Selasa, 07 Juni 2016

Agama Masa Gitu

Agama Masa Gitu

Sarlito Wirawan Sarwono ;   Guru Besar Psikologi UI;
Dekan Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI
                                                   KORAN SINDO, 05 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dulu, di zaman Bung Karno, kalau ada pejabat atau tokoh mau pidato, termasuk Bung Karno sendiri, selalu mengawalinya dengan pekik, “Merdeka!”, disambut oleh hadirin dengan gegap gempita, “Merdeka!”.

Kadang-kadang pekik-memekik itu berlangsung tiga kali, tetapi sesudah itu sudah! Langsung pidato! Hadirin pun menyimak dengan khidmat sampai selesai. Sekarang lain lagi. Semua pidato atau sambutan tidak lagi diawali dengan pekik “merdeka”. Sebagai penggantinya, pernah diucapkan “selamat pagi/siang/ sore/malam”, tetapi itu tergusur lagi dengan salam agama (mayoritas Islam), “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Sesudah itu makin banyak yang menambahkan dengan “salam sejahtera buat kita semua” dan yang terakhir mulai banyak yang menambahkan lagi dengan “om swastiastu om.” Mungkin sebentar lagi ada sapaan versi Budha dan Konghucu yang ditambahkan, sehingga salam pembukaan pidato atau sambutan semakin panjang, tetapi tidak apa-apalah, karena maksudnya mewadahi ke-Bhineka Tunggal Ika-an.

Tetapi yang mengherankan buat saya adalah justru pidato atau sambutan tidak lagi diawali dengan salam yang inklusif, melainkan makin eksklusif, yang tertuju untuk agama Islam saja. Jadi sapaan berisi doa, “Assalamualaikum waramatullahi wabarakatuh” tidak dilanjutkan dengan salam dari agama-agama lain, melainkan dilanjutkan dengan doa-doa Islam sendiri tentang rasa syukur ke hadirat Allah SWT, dilanjutkan dengan doa-doa untuk Rasullah dan para sahabat, dilanjutkan lagi dengan doa untuk para orang tua, guru, pendidik, bla-bla-bla, baik yang masih sehat, maupun yang sudah mendahului kita, dan akhirnya ditutup dengan doa sapu jagat “Rabbana atinya fiddunya hasanah wafil-akhirati hasanah waqina Rabbana atinya fiddunya hasanah wafil-akhirati hasanah waqina adzabanar.”

Semua itu bisa makan waktu 2-3 menit, barulah pembicara melanjutkan dengan isi pidato atau sambutan yang sebenarnya. Itu pun bisa ditambah lagi dengan sapaan terhadap para VIP yang hadir, sehingga ada 2-3 menit waktu yang terbuang karena tidak ada isinya (apalagi kalau doa itu diucapkan dalam bahasa Arab penuh), atau isinya tidak menyangkut materi pidato atau sambutan. Ini barangkali hanya terjadi di Indonesia, karena saya tidak pernah mendengarnya pada upacara-upacara serupa di luar negeri (negeri mana pun), kecuali dalam upacara-upacara khusus keagamaan (seperti khotbah Jumat, atau peringatan hari keagamaan).

Mungkin memang ada baiknya kita selalu diingatkan kepada agama. Tentu supaya kita selalu amar maruf nahi munkar. Kenyataannya, di Indonesia malah kemungkaran makin menjadi-jadi. KPK sudah 13 tahun eksis, korupsi tidak makin berkurang, malah bertambah. Perkosaan makin kejam, korbannya dibunuh, bahkan dimutilasi. Peredaran narkoba makin tidak terkendali, tawuran bukan antarsiswa saja, tetapi juga antarkampung dan antarpendukung calon dalam pilkada.

Pelanggaran lalu lintas, kebiasaan tidak mauantre, buang sampah sembarang, dan lainnya makin menjadi-jadi. Sebaliknya, begitu kita nyetel televisi, di stasiun mana pun, jam berapa pun, selalu ada siaran agama, baik berupa taushiah dari ustaz dan ustazah kondang, maupun dalam bentuk laporan keindahan alam atau kejaiban di dunia yang terkait dengan kebesaran agama. Nanti, buka Facebook, pun isinya diskusi agama, Whatsapp penuh dengan berbagai kutipan ayat Alquran, maupun hadis.

Twitter juga buat diskusi agama. Blog dan situs internet isinya juga agama melulu. Seakan-akan tidak ada yang lebih penting di Indonesia ini untuk dibicarakan selain dari agama. Pantaslah kalau Pew Research Center yang mengadakan penelitian pada 2015 menemukan bahwa Indonesia adalah negara nomor tiga sedunia yang rakyatnya (95%) mengaku bahwa agama sangat penting dalam kehidupan mereka. Indonesia berada di bawah Senegal (97%) dan Etiopia (96%).

Sebagai perbandingan, persentase di Palestina hanya 74%, AS 53%, Italia (yang seluruhnya Katolik) hanya 26%, Rusia (yang memang bekas negara komunis) 19%, Prancis 14%, Jepang 11%, dan China 3%. Kalau dihubungkan dengan tingkat kemajuan dan kesejahteraan bangsa masing-masing, akan terbayang bahwa ada korelasi yang terbalik antara pentingnya agama dalam kehidupan dengan kesejahteraan dan kemajuan suatu negara.

Makin tidak perhatian pada masalah agama, semakin maju dan sejahtera bangsanya. Tentu ada yang tidak sependapat dengan saya dan menyatakan bahwa agama apa pun selalu mengajarkan kedamaian, antikekerasan, karena Tuhan cinta damai. Betul, begitulah yang diajarkan dalam agama. Karena itulah kita mengutuk tragedi “The Killing Field” di Kamboja pada 1970-an, ketika tentara Khmer Merah membunuhi manusia, termasuk wanita, anak-anak dan ibu hamil, dengan sangat kejam.

Kata kita (orang Indonesia) waktu itu, karena pasukan Khmer Merah adalah komunis yang tidak bertuhan. Tetapi apa bedanya dengan sekarang? Organisasi yang menamakan diri Jamaah Islamiah mengebom pantai Kuta Bali, gereja-gereja, hotel-hotel, kedutaan besar, dan membunuhi orang-orang tak berdosa. Tentara ISIS menyembelih manusia hidup-hidup (sesama muslim, termasuk wanita-wanita yang tidak mau melayani hasrat seksual para “mujahidin” itu).

Katanya agama cinta perdamaian, lalu apa bedanya laskar mujahidin, yang konon Islami itu, dengan tentara komunis Khmer Merah? Akhirnya, jangan lupa, ini sudah mau masuk bulan puasa. Katanya orang Indonesia menganggap agama paling penting. Tetapi di setiap malam sepanjang Ramadan hampir semua stasiun televisi menayangkan acara bertemakan agama, tetapi isinya sama sekali bukan agama, melainkan lawak yang saling melecehkan, kadang menyerempet porno, pokoknya bagaimana caranya membuat penonton tertawa.

Peran ustaz hanya disisipkan untuk memberi wejangan 1-2 menit saja. Itu pun sebelumnya tidak jarang sang ustaz dikerjain dengan melibatkannya dalam lawakan model slapstick itu. Herannya, ustaznya kok mau? Maka saya bertanya pada diri saya sendiri, “Agama kok begitu?” ●