Senin, 18 April 2016

Memikirkan Kembali Makna Kemajuan Bangsa

Memikirkan Kembali Makna Kemajuan Bangsa

Bambang Setiaji ;   Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta
                                                     REPUBLIKA, 11 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Membandingkan kemajuan ekonomi yang diperoleh oleh Turki dengan pendapatan per kapita pada 2015 sebesar 9.290 dolar AS dibanding Mesir 3.400-an dolar AS seperti juga Indonesia di angka yang hampir sama, perlu diajukan menjelang perlunya haluan negara diadakan lagi. Boleh dikatakan Turki menikmati kemajuan ekonomi 2,5 kali lipat dibanding dua negara yang lain, Mesir dan Indonesia.

Ketiga negara ini merupakan negara besar dan negara inti di dunia Islam. Namun, perlu direnungkan kemajuan ekonomi yang lebih komprehenshif untuk menjamin kesejahteraan sampai lapisan terbawah.

Apabila kita mengobservasi dengan gegabah, melihat Kota Istanbul yang lebih tertata dengan taman bunga tulip yang indah di musim semi, serasa kota di Eropa, tentu Turki lebih dipilih menjadi model. Sebaliknya, dengan kota tua Kairo yang penuh debu gurun sehingga flat-flatnya yang khas berwarna cokelat dibiarkan tanpa cat, dengan mobil angkot tua berseliweran, dengan suara sopir yang keras, dan kita kira sedang bertengkar mencari atau berebut penumpang, ibu pedagang pulang keluar Kota Kairo kulakan naik pick up tua bak terbuka, menerjang debu gurun yang sering menyesakkan, semakin mantap menjadikan Turki model idola. Benarkah demikian?

Tidak boleh disangkal bahwa Turki dengan 2,5 kali lipat capaian Mesir atau Indonesia merupakan peta tujuan. Namun, bagaimana kelompok rakyat terbawah bisa menikmati kemajuan ekonomi merupakan persoalan inti dari setiap pembangunan ekonomi. Perkembangan ekonomi yang hanya dinikmati kelompok menengah atas kurang berguna karena mereka memang sudah bisa hidup layak.

Ekonomi pasar yang diadopsi dari Barat dan Amerika hanya tepat bagi lingkungan sosial ekonomi mereka. Pendidikan yang relatif baik dan kewirausahaan yang merata menyebabkan tersedianya pekerjaan yang relatif cukup. Ditambah dengan upah minimum yang tinggi dan pelaksanaan yang lebih ketat, lapisan terbawah masyarakat dapat menikmati kemajuan ekonominya.

Di negara dunia ketiga dengan penduduk yang besar, dipenuhi kewirausahaan informal yang tak terjangkau peraturan upah minimum, rakyat tidak bisa akses kepada kemajuan. Lapisan besar masyarakat dibayar sangat rendah di bawah upah minimum dan hanya mampu mengonsumsi barang dan jasa dengan harga murah. Bisa dibayangkan betapa stres dan kesengsaraan lapisan terbawah di negara maju dengan harga pangan dan kebutuhan dasar lain yang sudah tinggi.

Rantai baru seperti pangan yang murah sungguh diperlukan. Rezim subsidi pangan masih diperlukan, mengingat lapisan berdaya beli rendah masih besar. Inilah rahasia mengapa rakyat Mesir dan Indonesia lebih berbahagia dibanding Turki, misalnya, bahkan mungkin yang jauh lebih maju seperti Korea Selatan dengan pendapatan per kapita 27 ribu dolar AS, Taiwan 22 ribu dolar AS, dan Singapura 53 ribu dolar AS.

Biaya hidup murah, kehangatan sosial, dan religiusitas tak ternilai harganya. Indeks kebahagiaan tentu berbeda dengan indeks pendapatan per kapita. Survei di berbagai forum memperlihatkan banyak orang memilih terlahir di Indonesia karena punya kesempatan memperoleh relasi sosial dan religius daripada terlahir di negara kaya yang memiliki indeks keduanya lebih rendah.

