Jumat, 03 Juni 2016

Asketisme Teologis

Asketisme Teologis

Teuku Kemal Fasya  ;   Aktivis Jaringan Antariman;
Dewan Pakar PW Nahdlatul Ulama Aceh
                                                  SATU HARAPAN, 30 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pergaulan antar-iman bukan semata perjumpaan simbolis. Ada banyak kebaikan dan kekayaan spiritual di dalam proses pertemuan itu. Perjumpaan dan dialog intra dan antar-iman kerap membawa kesegaran baru dalam melihat masalah-masalah sosial-budaya-teologi.

Kebaikan perjumpaan seperti itu kadang bisa meningkatkan kualitas iman dan kematangan teologis. Hal itu baik untuk merawat kebhinekaan bangsa ini, dan memperbaiki solidaritas kemanusiaan dan sosial berlandaskan Pancasila.

Tiga Perjumpaan

Perjumpaan pertama dengan Pastor Dominikus Doni Ola, direktur Pastoral Keuskupan Sibolga adalah yang paling terngiang. Secara fisik perjumpaan pertama baru terjadi saat saya diundang sebagai pembicara pada seminar “Dialog Antariman : Menggalang Persaudaraan Sejati Anak Bangsa” 21-22 Desember 2015 di Sibolga. Sebelumnya “di alam rohani” beberapa kali kami berkomunikasi. Pertemuan itu turut mengundang pemuka agama Kristen dari Singkil. Kebetulan saat itu kasus Singkil baru lewat beberapa bulan.

Kasus Singkil ternyata tidak membuat Pastor Doni gundah. Ketika banyak peserta lainnya mulai mengutuki keadaan dan menguar perasaan tertekan sebagai minoritas,  Pastor Doni malah bersikap lain. Baginya, situasi Singkil bisa terjadi di mana saja ketika dialog antarumat tidak terjadi. Ia mengkritik sikap kaum Kristiani yang kurang membangun refleksi diri.

Dalam dialog yang terjadi di waktu senggang, Pastor Doni mengingatkan saya pada sejarah perubahan paradigma Katolik di era modern, yaitu pertemuan Konsilisi Vatikan II (11 Oktober 1962- 8 Desember1965). Dalam pertemuan itu hadir dokumen yang dinamakan Nostra Aetate. Inti utamanya ialah pentingnya gereja melihat dunia non-Kristen secara lebih empatik dan rendah hati. Kata Nostra Aetate di awal dokumen Konsili Vatikan II berarti “di tengah zaman kita”.

Tragedi Singkil dalam pandangan Pastor Doni terjadi karena Kristen gagal berdialog dengan komunitas non-Kristen. “Bahkan setelah melihat gereja-gereja Protestan yang bagus-bagus itu dibongkar, saya malah rela gereja kami saja dibongkar sebagai gantinya.” Memang gereja Katolik awalnya hanya satu yang ditarget bongkar. Kemudian sempat menjadi tiga, tapi akhirnya saat eksekusi dibongkar dua dari empat gereja. Satu gereja sebagai “martir” bagi gereja Protestan lain.

Perjumpaan kedua adalah dengan Pdt. Adolv Bastian Marpaung, ephorus Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA). Awal pertemuan terjadi di Forum Sibolga. Semula saya mengira Pdt. Adolf seorang muslim, karena berpeci dan mengucapkan “assalamulaikum” dengan fasihnya.

Kesan baik di pertemuan itu menyebabkan saya diundang untuk hadir di Padang Sidempuan pada 10 Maret 2016 dalam acara dialog antariman “Menyikapi Radikalisme dan Fenomena Sosial Negatif”.  Pdt Adolf ingin menunjukkan bahwa asal kekristenan di Sumatera Utara bukan hanya Tarutung, Tapanuli Utara yang mayoritas Kristen, tapi juga Sipirok, Tapanuli Selatan yang islami dan banyak pesantren.

Namun Kristen-Muslim di Tapanuli Selatan bisa hidup rukun tanpa pernah lancung ke permusuhan. Pdt Adolf sendiri menulis tesis master tentang teologi Islam damai. Ia tak pernah melihat Islam Indonesia sebagai ancaman. “Islam phobia hanya cocok bagi orang yang sakit jiwa dan tidak pernah mau mengerti Islam”, katanya dalam seminar. Tak sedikit keluarga besar Pdt Adolf muslim. Saat kunjungan keluarga besar ia sering mengambil inisiatif untuk menghadirkan makanan halal. Dalam pertemuan itu, pimpinan GKPA semua memakai peci Angkola yang lebih menyimbolkan Islam.

