Senin, 11 April 2016

Ke Negeri Abu Nawas

Ke Negeri Abu Nawas

Komaruddin Hidayat ;   Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
                                                   KORAN SINDO, 08 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pada bulan April 1983 saya memperoleh undangan dari Kedutaan Irak di Jakarta untuk menghadiri konferensi internasional Islam di Bagdad. Ini perjalanan kedua kalinya ke luar negeri.

Sejak masih di pesantren saya sudah mengagumi negeri ini melalui cerita-cerita jenaka Abu Nawas dan dongeng fantastis Negeri Seribu Satu Malam. Saya diundang selaku wartawan majalah Panji Masyarakat asuhan almarhum Buya Hamka. Sejak keberangkatan dari Jakarta, saya sudah menduga bahwa forum ini merupakan forum politik, media propaganda Saddam Hussein untuk mencari dukungan dunia Islam melawan Iran.

Kita masih ingat, tahun 1980-1988 meletus perang Iran-Irak yang dikenal sebagai Perang Teluk I mengingat pada tahun 1991 meletus lagi Perang Teluk II antara Irak dan Amerika Serikat (AS) serta sekutunya. Yang jadi alasan pada Perang Teluk I adalah sengketa historis jalur air Syath al-Arab.

Opini yang muncul, Saddam Hussein khawatir akan kebangkitan komunitas Syiah di Irak Selatan akibat Revolusi Iran tahun 1979 sehingga tentara Irak lebih dahulu menerobos masuk wilayah sengketa pada 22 September 1980. Kekhawatiran Saddam ini bisa dipahami mengingat Ayatullah Khomeini ingin mengekspor revolusinya ke wilayah-wilayah kantong Syiah di Timur Tengah, sementara Irak selatan merupakan basis komunitas Syiah.

Lebih dari itu, Saddam Hussein ingin menjadi jagoan padang pasir yang tak tertandingi di wilayah Timur Tengah. Menurut cerita teman kedutaan Indonesia di Irak, sebelum perang, masyarakat Irak cukup makmur hidupnya. Pemerintah banyak membangun gedung-gedung baru dan jalan raya. Mahasiswa Indonesia penerima beasiswa juga betah tinggal di sana.

Masyarakat Irak sangat senang kepada mahasiswa Indonesia. Bahkan sopir taksi kadang menolak dibayar setelah tahu penumpangnya adalah mahasiswa Indonesia. Tapi setelah perang meletus, suasananya berubah drastis. Anggaran pembangunan tersedot untuk membeli senjata dan biaya perang.

Irak yang semula dikenal kaya raya lalu merosot seketika. Kekayaannya banyak dibelanjakan untuk membeli senjata dan ongkos perang. Popularitas Saddam menurun, terutama di mata komunitas Syiah dan jajaran intelektualnya, tergerus oleh sikap keras kepala dan ambisi kekuasaannya. Kondisi Irak semakin kacau ketika Saddam Hussein mencaplok wilayah Kuwait yang merupakan sumber minyak melimpah, pada 2 Agustus 1990 yang pada urutannya memicu meletusnya Perang Teluk II.

Invasi Irak atas wilayah Kuwait ini mengundang reaksi dunia sehingga pada 8 Agustus 1990, AS, Inggris, Prancis, Australia dan negara LigaArabmelakukan operasi gurun pasir untuk menggertak tentara Irak agar keluar dari Kuwait. Ternyata Saddam tidak mau mundur sehingga pada 16 Januari 1991, AS dan sekutunya menyerang Irak secara militer selama 100 jam.

Berbagai opini dimunculkan oleh Barat bahwa Saddam memiliki senjata pemusnah massal yang ternyata tidak terbukti. Saddam juga telah melakukan kejahatan kemanusiaan, membantai 148 warga Syiah di Dujail tahun 1982. Sungguh tragis, Saddam yang semasa hidupnya gagah perkasa mesti berakhir di tiang gantungan pada 30 Desember 2006 di usianya yang ke-66 tahun.

Pemenangnya tak lain adalah George W Bush dengan meminjam legitimasi PBB untuk mengakhiri ambisi Saddam Hussien sebagai orang terkuat di wilayah Teluk, bahkan di dunia Arab. Pabrik dan pedagang senjata panen setiap terjadi perang adu senjata. Selama di Bagdad saya tinggal di Hotel Al-Manshur. Sempat melihat pertahanan militer Irak dari udara di wilayah pertempuran dengan menaiki pesawat helikopter yang hanya cukup diisi empat orang bersama pilotnya.

Dalam hatiku bertanya, baik tentara Iran maupun Irak sama-sama muslim, sama-sama mengaku berjihad di jalan Allah, lalu siapa yang berhak masuk surga kalau meninggal dalam peperangan? Sebelum kembali ke Jakarta, saya bertamu ke Kantor Kedutaan RI Bagdad diterima oleh Dubes Abdurrahman Gunadirdja.

Di luar dugaan, saya malah ditawari meneruskan umrah ke Tanah Suci atas bantuan Pak Gunadirdja. Rupanya almarhum Lukman Harun, Sekjen Komite Solidaritas Dunia Islam, sudah mengontak Dubes Gunadirdja agar saya dibantu selama berada di Irak.

Irak yang dalam sejarahnya pernah menjadi pusat peradaban Islam, hari ini kondisinya sangat mengenaskan. Ledakan bom bunuh diri sering kali terjadi. Sumber minyak yang melimpah dalam perut bumi menjadi objek sengketa kekuatan asing. Peperangan selalu meluluhlantakkan bangunan peradaban yang dibangun dengan ratusan tahun, hancur hanya dalam hitungan dekade.