Selasa, 14 Juni 2016

Bahagia

Bahagia

Samuel Mulia ;   Penulis Kolom “PARODI” Kompas Minggu
                                                         KOMPAS, 12 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saya membaca 10 cara menjadi bahagia di sebuah media sosial. Artikel itu menjelaskan dengan 10 butir yang singkat dan jelas. Dari dilarang cemburu sampai harus memaafkan. Setelah membacanya, timbul rasa kesal. Saya merasa artikel itu menghilangkan kemanusiaan saya. Mendehumanisasi saya.

Steril

Kalau sekarang saya mengajukan satu pertanyaan pada Anda sekalian, apakah Anda bahagia? Kalau jawaban ya, apa indikator yang Anda gunakan sehingga Anda tahu bahwa Anda itu makhluk yang berbahagia?

Memiliki pasangan hidup yang sesuai angan-angan? Memiliki anak yang sehat dan superpandai? Lajang karena memiliki kebebasan? Kekayaan yang membuat Anda tak pernah kekurangan? Sehat walafiat, usaha lancar seperti jalan bebas hambatan? Cita-cita tercapai bahkan mendapatkan lebih dari yang dicita-citakan?

Atau bahagia itu karena Anda memiliki hidup yang naik dan turun. Kadang cemburu, kadang kesal, kadang mencaci maki dan kadang berperilaku seperti malaikat. Bercita-cita ingin sehat, tetapi ketika tiba waktunya berolahraga ada saja alasan untuk membatalkannya.

telah hari itu berlalu, maka kegiatan itu juga berlalu. Rukun beberapa minggu, kemudian kesal dengan pasangan hidup beberapa hari.

Apakah menurut Anda, bahagia itu adalah sebuah keadaan yang bebas 'kuman' atau yang steril? Jadi, seperti artikel yang saya baca di atas. Tidak boleh ini dan jangan begitu. Harus begitu dan harus begini. Apakah berbahagia itu bukan malah menjadi be yourself, tetapi memaksa menjadi pribadi yang berbeda?

Di sebuah majalah internal untuk para karyawan sebuah bank, saya membaca berbagai artikel dengan tulisan yang menganjurkan manusia itu harus bebas stres. Setelah membacanya, tentu timbul pertanyaan. Bisakah manusia membebaskan kenegatifan di dalam dirinya yang dibawanya sejak ia dijadikan manusia?

Kan katanya tak ada manusia yang sempurna. Terus, mengapa diharuskan bebas stres, bebas dari rasa cemburu, tidak boleh ini dan harus begitu? Ataukah manusia itu sejujurnya sempurna karena ia bukan yang steril, tetapi yang seperti ayunan. Kadang naik, kadang turun. Kadang baik, kadang mengumpat?

Mungkin

Saya bertanya pada diri sendiri, mengapa ada manusia yang membuat artikel untuk membuat saya merasa bukan manusia, dan membuat artikel seperti memasukkan narkoba ke dalam mulut saya sehingga saya melayang untuk sementara waktu?

Apa untungnya yang sementara? Apakah si penulis sudah berada dalam tingkatan hidup yang tidak manusiawi lagi? Sehingga ia tak pernah merasakan perasaan cemburu lagi, tak pernah merasa sedih, tak pernah merasa kecewa, tidak ada kekesalan dan kebencian yang bisa saja menyelinap masuk dengan mengatakan bahwa hidup itu hanya tinggal dijalani saja?

Tak lagi keder kalau dokter mengatakan si penulis mengidap penyakit mematikan karena ia sudah mampu melihat bahwa penyakit adalah sebuah pelajaran hidup sehingga ia bisa naik kelas di dalam pengharapan, di dalam kesabaran dan di dalam kemampuan untuk menerima tidak hanya kebahagiaan, tetapi penderitaan juga yang dilihatnya sebagai sebuah kebahagiaan.

Atau menjadi bahagia itu memerlukan pengalihan isu. Saya bercerita kepada seorang sahabat lama kalau saya ini kesepian dan heran mengapa sampai hari ini saya tak pernah mendapat pasangan hidup setelah berusaha.

Nah, teman lama saya itu menasihati saya untuk mencari kebahagiaan di tempat lain. Macam melakukan aktivitas bepergian, berpikir positif bahwa meski tak ada pasangan masih ada keluarga, teman yang mencintai. Jadi, apakah untuk menjadi bahagia saya harus selalu mengalihkan kepada isu lain? Tidakkah itu macam menggunakan narkoba. Melayang sejenak, menderita setelahnya?

Seorang ibu, kakak teman saya, orangnya baik sekali, pandai, pengetahuannya luar biasa, bicaranya teratur, pendengar yang baik, saya sampai betah berbicara dengannya. Bahkan ia memotivasi tanpa saya merasa dimotivasi. Pokoknya top banget.

Saya mengatakan pada teman saya itu kalau kakaknya itu luar biasa. Anda mau mendengar apa komentarnya. "Keponakan gue aja bilang, jangan percaya ama nyokap. Dia lagi ngibulin elo tuh."

Sampai tulisan ini harus saya akhiri, saya tak pernah bisa mengerti seorang penulis yang dengan luar biasa mampu menulis artikel macam yang telah saya baca di atas. Saya kemudian bertanya pada diri saya sendiri, tak lagi menggubris artikel itu.

Apa ya mungkin bahagia itu adalah kalau seorang manusia bisa melihat sebuah keadaan secara tepat. Kalau harusnya cemburu ya cemburu, dan saatnya tidak cemburu ya tidak cemburu. Bukan pasnya cemburu, terus berusaha melihat kecemburuan dari cara pandang lain, agar tak cemburu. Mungkin loh.