Kamis, 14 April 2016

Pembangunan Berkelanjutan dan Reklamasi

Pembangunan Berkelanjutan dan Reklamasi

Rohmad Hadiwijoyo ;   Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang
                                              MEDIA INDONESIA, 13 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

DALAM dua tahun terakhir ini pembangunan di wilayah DKI Jakarta seperti dikebut, mulai pembangunan jalan tol, MRT, hingga rencana reklamsi 17 pulau yang saat ini diributkan dan terancam terjadi kebuntuan. Hal itu tidak akan terjadi apabila dalam membangun sebuah kawasan kota atau megacities berpegangan kepada tujuan dari pembangunan yang sustainable atau berkelanjutan.

Pembangunan yang berkelanjutan akan terwujud jika dalam membangun tidak meninggalkan permasalahan atau liability kepada anak cucu kita kelak. Paul Krugman, kolumnis internasional New York Times, mengatakan, memasuki era global warming seperti sekarang ini, pembangunan akan berhasil jika konsisten dalam memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan. Begitu pula usaha atau bisnis, hanya pebisnis atau pengusaha yang peduli akan kerusakan lingkungan yang akan bisa bertahan.

Ada tiga hal penting yang diperlukan untuk menjamin pembangunan berkesinambungan. Pertama, pembangunan yang tidak menghasilkan polusi yang berlebihan. Kedua, pembangunan akan sustainable jika dalam membangun dapat menggunakan sumber daya alam secara efisien. Terakhir, hasil-hasil pembangunan tersebut dapat meningkatkan standar kehidupan yang layak bagi rakyat banyak.

Jumlah penduduk DKI Jakarta yang terus berambah dalam lima tahun terakhir ini memerlukan kendaraan untuk mobilisasi atau commuter ke kantor setiap harinya. Jumlah kendaraan pribadi yang terus bertambah membuat permasalahan kemacetan belum bisa teratasi sampai sekarang ini. Berbagai cara yang sudah ditempuh, seperti pembatasan kendaraan pribadi dalam jam-jam tertentu dengan sistem three in one, belum mampu mengurai kepadatan lalu lintas Jakarta. Kendaraan-kendaraan tersebut memerlukan bahan bakar fosil sehingga dapat mengemisikan polusi CO2 yang besar. Tingginya emisi CO2 dari pembakaran energi fosil akan berdampak pada pemanasan global dan climate change atau perubahan iklim.

Berkesinambungan

Kesadaran masyarakat untuk beralih kepada transportasi umum sangat penting digalakkan untuk mengurangi polusi udara Jakarta. Maka diharapkan pembangunan MRT dan jalur khusus bus (busway) akan dapat mengurangi polusi untuk menuju pembangunan yang berkesinambungan.

Pemanfaatan sumber daya alam yang efesien akan mendorong berhasilnya pembangunan. Kebutuhan sumber daya alam seperti air dan energi untuk menggerakkan pembangunan sangat krusial. Bertambahnya jumlah penduduk akan dibarengi dengan kebutuhan akan sumber daya alam. Energi fosil mengemisikan CO2 yang tinggi.

Untuk itu, pemanfaatan energi alternatif atau terbarukan sangat penting. Selain energi tersebut ramah lingkungan, energi terbarukan tidak akan habis, misalnya energi listrik yang berasal dari panas bumi atau geotermal. Sumber energi yang berasal dari daur ulang sampah juga merupakan energi alternatif yang bisa digalakkan.

Proses membangun akan menghasilkan sampah dan limbah. Jumlah sampah dari proses pembangunan tersebut cukup besar di DKI Jakarta. Dengan menggunakan tekhnologi daur ulang sampah, akan mampu mengasilkan biomassa dan biosolar. Energi yang berasal dari daur ulang sampah selain ramah lingkungan juga bisa mengurangi tumpukan sampah Jakarta.

Pembangunan yang bijak ialah jika hasilnya dapat meningkatkan taraf hidup rakyatnya. Hasil dari pembangunan harus mampu merubah penghidupan yang layak bagi orang banyak. Itulah hakikat dari sebuah pembangunan yang berkesinambungan. Apakah rencana reklamasi 17 pulau yang ada di pantai utara Jakarta merupakan pembangunan untuk meningkatkan penghidupan rakyat banyak? Terbatasnya lahan dan semakin mahalnya harga tanah untuk mencukupi kebutuhan perumahan rakyat merupakan salah satu alasan reklamasi sebagai solusi alternatif.

Seperti di Hong Kong, Tiongkok, Singapura, atau Jepang, terbatasnya lahan tanah dan mahalnya harga properti menyebabkan menguruk wilayah laut untuk dijadikan lahan merupakan suatu opsi. Lahan tersebut biasanya diperuntukkan sebagai kawasan perumahan, pariwisata, pelabuhan, dan industri. Untuk menghindari dampak lingkungan yang terjadi, diperlukan kajian analisis mengenai dampak dan lingkungan (amdal) yang melibatkan semua stakeholder yang ada.

Dengan demikian, dalam proses reklamasi tidak terjadi permasalahan ke depannya. Beberapa dampak lingkungan yang terjadi dalam sebuah proses reklamasi pulau ialah musnahnya habitat sekitar wilayah reklamasi, pencemaran udara dan air laut saat mulai pekerjaan konstruksi, banjir, erosi, sedimentasi, dan kesenjangan ekonomi sosial.
Kesenjangan ekonomi terjadi khususnya bagi nelayan sekitar wilayah reklamasi. Berkurangnya tangkapan ikan akan menyebabkan berkurangnya pendapatan bagi nelayan.

Sampai saat ini belum ada ukuran yang bisa jadi acuan untuk menghitung dampak negatif dan keuntungan dari sebuah reklamasi pantai atau pulau. Dampak yang terjadi dari sebuah reklamsi bisa diukur dari tujuan reklamasi itu sendiri. Apakah untuk kepentingan rakyat banyak atau golongan pebisnis semata. Itulah yang seharusnya jadi kajian dan perdebatan yang sehat di antara legislatif, eksekutif, pakar hukum, dan para stakeholder. Akan tetapi, yang terjadi saat ini saling menyalahkan dan saling menyandera rencana reklamasi itu sendiri. Pada akhirnya rakyat juga yang jadi korban dan penonton.