penuh optimisme.
KNIB sendiri tidak bisa dipisahkan dengan sumbangan pemikiran yang diberikan oleh Muhammadiyah melalui dokumen ”Indonesia Berkemajuan: Rekonstruksi Kehidupan Kebangsaan yang Bermakna.” Pokok-pokok pikiran ini pada era Din Syamsuddin itu telah ditanfidz-kan pada Tanwir Muhammadiyah di Samarinda pada bulan Mei 2014.

Dokumen penting itu juga telah disampaikan pada pimpinan lembaga tinggi negara, yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Sebelumnya, pada 2010, PP Muhammadiyah juga menyusun pokok-pokok pikiran penting tentang persoalan dan masa depan bangsa melalui naskah ”Revitalisasi Visi dan Karakter Bangsa: Agenda Indonesia ke Depan”.

Jadi, KNIB adalah keberlanjutan kontribusi pemikiran Muhammadiyah tentang berbagai persoalan kebangsaan. Tekad Muhammadiyah untuk berkontribusi pada kebangsaan dan pencerahan umat, baik secara visi, pemikiran, dan aksi ini telah menjadi komitmen sejak awal berdirinya.

Indonesia Berkemajuan

Dalam buku Indonesia Berkemajuan: Rekonstruksi Kehidupan Kebangsaan yang Bermakna (2014) disebutkan bahwa Indonesia berkemajuan merupakan suatu pemikiran yang mendasar dan mengandung rekonstruksi yang bermakna sesuai dengan cita-cita pendiri negara Indonesia.

Cita-cita itu adalah terwujudnya negara dan bangsa yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan sejajar dengan bangsa dan negara lain yang telah mencapai keunggulan. Cita-cita itu juga mempunyai dasar pijakan sejarah dari bangsa ini dan tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Jadi, Indonesia Berkemajuan mempunyai landasan historis, filosofis, dan konstitusional yang kuat.

KH Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah dan tokoh bangsa ini semenjak awal telah berpesan pada muridmuridnya di Muhammadiyah, bahwa kita hendaknya menjadi manusia yang berkemajuan. Yaitu manusia yang senantiasa menjalankan ajaran agama dan hidup sesuai dengan arah gerak zaman.

KH Ahmad Dahlan juga sering menyampaikan bahwa hendaklah kita menjadi seorang yang menjalankan Islam yang berkemajuan. Yaitu ajaran Islam yang tidak jumud dan statis, namun ajaran Islam yang maju, progresif, dinamis, berorientasi ke depan, dan tidak banyak menyesali masa lalu atau terbelenggu beban sejarah.

Para tokoh Muhammadiyah yang lain seperti KH Mas Mansyur yang merupakan anggota 4 Serangkai (KH Mas Mansyur, Soekarno, Hatta, dan Ki Hajar Dewantoro), juga menyampaikan pentingnya Islam Berkemajuan. Ki Bagus Hadikusumo sebagai salah satu tokoh penting yang merumuskan cita-cita kemerdekaan bangsa ini sering mengemukakan konsep bangsa yang ”maju dan berkemajuan”.

Soekarno yang merupakan salah satu Proklamator Indonesia, pernah menjadi pengurus Muhammadiyah di Bengkulu, dan hingga akhir hidupnya tetap mengaku sebagai kader Muhammadiyah, juga sering mengemukakan pentingnya gagasan kemajuan. Indonesia yang maju menurut Soekarno harus dilandasi oleh pemikiran dan cita-cita, bahwa Indonesia mampu berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah bersama bangsa lain.

Indonesia tidak boleh ”menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa”. Soekarno juga sering menekankan pentingnya Islam mengadopsi pemikiran modern, berkemajuan, berpikir rasional, mampu menangkap api Islam dan tidak hanya abu Islam.

Pemikiran-pemikiran Soekarno ini bisa jadi banyak dipengaruhi oleh bacaannya yang luas dan pergaulannya dengan para aktivis Muhammadiyah baik ketika di Surabaya, Bengkulu, maupun setelahnya. Indonesia Berkemajuan menurut Muhammadiyah mempunyai banyak dimensi.

Beberapa di antaranya adalah Pertama, berkemajuan dalam semangat, alam pikir, perilaku, dan senantiasa berorientasi ke masa depan. Kedua, berkemajuan untuk mewujudkan kondisi yang lebih baik dalam kehidupan material dan spiritual. Ketiga, kemajuan untuk menjadi unggul di berbagai bidang dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lain.

