Minggu, 03 April 2016

Pusat Logistik Berikat

Pusat Logistik Berikat

Adhi S Lukman ;  Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI);
Anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan (DKP) Indonesia
                                                        KOMPAS, 02 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Banyak cara untuk meningkatkan daya saing industri Indonesia agar memenangi persaingan di Masyarakat Ekonomi ASEAN. Salah satunya adalah dengan mengamankan rantai pasok bahan baku yang selama ini masih banyak diimpor.

Bisa dibayangkan betapa rentannya industri nasional karena sekitar 70 persen bahan baku masih mengandalkan pasokan dari luar negeri. Kalau bicara industri makanan-minuman, gula mentah dan terigu 100 persen impor; kedelai, susu, dan basis sayur/buah sekitar 70 persen impor; dan masih banyak lagi yang bisa dijadikan contoh. Bahan kemasan plastik dan kaleng juga lebih dari 50 persen mengandalkan impor.

Kesulitan impor sudah bisa dibayangkan karena harus transaksi dengan pemasok di pasar global, di mana pemesanan/kontrak barang, pengiriman, proses perdagangan, bea cukai, dan lain- lain pasti membutuhkan waktu minimal 3-4 bulan sampai barang tiba di Indonesia. Ini berakibat biaya sangat tinggi, termasuk bunga pinjaman bank yang dihitung sejak L/C dibuka atau bahkan sebagian harus membayar di muka. Apalagi bunga bank di Indonesia nomor dua tertinggi di ASEAN setelah Myanmar. Kalau rata-rata bunga bank di ASEAN 4-8 persen, bunga bank di Indonesia mencapai 13 persen. Ditambah pengaturan perdagangan dalam negeri yang belum mapan, bisa mengakibatkan industri harus mencari barang di pasar spot setelah mendapatkan izin, yang pasti harga akan lebih mahal.

Tidak heran bila Global Food Security Index (GFSI) Indonesia tahun 2015 masih bertengger di peringkat 73 dari 108 negara (The Economist), atau peringkat 6 di ASEAN. Padahal, Singapura sebagai negara yang tidak memiliki sumber daya alam memadai bisa menduduki peringkat 2 setelah Amerika Serikat.

Kunci sukses Singapura

Pada suatu kesempatan acara di Singapura tahun 2015, Menteri Perdagangan Singapura memaparkan beberapa kunci sukses keberhasilannya bisa menduduki GFSI peringkat kedua. Antara lain diversifikasi sumber daya pangan dengan menggandeng lebih dari 160 negara pemasok, mengefisienkan rantai pasok, menjadikan Singapura pusat logistik dunia dengan menyediakan sarana/prasarana logistik yang memadai serta fasilitas umum dan keuangan yang aman serta baik. Sebagai negara kecil yang memberikan fasilitas perdagangan bebas, Singapura bisa diibaratkan suatu kawasan berikat.

Masih teringat pada pelajaran sejarah, bagaimana strategi memenangi perang, di mana salah satunya adalah mengamankan logistik pangan sendiri atau mengganggu logistik musuh. Tidak ada gunanya memiliki tentara dan peralatan banyak tanpa didukung logistik pangan yang baik. Masih relevan dengan strategi perang, betapa pentingnya pengamanan logistik dalam memenangi persaingan di pasar global saat ini, seperti banyak negara besar menerapkannya sebagai strategi geopolitik menguasai dunia.

Mencontoh keberhasilan Singapura dan menjawab tantangan yang ada di Indonesia, seharusnya Indonesia mengembangkan pusat logistik berikat (PLB) untuk bahan baku industri. Kolaborasi semua pemangku kepentingan harus diakomodasi sebagai rantai pasok yang utuh.

Dengan dibangunnya PLB, akan didapat berbagai keuntungan antara lain: pemasok/pemilik barang bisa melakukan bongkar muat di PLB secara cepat dan efisien tanpa harus melalui prosedur bea cukai atau perdagangan lainnya (mengurangi dwelling time).

Dengan tersedianya barang di PLB, pemasok bisa lebih meyakinkan pembeli akan mutu dan jumlahnya, dan akhirnya bisa mendapatkan pembeli yang lebih banyak; ada jaminan ketersediaan barang bagi industri pengguna karena barang sudah tersedia dekat di area Indonesia, sekaligus mengantisipasi bila pengaturan perdagangan (kuota dan lain lain) dikeluarkan mendadak oleh pemerintah. Industri pengguna bisa dengan cepat mendapatkan pasokan bahan baku, menghemat waktu proses pesanan, dan biaya bunga bank.

Pusat logistik ASEAN

Pengawasan barang oleh petugas di Indonesia juga bisa dilakukan lebih baik, terjamin, dan tidak terburu-buru, di mana pemeriksaan bisa disiapkan lebih awal dan bisa dieksekusi pada saat barang dipesan/dikeluarkan dari PLB. Manfaat yang lebih besar lagi, PLB bisa menjadi pusat logistik ASEAN dengan memanfaatkan posisi geografis.

PLB bisa dibangun dengan mempertimbangkan antara lain: area di mana kebutuhan terbanyak; pertimbangan geografis dan ketersediaan sarana/prasarana; kesiapan aparat; mudah dijangkau baik oleh pemasok maupun pemakai.

Bisa saja PLB dibangun di pelabuhan laut, pelabuhan darat (dry port) atau juga dimungkinkan di area industri pengguna. Semua itu tergantung dari kesiapan sistem maupun aparat pengawas.

Semoga PLB menjadi salah satu pendorong daya saing Indonesia, menjadi daya tarik investor serta mendukung Nawacita Kabinet Kerja di bidang ekonomi. ●