Sabtu, 25 Juni 2016

Ahok dan "Hollands Denken"

Ahok dan "Hollands Denken"

JJ Rizal ;   Sejarawan dan Pekerja di Komunitas Bambu;
Penerbit khusus Buku-Buku Sejarah
                                                         KOMPAS, 24 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

“Ulang tahun Jakarta 22 Juni 1527 ditemukan di tengah semangat besar pembebasan sejarah Indonesia dari sudut pandang kolonial. “Jauhi penyakit Hollands denken,” begitu pesan Walikota Sudiro pada awal 1956 ketika menugaskan guru besar sejarah di UI, Prof. Dr. Sukanto, mencari hari lahir Jakarta.

Mengapa pesan Walikota Sudiro itu perlu diungkit lagi?

Gampangnya karena ulang tahun Jakarta sudah dekat. Lebih jauh karena Gubernur Ahok dalam soal kawasan sejarah Pasar Ikan dan Luar Batang akhirnya berkonsultasi dengan pakar arkeologi.

Tetapi, sayangnya—selain sudah telat karena situs sejarah benteng Zeeburg dalam penggusuran Pasar Ikan yang lalu ikut digusur—Gubernur Ahok menggunakan hasil konsultasi itu untuk menyerang dan melegitimasi niatnya menggusur Luar Batang: “Pada era kolonial kawasan Luar Batang dijadikan gudang penyimpanan, jika ada gudang mana mungkin ada warga bermukim di sana.”

Celakanya pernyataan Gubernur Ahok itu keliru. Sebab menurut F. de Haan dalam Oud Batavia kampung Luar Batang oleh Kompeni dijadikan pemukiman yang menampung para nelayan dari Jawa Timur dan Cirebon yang disebut wetanger, orang-orang dari timur.

Kekeliruan ini memalukan sekaligus memberitahukan bahwa Gubernur Ahok menderita hongeroedem (busung lapar) sejarah. Gubernur tidak tahu sejarah paling elementer kotanya bahwa Luar Batang adalah kawasan yang menyatu dengan sejarah Sunda Kelapa, kota bandar yang jauh sebelum Belanda tiba sudah ada dan diacu sebagai cikal-bakal Jakarta.

Sebab itu pernyataan Gubernur Ahok mengandung kuman berbahaya yang bisa membangkitkan lagi penyakit sejarah paling mematikan, yaitu sejarah Indonesia sama dengan sejarah orang Belanda, tak terkecuali sejarah Jakarta.

Sejarah Jakarta hanya dimulai saat orang Belanda tiba dan membangun Batavia. Sebelum itu tidak ada sejarah Jakarta. Para sejarawan menyebutnya Neerlandosentris.

Cara pandang kolonial

Cara pandang sejarah yang berorientasi kolonial. Inilah yang disebut Sudiro sebagai penyakit Hollands denken, yaitu ungkapan tersohor pasca-kemerdekaan yang digunakan Sukarno untuk menunjuk kepada “pandangan yang cupet, cetek, sempit, dangkal dan bodoh”.

Ungkapan Hollands denken sering digandengkan dengan kleinburgelijk atau pandangan dunia seseorang yang bagai katak dalam tempurung. Pola pikir kleinburgelijk disampaikan secara sistematis melalui sekolah rendah dan menengah.

Dalam konteks sejarah, misalnya, yang diajarkan di kelas hanya sejarah Belanda, seperti pelajaran vaderlandsche geschiedenis dan geschiedenis van Netherlandch-Indie yang berisi sejarah peradaban Belanda, para pahlawannya dan bagaimana datang ke Nusantara seraya membangun koloni.

Sejarah itu kemudian ditransformasikan ke ruang-ruang publik melalui penamaan jalan dan taman di Batavia juga kota lainnya.

Tak aneh begitu Indonesia merdeka semangat mengganti sejarah gaya kolonial yang Neerlandosentris kepada yang berorientasi nasional atau Indonesiasentris menggema menyusul nama-nama jalan yang sebelumnya telah diubah.

Tokoh-tokoh sejarah Indonesia ditampilkan untuk mengganti nama-nama pahlawan kolonial yang dijadikan nama-nama jalan di Batavia. Nama jalan Jan Pieterzoon Coen menjadi jalan Sultan Agung yang adalah musuh bebuyutannya.

Pahlawan Belanda dalam perang Aceh yang diabadikan sebagai nama jalan van Heutzs diganti jalan Teuku Umar dan Cut Mutiah.

Pahlawan Diponegoro yang mengobar perang paling menguras kas negara Belanda dijadikan pengganti nama jalan Orange Boulevard.

Akhirnya nama Batavia yang digunakan Sekutu setelah Jepang kalah secara resmi oleh pemerintah RI pada 1950 dipulihkan menjadi Jakarta lagi, seraya ditetapkan sebagai nama resmi.

Jakarta kota baru

Jakarta bukan kelanjutan Batavia. Jakarta kota baru. “Bahkan Jakarta harus jadi mercusuar daripada perjuangan melawan kolonialisme seluruh umat manusia,” kata Sukarno.

Sebab itu Batavia tidak cukup sekadar diganti namanya, tetapi juga dicarikan ulang tahunnya yang menunjukkan sejarah perlawanan terhadap kolonialisme.

Selain itu, hari ulang tahun Jakarta pun harus mencerminkan bahwa sebelum orang-orang Eropa datang Jakarta telah menjadi poros kekuatan pribumi. Otomatis suara sejarah kota bandar Kalapa, Sunda Kalapa dan Jayakarta pun menaik.