Perjumpaan ketiga adalah dengan sosok nyentrik di Singkil. Ia dipanggil Ustadz Abdul Manaf. Penampilannya sama sekali tidak mengesankan pemuka agama. Kerap mengendarai sepeda motor butut keliling Singkil, dengan topi koboi, dan sendal jepit. Ia rajin mengunjungi keluarga-keluarga miskin dan mengambil anak-anak mereka untuk disekolahkan. Menurutnya Islam di Singkil semakin tertinggal jika anak-anak sampai tidak sekolah.

Ustadz Manaf membangun beberapa pesantren di Singkil. Modalnya hanya berkomunikasi dengan orang-orang kaya untuk patungan dalam pembangunan. Sisanya ia meminjam di bank dan mencicilnya sendiri. Ia tak bersedia menemui pejabat. Masyarakat Singkil menyebutkan Ustadz Manaf punya ilmu kasyaf, hanya memohon bantuan kepada orang yang tepat dan semua tanpa proposal.

Saat muncul seruan untuk menyerang gereja 13 Oktober 2015, ia melarang santri-santrinya ikut serta. Baginya menghela “Kristenisasi” bukan dengan cara merusak gereja, tapi membangun pusat pendidikan dan mengajarkan generasi muda nilai-nilai agama Islam yang damai dan penuh keunggulan. Ia menamakan semua pesantrennya dengan Darul Mahabbah : Taman Penuh Cinta!

Melampaui Ego Agama

Apa yang dilakukan orang-orang berjiwa besar itu dan jauh dari publisitas disebut sikap asketis. Asketisme mengajarkan pengolahan kesadaran untuk menuju kebaikan dari totalitas kehidupan. Agama sebenarnya memiliki peluang memunculkan sikap asketis. Namun sayang yang galib muncul malah praktik egoisme. Di tengah dunia yang semakin hedonis dan materialistis seperti saat ini, agama sering terseret menjadi kapitalistik dan materialistik.

Akibatnya, model-model praksis seperti ini jarang terlihat. Yang sering muncul sikap tidak peduli atas keyakinan pihak lain, cenderung merendahkan iman lain sebagai penoda dan pendosa, atau lari pada spiritualitas sinis, apatis, dan pasif.

Saat ini kecenderungan di kalangan pemimpin agama atau aktivis keberagaman hanya menonjolkan egoismenya, baik ego identitas agama atau ideologi khas aktivis. Yang teraktualisasi hanya “mengutuk” dan “mendesak”, bukan menyerukan kebaikan. Jarang muncul sikap adil dalam melihat masalah dengan kepala dingin. Kecenderungan seperti ini hanya akan melahirkan masalah baru bagi umat. Padahal pikiran tenang bisa memandu pada banyak alternatif penyelesaian.

Model keimanan seperti itu tidak terlihat di jiwa tiga sosok di atas. Bagi mereka, mengutip kalimat Gus Dur, “Tuhan tidak perlu dibela”. Tuhan lebih besar dari semua persangkaan duniawi. Ini yang harus ditumbuhkan. Jalan asketisme seharusnya sering ditapaki oleh para agamawan dan umat beriman.

Kaum asketis tidak terkurung pada badan, pikiran, materi, simbol, identitas keagamaan yang hanya melahirkan sikap semu dan penderitaan. Gagasan seperti ini kerap terlihat di kalangan kaum sufi dan budhis. Mereka menjauhkan segala hal yang bisa mengerdilkan semangat ilahiyah : cinta dunia/samsara/hub ad-dunyaa! Teringat kata-kata Bikhu Sri Pannavarro, “Budha tidak menginginkan semua orang harus menjadi penganut agama Budha. Nilai-nilai Budha tidak semakin besar ketika orang berbondong-bondong pindah ke agama Budha.”

Tak salah jika kita juga mengambil pelajaran dari Paus Fransiskus, pimpinan ke-266 dalam kelembagaan tertinggi Katolik Roma. Ia orang Argentina keturunan Italia yang sangat keras pembelaannya pada dunia-dunia tersingkirkan. Di sebuah pidatonya ia mengkritik cara beriman dengan mengklaim Tuhan. “Tidak ada Tuhan Katolik”! Cara begitu hanya akan melahirkan penderitaan bagi kelompok iman yang lain. “Yang diperlukan di dunia yang sudah berada di persimpangan ini adalah mencari jalan baru untuk menyebar kebaikan”.

Dalam Islam, manifesto seperti ini terbaca pada Al Quran surat Al Maidah (3) : 2: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” Salah satu tafsir kata “pelanggaran” (al-‘udwan) juga memasukkan makna permusuhan dan menzalimi manusia di dalamnya. Konsekuensi logisnya, jika semangat permusuhan/zalim ada di dalam dada, tentu ia bukan orang beriman.

Benar, di dalam setiap kebaikan pasti ada jalan menuju Tuhan. Dan jalan itu pasti lurus.