Kamis, 14 April 2016

Refleksi Olahraga Nasional

Refleksi Olahraga Nasional

Tono Suratman ;   Ketua Umum KONI Pusat
                                              MEDIA INDONESIA, 13 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

KRISIS sosial berupa merebaknya aksi-aksi antisosial, tawuran pelajar, deviasi seksualitas, dan peredaran narkoba mengejutkan kita semua. Terbaru, tertangkapnya Bupati Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Ahmad Wazir Nofiadi karena kasus narkoba, menunjukkan akumulasi krisis telah mencapai titik gawat. Keteladanan elite hadir sebagai mitos belaka akibat krisis moral dan kekarut-marutan korupsi yang semakin mengkhawatirkan.

Kondisi tersebut mengingatkan kita semua bahwa karakter mental bangsa ini, terutama elitenya, memprihatinkan. Kejujuran, keadilan, kesantunan sosial, kerja keras, dan sportivitas sebagai komponen utama manusia berkarakter semakin terabaikan. Ujungnya, kesejahteraan sosial dan keadaban publik menjadi taruhan.

Kabinet Joko Widodo-Jusuf Kalla telah mencanangkan pentingnya revolusi mental untuk mengatasi berbagai persoalan bangsa. Asumsinya jelas: krisis yang melanda bangsa ini sudah mencapai taraf membahayakan. Perbaikannya tidak boleh tambal-sulam, tetapi harus sistematis, mendasar, masif, dan berkelanjutan. Di sinilah pentingnya olahraga.

Peran strategis

Olahraga memainkan peran strategis bagi pembentukan karakter mental manusia. Berbagai riset mengungkap olahraga berfungsi untuk menciptakan kebugaran, memacu kerja otak, dan membentuk karakter bertanggung jawab, disiplin, jujur, serta memajukan keahlian dan pengetahuan (Huizinga, 1938; Davidson, 2005). Singkatnya, olahraga menyegarkan badan, mencerahkan pikiran, dan membangun karakter.

Pada level nasional, olahraga menjadi energi pembangunan dan sumber kehormatan. Presiden Soekarno meletakkan olahraga sebagai pembentuk karakter bangsa. Olahraga dikembangkan untuk membangun manusia Indonesia baru, mewujudkan dedikasi dan pengabdian bagi bangsa, serta menjadi sarana untuk nation and character building. Tegasnya, olahraga menjadi wadah untuk melaksanakan Ampera.

Orde Baru memberi dukungan luas terhadap olahraga. Melalui slogan 'Mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga', Presiden Soeharto membangun olahraga untuk mendongkrak prestasi dan kehormatan bangsa di mata dunia internasional. Olahraga dikembangkan untuk mendukung pencapaian atlet-atlet pada ajang kompetisi olahraga internasional, khususnya SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade.

Tingginya dukungan negara terhadap olahraga membawa dampak yang menggembirakan bagi pencapaian prestasi olahraga nasional. Pada 1956, sepak bola Indonesia berhasil menahan imbang Uni Soviet. Selanjutnya, dalam Asian Games 1958, Indonesia berhasil meraih posisi tiga besar. Karya monumental Soekarno di bidang olahraga ialah berdirinya stadion yang hingga kini menjadi simbol kebanggaan nasional, yakni Gelora Bung Karno.

Prestasi olahraga nasional terus mengilap di era Orde Baru. Sejak 1979-1999, Indonesia sembilan kali menjuarai SEA Games. Orde Baru juga berhasil melahirkan atlet-atlet hebat yang mengharumkan nama Indonesia di jagat global seperti petinju Elyas Pical dan legenda bulu tangkis seperti Rudi Hartono, Icuk Sugiarto, Lilik Sudarwati, Susi Susanti, dan Alan Budi Kusuma.

