Rabu, 06 April 2016

Menghapus Tradisi Katebelece Pejabat

Menghapus Tradisi Katebelece Pejabat

Suyatno ;   Dosen Etika Pemerintahan pada FISIP Universitas Terbuka
                                              MEDIA INDONESIA, 05 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

TERBITNYA surat permintaan fasilitas bagi kolega Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-Rebiro) Yuddy Chrisnandi dinilai telah menabrak etika dan semangat reformasi birokrasi. Demikian pernyataan Presiden yang disampaikan Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi. Masih maraknya penggunaan katebelece di negeri ini membuat kita bertanya, apa kabar program revolusi mental? Perkara katebelece ini mengingatkan kita kembali akan pentingnya revolusi mental yang dicanangkan Presiden Jokowi (Media Indonesia, 2/4).

Tradisi surat sakti itu patut segera dihapuskan. Tradisi katebelece memang ironi bagi kultur lembaga penggerak reformasi birokrasi itu berikut semua lembaga di negeri ini. Permintaan fasilitas itu memang tidak etis akibat ditujukan untuk keperluan pribadi Wahyu Dewanto Suripman sebagai anggota DPRD DKI dan lima anggota keluarganya selama berada di Sydney, Australia. Lebih miris ketika beredar pula katebelece dari Rachel Maryam Sayidina. Rachel meminta Kedubes RI di Prancis menyediakan fasilitas transportasi selama anggota DPR asal Partai Gerindra itu dan keluarganya berlibur di Paris.

Revolusi mental bahwa pemimpin lahir dan hadir dari rakyat ingin dikembangkan Presiden Joko Widodo pun terusik. Prinsip ini hanya efektif berjalan, salah satunya, apabila pembangunan revolusi mental mendasarkan diri pada pemahaman dasar langkah baku dalam hidup berprinsip tepa selira. Ungkapan luhur yang kita tangkap, 'Hidup di dunia ini timbal-balik, balas membalas, tidak melakukan hal-hal yang kita sendiri tak ingin diperlakukan', tetap relevan. Publik tentu tidak ingin ada katebelece mengistimewakan seseorang tetapi merugikan banyak orang.

Tepa selira mengandung nilai yang melampaui toleransi yang mendasarkan ketenangan hidup manusia. Toleransi hanya bersifat keluar, kepada orang lain. Tepa selira bersifat ke dalam dan ke luar. Ke dalam diri dan ke luar kepada orang lain. Bila ingin melakukan sesuatu kepada seseorang apakah berbicara atau bertindak sesuatu, tanyakan lebih dahulu pada diri kita. Suka apa tidak diperlakukan seperti itu. Bila tidak, mendingan dihentikan saja.

Etika jomplang

Tepa selira ialah dasar hubungan di antara manusia yang mampu melahirkan pemimpin yang merakyat. Pemimpin merakyat merasakan dengan kepekaan dan bergerak dengan ukuran lalu dengan amanah kekuasaan yang diterimanya menjalankan kehendak rakyat mengatur kehidupan bersama yang lebih baik. Jika kehidupan bersama sebagai bangsa ingin melahirkan pemimpin yang merakyat, etika tepa selira merupakan keutamaan yang dipegang teguh agar kesepakatan hidup bernegara mampu menampilkan pemegang tradisi dan prinsip yang unggul dari bangsa ini.

Sudah sejak dulu kabarnya etika sosial kita jomplang dan terpusat pada kecenderungan elite. Hubungan tidak seimbang seperti feodalisme yang harus diterima siapa saja dalam interaksi sosial. Katebelece dipaksakan menjadi hal yang lumrah. Bentuk hubungan yang berasal dari struktur pendelegasian kekuasaan sosiopolitik yang dijalankan kalangan bangsawan/monarki untuk mengendalikan berbagai wilayah yang diklaimnya melalui kerja sama dengan pemimpin-pemimpin lokal.

Namun, jauh-jauh hari sebelum negara ini berdiri sudah diingatkan bahwa tepa selira memiliki bentuk interaksi yang unik dalam legitimasi kekuasaan. Ungkapan tepa selira merupakan tanggapan atas sikap kalangan kesatria dan kelas bangsawan lain sebagai penguasa kawasan atas hak tertentu yang berpuncak pada penguasaan oleh tuan tanah sehingga muncul istilah masyarakat feodal.

Deklarasi HAM membawa manusia bertanya tentang arti legitimasi dan fungsi pengendalian karena pasti ada yang salah apabila pengendalian ternyata menegasikan legitimasi itu sendiri. Tersingkirnya legitimasi elite akibat pengendalian feodalistis mengajak kita kembali melihat etika tepa selira sebagai bagian penting dalam berjalannya kepemimpinan.

Etika tepat guna

Pergerakannya pada relung-relung tersembunyi membuat publik dikejutkan dan dibuat heran oleh keluarnya katebelece di sejumlah pejabat kita saat ini. Mereka ialah sosok wakil rakyat yang lahir dari proses demokrasi. Sosok wakil rakyat dan pejabat publik yang memberi harapan dan telah lahir dari rahim rakyat wakil dan pelayan yang aspiratif, kritis, membumi, dan tentu problem solver.

Mengapa publik lantas terkejut? Sepak terjang sebagian pejabat yang terhormat ternyata harus berhadapan dengan permasalahan etika sebagai pemimpin akibat sejumlah langkah yang diambil dalam beberapa waktu terakhir jauh dari nalar sehat publik. Mereka yang sebelumnya merupakan aktivis atau tokoh yang menyatakan diri peduli pada orang kecil justru menunjukkan perilaku dan tradisi surat sakti yang kian bertolak belakang.
Mereka mencederai etika yang menafikan nilai kepantasan kepedulian dan keberpihakan.

Harus segera diterapkan etika tepat guna dalam menghapus perilaku berkatebelece yang cacat ini. Keteguhan memegang etika tepa selira dalam membangun kepemimpinan tanpa katebelece perlu didukung.
Persis hal inilah kini yang pincang dalam kepemimpinan bangsa kita.
Pemimpin-pemimpin kita patut memegang teguh kepekaan prinsip timbal-balik terhadap rakyat jelata, terampil memahami kebutuhan dan pola pikir publik, serta memiliki keberanian untuk menegakkannya di tengah pusaran tradisi feodal atau pragmatisme.

Etika tepa selira menjadi salah satu alternatif model berdampingan dengan pola kompromistis demokrasi yang sudah berjalan, seperti musyawarah dan mufakat. Pemimpin dan calon pemimpin bangsa ini akan mempertontonkan kemahiran menggunakan ukuran diri sendiri dalam mencapai keselamatan dan ketenangan hidup bangsa bebas dari katebelece.

Etika tepa selira hanya akan tumbuh sejak dini bila dibiasakan di berbagai kesempatan, tempat, dan media. Hal yang tampak kecil dan remeh bisa dilakukan guna memulainya, seperti menyapa, mengucap terima kasih, berbagi, berpendapat, dan menghormati pendapat dengan bahasa yang santun. Hindari sikap selalu merasa paling benar meraih fasilitas.

Benar pemikiran bahwa tepa dalam bahasa Jawa adalah ukuran, selira adalah badan untuk mengukur segala sesuatu disesuaikan dengan ukuran diri kita. Hanya dengan etika tepa selira yang demikian akan muncul pemimpin yang dari sana mereka lahir dan menjalani kehidupan.