Menurut Muhammadiyah, Indonesia Berkemajuan dapat dimaknai sebagai negara utama (al-madinahal-fadhillah), negara berkemakmuran dan berkeadaban (umran), dan negara yang sejahtera (Indonesia Berkemajuan, 2014). Pemaknaan dan cakupan dimensi Indonesia Berkemajuan yang sangat luas itu, bisa menjadi modal dasar bangsa ini untuk maju dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Kerja ke Depan

KNIB kemarin menghasilkan enam pokok pikiran yang sangat penting bagi masa depan bangsa ini. Keenam pokok pikiran itu terdiri dari: perlunya kewajiban kolektif membangun keunggulan bangsa, perlunya bangsa Indonesia bekerja lebih keras, cerdas, dan kreatif untuk memecahkan berbagai persoalan bangsa.

Selanjutnya adalah perlunya konsolidasi demokrasi yang berbasis etik untuk memperkuat good governance dan kepemimpinan bangsa, pentingnya penegakan hukum dan penguatan Indonesia sebagai negara hukum, perlunya revolusi mental dan budaya untuk membangun bangsa ini, dan pentingnya tatanan kehidupan yang berdasarkan Bhinneka Tunggal Ika dan visi bersama.

Keenam rekomendasi itu sangat penting bagi bangsa Indonesia untuk menapaki jalan perubahan agar mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Selama ini Indonesia sering hanya dilihat secara kuantitas sebagai bangsa yang besar dari jumlah penduduk dan luasnya wilayah yang dimilikinya. Selain itu, Indonesia seringnya diperhatikan dunia karena banyaknya sumber daya alam yang dimiliki.

Namun, aspek kuantitas yang melimpah dan merupakan anugerah itu bisa jadi menjadi musibah jika tidak dikelola dengan amanah. Pengelolaan yang tidak amanah itu bisa terlihat dari banyaknya sumber daya alam yang sering dikuasai asing, dan elite politik kita seakan hanya membiarkanhalituterjadibegitu saja.

Mereka lebih suka mendapatkan kompensasi dari perusahaan- perusahaan asing dibandingkan berjuang keras dan kalau perlu mengorbankan nyawanya untuk kesejahteraan rakyatnya. Jika dulu para pendiri dan pejuang bangsa ini berani berjuang untuk rakyatnya dengan slogan ”merdeka atau mati”, tampaknya banyak orang yang sekarang justru lebih suka mengorbankan rakyat atau ”tidak usah merdeka tapi hidup enak”.

Indonesia sering diperhatikan bangsa lain juga karena masih bisa menjadi pasar yang sangat potensial untuk memasarkan produk apa saja. Hal ini karena bangsa ini banyak yang masih suka menjadi konsumen dibandingkan berani menjadi produsen. Ini tentu menjadi ironi yang sangat disayangkan masih terus terjadi ketika Indonesia sudah mengalami kemerdekaannya hampir 71 tahun.

Meskipun banyak masalah yang masih dihadapi bangsa ini, cita-cita Indonesia Berkemajuan tetap harus dinyalakan, diperbincangkan, dipancangkan, dan dibumikan. Bangsa Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk maju dan unggul seperti bangsa-bangsa lain.

Yang diperlukan adalah semangat, kerja keras, tidak gampang mengeluh, dan kemauan untuk bekerja sama antar-elemen bangsa untuk mencapai cita-cita luhur itu. Banyak potensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang bisa diaktifkan dan digerakkan untuk kemajuan bangsa.

Saat ini juga ada ribuan anak bangsa yang sedang menempuh pendidikan baik di luar negeri maupun luar negeri yang siap berkontribusi untuk Indonesia Berkemajuan. Keberadaan mereka tentu sangat potensial untuk meningkatkan daya saing bangsa. Mungkin ada yang mencibir bahwa Konvensi hanyalah bentuk retorika saja.

Namun, rumusan yang serius dan visioner yang dihasilkan melalui konvensi seperti KNIB ini sangat penting sebagai pemandu pencapaian visi bangsa. Bangsa-bangsa yang besar di dunia juga punya ideologideolog yang visioner yang merumuskan kemajuan bangsanya.
Justru ketika tidak ada visi, sebuah bangsa bisa jadi sangat pragmatis dan tidak punya pandangan jauh ke depan. Maka, kita harus optimistis bahwa Indonesia Berkemajuan bisa menjadi kenyataan di Indonesia tercinta ini. ●