Minggu, 17 April 2016

Menjadi Sandera

Menjadi Sandera

Kristin Poerwandari ;   Penulis Kolom PSIKOLOGI Kompas Sabtu
                                                        KOMPAS, 16 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kelompok Abu Sayyaf di Filipina menyandera 10 WNI sejak 26 Maret 2016. Beberapa hari lalu diberitakan tentang kontak senjata antara kelompok ini dan militer negara setempat yang mengakibatkan banyak korban.

Pada penyanderaan, hidup manusia menjadi alat tawar-menawar untuk memenuhi tuntutan penyandera. Situasi terancam dan tidak lagi memiliki kendali atas hidup dapat menghadirkan rangkaian perasaan negatif seperti ketidakberdayaan, ketakutan akan kematian, dan perasaan terteror.

Stres pasca trauma

Penelitian menunjukkan bahwa sekitar sepertiga korban penyanderaan masih menunjukkan tanda-tanda gangguan pasca trauma bertahun-tahun setelah kejadian (Van der Ploeg dan Kleijn, 1989). Individu mengalami lagi simtom yang berasosiasi dengan trauma, misalnya merasa seperti berada dalam situasi yang sama saat kejadian, terus teringat dan mengalami mimpi menakutkan, atau menunjukkan reaksi fisiologis (misal berdebar-debar, berkeringat dingin, lemas) pada tanda-tanda yang menyerupai atau mirip kejadian. Individu akan menghindari situasi-situasi (orang, tempat, aktivitas, percakapan) yang akan membangkitkan kembali pikiran atau perasaannya.

Karena hal di atas, tidak jarang individu terus tegang, sulit berkonsentrasi, mudah meledak marah, dan mungkin mengalami gangguan tidur. Pandangan hidup dan konsep dirinya juga mungkin berubah, misalnya ia melihat dunia sebagai berbahaya dan tidak ada lagi orang yang dapat dipercaya.

Giebels, Noelanders, dan Vervaeke dalam The Hostage Experience: Implications for Negotiation Strategies (2005) melaporkan penelitian terhadap sebelas orang yang pernah menjadi korban penyanderaan. Ada yang disandera oleh pelaku kriminal dan teroris saat pengepungan dan upaya penyelamatan oleh polisi, waktu yang terlama adalah delapan hari. Ada pula yang diculik dan disembunyikan di tempat terisolasi, waktu penyanderaan terlama adalah delapan bulan. Semua korban laki-laki, kecuali seorang perempuan yang disandera sehari saat pengepungan oleh polisi.

Individu yang terjebak dalam pengepungan ditemukan berada dalam kondisi psikologis yang lebih baik, mungkin karena waktu penyanderaan yang umumnya jauh lebih singkat, dan karena pengepungan oleh aparat keamanan sering diberitakan oleh media. Bahkan, tidak jarang penyandera ataupun korban dapat berkontak dan diwawancara oleh media. Ini menyebabkan individu paham bahwa banyak orang mengetahui keberadaannya dan semua pihak sedang berupaya yang terbaik untuk menyelamatkannya.

Sebaliknya, korban penculikan dengan permintaan tebusan sering dibawa ke daerah terisolasi, tidak dapat berkontak dengan dunia luar, sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi di luar, termasuk berbagai upaya otoritas untuk menyelamatkan mereka. Selain perasaan takut, isolasi dapat menghadirkan perasaan sendiri dan sedih, perasaan "terputus dari dunia luar". Semua korban penculikan melaporkan bahwa mereka terus bertanya-tanya apakah keluarganya mengetahui apa yang terjadi pada mereka dan apakah orang lain berupaya untuk menyelamatkan mereka.

Bahkan dapat terjadi krisis identitas. Ada korban yang mengatakan: "Kita perlu mengingat-ingat terus, siapa diri kita. Karena tidak berinteraksi dengan siapa pun, kita lupa, sebenarnya kita ini siapa." Jadi, kalau ada foto diri dengan keluarga atau orang dekat, itu dapat sangat membantu mengingatkan tentang identitas diri. Ada pula yang bilang, cermin membantunya ingat sosoknya sendiri, saking ia hampir hilang ingatan tentang dirinya.

Pembelajaran

Pekerja kemanusiaan atau jurnalis yang bekerja di daerah konflik sering disarankan untuk membawa foto diri bersama orang-orang dekatnya. Ini agar kalau sampai ada dalam situasi darurat seperti disandera, mereka tetap dapat meminimalkan terjadinya krisis identitas. Juga, apabila berkomunikasi dengan pelaku dengan menunjukkan foto diri dan orang-orang terdekat, mungkin muncul perasaan positif dan kepedulian dari pelaku. Menulis buku harian juga dapat membantu sedikit mengatasi tekanan sehingga baik jika sebelum perjalanan membawa alat tulis.

Dalam negosiasi untuk menyelamatkan sandera, tim sering mencari bukti bahwa sandera masih hidup. Dari sisi korban, ini menjadi penting karena korban jadi tahu bahwa dunia luar sedang berupaya menjangkaunya. Tetapi, perlu juga dipikirkan apakah pertanyaan yang diajukan itu berdampak positif secara psikologis. Misalnya, ketika berkomunikasi untuk memastikan apakah tim penyelamat memang sedang bicara dengan korban, bukan orang lain, tim dapat bertanya tentang hal-hal pribadi yang seharusnya dapat dijawab korban. Tetapi, bertanya yang terlalu pribadi juga mungkin dapat menghadirkan perasaan sangat sedih dan tak berdaya.

Reaksi-reaksi stres yang akut seperti ketakutan, panik, dan penyangkalan muncul di awal, tetapi semakin lama, korban akan mencoba beradaptasi dengan situasi. Tujuannya adalah untuk meminimalkan perasaan tertekan sekaligus untuk mencari cara memperoleh kembali sedikit pengendalian atas situasi.

Penting untuk kita catat bahwa kadang bertumbuh ikatan emosi dari korban penyanderaan kepada pelaku. Subyek penelitian Giebels dkk (2005) menyatakan tidak memiliki perasaan negatif pada penyandera, kecuali tiga orang yang mengalami penyiksaan. Sebagian korban merasa dekat dengan pelaku tertentu, yang dilihatnya "lebih baik" dan dapat melindunginya dari agresi pelaku yang lain.

Adaptasi yang kurang sehat dapat muncul, populer disebut Sindrom Stockholm. Istilah ini digunakan setelah suatu penyanderaan menyusul perampokan bank di Stockholm tahun 1973. Selama periode tersebut, seorang korban yang jatuh cinta kepada penyanderanya berusaha menyelamatkan penyandera dan tetap berhubungan cinta setelah penyandera dilumpuhkan tim penyelamat. Tentang ini, tampaknya perempuan lebih rentan dan mungkin lain waktu dapat kita diskusikan.

Semoga saudara-saudara kita yang disandera dapat segera diselamatkan dan bertemu kembali dengan orang-orang yang disayanginya.