Torehan prestasi tersebut terhenti sejak Indonesia memasuki era reformasi. Perhatian negara terhadap olahraga dirasakan kurang memuaskan. Presiden BJ Habibie sama sekali tak sempat memberi perhatian terhadap olahraga karena krisis sosial-politik dan masa kepemimpinannya teramat singkat. Presiden Abdurrahman Wahid membubarkan Kementerian Pemuda dan Olahraga dan berlanjut ke era Presiden Megawati Soekarnoputri. Olahraga baru mulai mendapat perhatian lagi di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan menghidupkan kembali Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Minimnya perhatian pemerintah terhadap olahraga membawa dampak amat merugikan bagi bangsa Indonesia. Praktis sejak 1999-2015, Indonesia kehilangan taji dalam perhelatan olahraga internasional. Di ajang SEA Games, Indonesia kalah tangguh dari Malaysia dan Thailand.

Di ajang Asian Games, kondisi Indonesia lebih memprihatinkan lagi. Sebagai contoh, Asian Games XVII di Incheon, Korea Selatan, pada 2014, Indonesia terpuruk ke posisi 17 dengan torehan 4 emas, 5 perak, dan 11 perunggu. Kondisi itu turun dari prestasi Asian Games 2010 di saat Indonesia berada di peringkat 15 dengan 4 emas, 9 perak, dan 13 perunggu.

Pembenahan mendasar

Kenyataan ini kiranya menginspirasi bangsa Indonesia untuk melakukan pembenahan mendasar terhadap kebijakan olahraga nasional. Kemauan politik yang kuat, regulasi yang jelas, dan harmonisasi antara pemerintah, sektor swasta, dan organisasi olahraga perlu ditingkatkan. Berbagai persoalan yang merintangi pengembangan olahraga, seperti konflik kepentingan, politisasi, dan minimnya pendanaan, sudah saatnya diantisipasi. Di saat bersamaan, academic discourse dan pengetahuan olahraga harus terus dipacu guna melahirkan gagasan-gagasan, inovasi, dan agenda-agenda konkret untuk memajukan olahraga nasional.

Indonesia perlu belajar dari Tiongkok yang total memberikan dukungan terhadap olahraga. Sejak 1950-an, 'Negeri Tirai Bambu' memberikan dana besar untuk memajukan olahraga. Pada 2015 Tiongkok mengalokasikan 9,2% dana negara untuk membangun olahraga, budaya, dan media massa. Dukungan tersebut dimaksudkan untuk membentuk identitas nasional Tiongkok sebagai negara yang kuat, bersatu, pekerja keras, dan selalu berpretasi, termasuk di bidang olahraga. Bersama AS dan Rusia, Tiongkok kini menjadi superpower karena selalu mendominasi perolehan medali di ajang Olimpiade.

Pembenahan kebijakan olahraga nasional juga diarahkan untuk mencapai dua tujuan: pertama, mengatasi berbagai krisis sosial yang melanda bangsa Indonesia saat ini. Merosotnya semangat kebangsaan dan munculnya gerakan radikal seperti terorisme serta peredaran narkoba yang kian masif merupakan akibat langsung dari tergerusnya peran strategis olahraga sebagai pembentuk karakter bangsa.

Pemerintah memang telah bertindak tegas terhadap tindak terorisme dan penyalahgunaan narkoba, tetapi hal itu perlu diperkuat dengan membangun budaya olahraga. Berbagai instansi pemerintah dan swasta, dari pusat hingga daerah, harus menerapkan kebijakan yang mewajibkan masyarakat untuk berolahraga. Lembaga pendidikan sudah saatnya memberi porsi besar waktu untuk pendidikan dan aktivitas olahraga.

Hal ini efektif untuk menyalurkan potensi anak sekaligus meminimalisasi alokasi waktu untuk aktivitas yang menghambat perkembangan mental. Riset terbaru di Amerika mengungkap satu dari tiga anak yang kecanduan gim video mengalami gangguan mental seperti hiperaktif, depresi, gelisah, dan merosotnya prestasi belajar.

Kedua, Asian Games XVIII akan digelar di Indonesia pada 2018. Momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk kebangkitan olahraga nasional. Selain sukses sebagai penyelenggara, Indonesia diharapkan mampu meraih prestasi optimal dalam perhelatan olahraga terbesar di level Asia tersebut. Itu tentu target besar yang hanya bisa terwujud jika pemerintah, sektor swasta, dan organisasi olahraga mampu secara total mengabdikan seluruh karya mereka semata-mata untuk kejayaan olahraga nasional.