Para sejarawan dan arkeolog mempublikasikan aneka sumber sejarah dan membukakan wawasan baru sejarah serta peradaban besar pra Batavia.

Sekitar 85 tahun sebelum orang Belanda tiba, telah menjelajah Tome Pires dari Portugis ke pantai utara Jawa pada 1513. Pires melaporkan Kalapa adalah salah satu pelabuhan terpenting Kerajaan Sunda.
Kalapa giat dalam aktivitas perdagangan ekspor impor internasional. Sebab itu ramai dikunjungi orang-orang India, Cina, Arab, dan kawasan Nusantara, terutama Maluku karena urusan rempah. Kalapa dikelola dengan sistem ekonomi uang oleh suatu pemerintahan lokal yang dipimpin syabandar.

Informasi dari Pires itu dikuatkan sumber Sunda  kuno, Bujangga Manik, Carita Parahiyangan dan Sanghyang Siksakandang ing Karesian dari tahun 1518.

Terlebih menarik pada 1539 ada lagi laporan Joae de Barros dari Portugis yang menyatakan bahwa di Kerajaan Sunda yang memayungi pelabuhan Kalapa bermukim 50.000 orang.

Mengingat Kalapa adalah pelabuhan terpenting dan terbesar, maka sejarawan RZ Leirissa dan arkeolog Uka Tjandrasasmita memperkirakan dihuni oleh 15.000 orang.

Perkiraan ini bisa diterima sebab ketika orang Belanda pertama kali tiba di Sunda Kalapa yang sudah bernama Jayakarta pada 1596, mereka disambut syabandar dan dilihatlah di kota pelabuhan itu ada 3.000 rumah.

Ulang tahun Jakarta

Sejarah besar itulah yang ingin didengungkan dan merupakan tugas Gubernur Jakarta setiap ulang tahun Jakarta dirayakan.

Adalah benar bahwa tanggal dan bulan ulang tahun yang ditemukan oleh Prof. Dr. Sukanto itu keliru serta dikritik oleh Prof. Dr. Hussein Djajadiningrat sehingga terjadi polemik hebat, meskipun sayangnya kedua pendapat mereka juga kacau, tetapi—seperti kata Adof Heuken dalam Historical Sites of Jakarta—bagaimanapun Sudiro sebagai pemimpin Jakarta sudah menang.

Sebab akhirnya Sudiro mendapatkan hari ulang tahun pesanannya yang jauh dari penyakit Hollands denken. Otomatis ia punya legitimasi historis mendesak Sukarno segera meresmikan Jakarta sebagai ibukota Indonesia.

“Tunggu apa lagi Bung, Jakarta sudah punya syarat lengkap,” tantang Sudiro pada 1959 menjelang ulang tahun Jakarta di tengah ramai polemik pindah ibukota.

Kalau Jakarta adalah wajah muka Indonesia, maka Jakarta punya lanskap daratan yang dibentengi gunung-gunung di selatan lantas membujur ke utara dengan keluasan laut yang ditaburi pulau-pulau sebagai wilayah dominan.

Ini gambaran wajah muka Indonesia sebagai archipelagic state atau negara laut utama. Dari laut, pantai, muara dan teluknya Jakarta itu pula bangkit sejarah besar Sunda Kelapa yang tidak mungkin lagi bisa diabaikan apalagi dilupakan.

Sukarno tidak menjawab. Tak selang lama, dekat Sudiro selesai menjabat, Sukarno menyerahkan secarik kertas kepadanya. Isinya tulisan tangan versi bahasa Indonesia pesan Sukarno di gerbang akhir Museum Sejarah Perjuangan Nasional Mexico pada akhir Mei 1959:

“Kita tidak meninggalkan sejarah oleh karena sejarah berjalan terus dengan penghidupan kita.Tanah tumpah darah merupakan suatu kelanjutan dari masa lalu dan kita adalah kelanjutan anak bangsa yang bekerja untuk kebesarannya. Dari zaman lampau kita menerima kekuatan yang dibutuhkan untuk zaman sekarang, dari zaman lampau kita kita menerima niat dan dorongan buat hari depan, marilah kita menyadari tanggung jawab yang mengikuti dari masa lalu itu, agar kita semakin patut menerima kehormatan.”

Setahun kemudian, 1961, dalam pidato ulang tahun Jakarta ke-434 di Lapangan Ikada, Sukarno mengakhiri semua polemik yang dilakukan mulai dari politisi sampai ahli kebatinan tentang pemindahan ibukota.

Ia menunaikan permintaan Sudiro menyatakan perlu dibuat undang-undang yang mengukuhkan Jakarta sebagai ibukota dan meningkatkan statusnya dari kota praja menjadi provinsi yang dipimpin seorang gubernur.

Sukarno pun berpesan:

“Kau Gubernur Jakarta kenalilah sejarah Sunda Kelapa, Jayakarta sehingga bisa kau ambil buah faedahnya untuk kita bangun kota kemenangan sempurna. Itulah arti Jayakarta. Kota yang bermanfaat bagi semua. Seperti pohon kelapa pada Sunda Kelapa berguna bagi semua. Jangan kau contoh Batavia kota yang hanya megah bagi kaum uangnya, tidak bagi rakyat banyak, bahkan mereka dicurigai. Kota kemenangan sempurna megah dalam segala arti, sampai di dalam rumah-rumah kecil daripada marhaen di kota Jakarta harus ada kemegahan.”