Untuk mempertahankan kebutuhan sosial dan religius mengorbankan waktu, seperti rapat RT, hajatan ini dan itu, serta jamaah shalat lima waktu, bagaimanapun produktivitas bangsa seperti ini lebih rendah. Namun, demikian tujuan dan pilihan corak kemajuannya harus dirumuskan berbeda. Kebahagiaan harus diindeks lebih komprehensif dengan mengambil pengalaman betapa stres para pekerja dan rakyat menghadapi biaya hidup yang begitu tinggi di negara maju.

Struktur anggaran pemerintahan di mana pos subsidi pangan dan pupuk serta BBM yang besar masih diperlukan, mengingat banyak lapisan yang tidak bisa mengakses pekerjaan baik dan berupah tinggi. Di Mesir, rakyat bisa hidup dengan lima pound sehari (sekitar Rp 7.500) dengan mengandalkan roti dan kuah falafel yang disubsidi negara. Namun, pemerintah memberikan subsidi untuk roti dan menjamin tetap berharga murah.

Subsidi yang diberikan bebas merupakan kesalahan besar karena subsidi pupuk sebagian besar dinikmati pengusaha perkebunan dan milik asing. Sistem kupon harus diberlakukan sehingga sasaran yang berhak memperoleh subsidi bisa diarahkan.

Sistem kupon akan mengurangi subsidi pupuk, pangan, dan BBM. Subsidi untuk lapisan rakyat diperlukan, tetapi diperlukan teknologi supaya tepat sasaran. Dengan sistem kupon bisa dihemat setengah atau lebih subsidi kita.

Tanpa mengembangkan teknologi distribusi subsidi, yang pada era IT merupakan hal yang tak sulit, merupakan kesalahan besar dan fatal yang bisa menjerumuskan keuangan negara dan krisis. Subsidi masih diperlukan, tetapi harus terarah kepada lapisan terbawah.

Sistem subsidi silang kesehatan dan sekolah saat ini merupakan langkah besar yang perlu diapresiasi. Dengan tetap mempertahankan premi kesehatan yang rendah untuk lapisan terbawah, tetapi perlu diwaspadai jangan sampai lapisan atas mengakses yang murah dan pada saat sakit pindah kelas.

Demikian juga sekolah. Sekolah yang baik memerlukan laboratorium, buku mutakhir, komputer, dan internet. Lapisan yang kaya mestinya boleh membayar kebutuhan ini. Pemerintah mestinya mengizinkan sekolah tertentu berbayar.

Untuk lapisan bawah disediakan sekolah gratis dengan subsidi penuh. Sekolah swasta bisa ditunjuk menjadi provider karena banyak sekolah swasta kekurangan siswa. Mendirikan sekolah negeri baru secara nasional merupakan kerugian karena masyarakat sudah menyediakan tanah, gedung, dan sebagian guru. Negara harus dimaknai lebih luas dari negeri.

Perguruan tinggi kita juga harus lebih menyatu dan bermanfaat untuk usaha rakyat. Riset dan pengabdian masyarakat di perguruan tinggi selama ini seperti tak berbekas untuk menjadi motor kemajuan bangsa. Bahkan, banyak riset tidak relevan dengan kebutuhan riil di masyarakat.

Bentuk masyarakat dengan intensitas sosial dan religius tinggi, pendapatan per kapita menengah dengan sistem subsidinya yang terarah berteknologi, kiranya merupakan pilihan model kemajuan atau pembangunan yang tepat. Ditambah dengan pemerintahan yang bersih dan kiprah KPK yang seharusnya membuat pejabat publik lebih baik, demokratis di mana rakyat jelata bisa mentransformasi diri menjadi pemimpin tertinggi, serta kedamaian antaretnik yang begitu beragam pantas diajukan oleh Indonesia menjadi model terbaik di dunia Islam dan dunia ketiga pada umumnya.