Selasa, 12 April 2016

Wajah Nabi

Wajah Nabi

Sarlito Wirawan Sarwono ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
                                                   KORAN SINDO, 10 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Islam mengharamkan umatnya untuk menggambarkan wajah Rasulullah dalam bentuk apa pun. Lukisan, patung, atau yang lainnya. Maksud dari pengharaman penggambaran wajah Rasulullah itu, sejauh yang saya ketahui, adalah untuk mencegah umat mengultuskan diri beliau. Yang harus ditiru dan diimani adalah ajarannya, perilakunya, firman-firman Allah yang disampaikan melalui dirinya, bukan sosoknya atau individunya, karena sebagai sosok atau sebagai individu, Nabi Muhammad SAW adalah manusia biasa.

Tetapi betulkah asumsi atau dalam bahasa ilmiahnya: hipotesis, bahwa menggambarkan wajah Nabi akan mengurangi, bahkan bisa mencegah sama sekali kecenderungan untuk kultus individu? Marilah kita sejenak berpikir secara ilmiah tanpa mengaitkannya dengan agama dulu.

Berlainan dengan Islam, mayoritas penganut Buddha mematungkan sosok Buddha Gautama. Kaum Buddhis sendiri tidak memandang sang Buddha sebagai nabi, apalagi Tuhan, melainkan sebagai sumber inspirasi untuk terus-menerus melakukan kebaikan. Tetapi di seluruh dunia, Buddha tetap dianggap sebagai agama, karena Buddha memenuhi kriteria agama, termasuk memiliki kitab suci dan ritual-ritual tertentu yang harus diikuti umatnya.

Buat pembaca yang sudah pernah melihat patung Buddha di Candi Borobudur dan di Thailand tentu bisa mengamati bahwa ada perbedaan antara patung-patung versi Borobudur dan versi Thailand. Di Borobudur, wajah Buddha bulat seperti wajah orang Jawa pada umumnya, dengan tubuh yang hitam (seperti kulit orang Jawa) karena bahan dasarnya adalah batu yang diukir.

Di Bangkok, patung-patung Buddha berwajah tyrus (bulat panjang), lebih feminin, dan tubuhnya berwarna keemasan (mirip wajah dan warna kulit orang Thailand), karena terbuat dari logam yang disepuh emas. Bahkan di Jakarta, sepanjang saya tahu, ada sekte Buddha Nichiren yang tidak meletakkan patung apa pun di altarnya, kecuali kaligrafi-kaligrafi tertentu sebagai ornamen. Maksudnya sama dengan dalam Islam, yaitu untuk menghindari kultus individu.

Tetapi apa pun versi penggambaran sosoknya, saya tidak melihat umat Buddha disonan (tidak senang) terhadap sosok Buddha tertentu. Setahun sekali umat Buddha dari seluruh dunia hadir di Borobudur pada upacara Waisak dan tidak ada yang protes tentang sosok Buddha versi Borobudur yang seperti orang Jawa itu.

Sebaliknya, kawan saya, seorang dokter asli Bali, ketika berada di Nepal bersama saya dan beberapa teman peneliti, untuk mengikuti sebuah kongres tentang kesehatan masyarakat di Katmandu, sempat mengunjungi sebuah kuil (di Bali disebut: pura) Hindu di tepi sebuah sungai yang besar. Karena KTP-nya bertuliskan ”agama: Hindu” dia saja yang diperkenankan masuk ke kuil tersebut. ”Mau berdoa”, katanya. Tetapi baru beberapa menit, dia sudah keluar lagi dari kuil. Kawan-kawannya yang di luar (termasuk saya) heran dan bertanya, ”Kenapa cepat amat berdoanya?” Jawabnya, ”Nggak jadi berdoa, Dewanya nggak ada yang saya kenal”. Jadi, dia disonan dengan penggambaran dewa-dewa yang tidak sesuai dengan yang dibayangkannya.

Pada kesempatan lain, saya pernah ke Taiwan bersama istri saya dan bersama turis yang lain dalam guided city tour. Kami diajak masuk ke sebuah kelenteng yang sangat besar. Di dalamnya banyak patung dewa-dewi dan banyak pula umat yang sedang berdoa. Tetapi mereka tidak berdoa di depan satu patung dewa besar di tengah kelenteng (mungkin patung Konghucu), tetapi tersebar berdoa di depan patung dewa masing-masing yang ditempatkan terpisah-pisah satu sama lain, walaupun tata cara berdoa mereka tetap sama (menggunakan hio, melempar-lempar kepingan bambu dll).

Lain lagi dengan umat Katolik. Sosok Yesus Kristus dalam agama Katolik mempunyai peran yang lebih sentral daripada di agama Kristen Protestan. Karena itu, penggambaran sosok Nabi Yesus (dalam Islam: Nabi Isa AS) selalu ditampilkan, baik untuk ditempatkan di salib, altar gereja, maupun untuk hiasan Natal dan lainnya. Sosok Yesus yang paling umum adalah bule, rambut gondrong berwarna pirang dan mata biru, pas dengan wajah tipikal ras Kaukasia.

Tetapi di Jawa Tengah bisa ditemukan penggambaran kelahiran Yesus versi Jawa dalam kontes Jawa: Yusuf mengenakan surjan lengkap dengan blangkonnya dan Bunda Maria berkebaya cantik (Yesusnya tetap boneka). Jadi, penggambaran nabi dalam agama-agama yang saya contohkan di atas, secara empiris tidak menyebabkan kultus individu. Penggambaran itu hanya dimaksudkan sebagai lambang pemujaan kepada Yang Kuasa. Sama saja dengan kaligrafi ”Allah” dalam Islam yang dipasang di atas altar masjid untuk mengingatkan kita kepada kebesaran-Nya, dan sama juga dengan kaligrafi huruf Cina di altar Buddha Nichiren.

Dampak dari pengharaman visualisasi sosok Rasulullah, sepanjang yang saya tahu, sampai hari ini belum ada yang mengultuskan Muhammad SAW sebagai individu. Di sisi lain, justru sosok lainlah yang dikultuskan seperti Osama bin Laden, Al Bagdadi, Abu Sayab, Abu Bakar Baasyir, dan lainnya, melalui gambar-gambar mereka di berbagai media massa, media sosial, maupun kaus-kaus. Mereka semua berpenampilan Arab, bersorban atau topi putih, jubah putih, dan janggut lebat. Kemudian inilah yang di-copy paste oleh sebagian muslim Indonesia, ditambah lagi dengan celana tiga perempat dan sandal. Makin berkurang sosok muslim Indonesia yang berbaju koko dan berpeci.

Di kalangan umat perempuan yang tampil adalah jilbab, dan bahkan sudah mulai banyak cadar. Semua ini perwujudan dari sosok Arab. Berbeda sekali dengan tahun 1960-an yang semuanya masih asli Islam Nusantara. Celakanya, banyak di antara tersangka KPK yang justru berjenggot atau berjilbab. Jadinya malah Islam sebagai keseluruhan terbawa jelek citranya, sehingga Islam pun dikait-kaitkan dengan terorisme (karena memang tidak ada teroris yang berpeci).