Kamis, 14 April 2016

Dokumen Panama dan Jurnalisme Perlahan

Dokumen Panama dan Jurnalisme Perlahan

H Witdarmono ;   Wartawan; Penerbit Media Anak; Tinggal di Jakarta
                                                        KOMPAS, 13 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Selama berbulan-bulan 400-an wartawan dari 250 organisasi media di 80 negara-Tempo satu-satunya peserta dari Indonesia- berkolaborasi menyelesaikan pekerjaan dengan koordinator Konsorsium Wartawan-wartawan Investigatif yang berpusat di Washington DC, Amerika Serikat.
Pada Minggu, 3 April 2016, sebagian hasil kerja keras itu dipaparkan kepada publik. Itulah awal kehebohan The Panama Papers (Dokumen Panama), bocoran sekitar 11,5 juta data finansial tahun 1970-an sampai akhir tahun 2015 milik firma hukum Mossack Fonseca di Panama. Dalam dokumen tersebut diuraikan identitas sekitar 214.000 perusahaan cangkang (shell company) milik perorangan dan tokoh publik yang didirikan di yurisdiksi bebas pajak di mancanegara.

Di antara ratusan ribu shell company itu, terdapat ratusan nama warga Indonesia. Konsorsium Wartawan-wartawan Investigatif (ICIJ) berencana membuka seluruh isi Dokumen Panama pada Mei 2016.

Bocoran jutaan dokumen firma hukum Mossack Fonseca itu berawal dari surat elektronik kepada koran terbesar Jerman, Süddeutsche Zeitung, tahun 2015. Setelah pemimpin koran Muenchen itu setuju menerima bocoran dan menjamin kerahasiaan sumber, bulan-bulan berikutnya mereka menerima data mengenai firma hukum Panama itu dalam jumlah yang fantastis, 2,6 terabyte!

Sadar bahwa tidak sanggup meneliti dan menganalisis data itu sendirian, Süddeutsche Zeitung minta bantuan ICIJ. Segera, konsorsium wartawan internasional itu membangun kolaborasi dengan 250 organisasi media dunia yang bekerja dalam 25 bahasa yang berbeda, dengan kode Project Prometheus. Nama dewa dalam mitologi Yunani itu dipakai karena ia "berjasa" mencuri api dari Gunung Olimpus, memberikan dan membocorkan manfaatnya kepada manusia. Dalam bahasa Yunani, prometheia artinya pandangan ke depan.

Dengan semangat promethean, selama lebih dari sembilan bulan ratusan wartawan meneliti jutaan data, mengindeks, menganalisis, dan merangkainya dalam narasi yang akurat. Seluruh kerja kolaborasi itu dilakukan dengan sangat hati-hati dan cermat. Mereka berkomunikasi lewat saluran yang dienskripsi berlapis dan 30 digit passcode.

Jurnalisme perlahan

Dalam ilmu jurnalisme, kerja dan pendekatan jurnalistik oleh ratusan wartawan itu disebut slow journalism atau jurnalisme perlahan. Terminologi tersebut pertama kali dilontarkan Susan Greenberg di majalah Prospect (Inggris) edisi Februari 2007.

Pengajar bahasa dan penulisan kreatif dari Universitas Roehampton di London itu mencermati, saat ini amat sulit menemukan jurnalisme hasil keterampilan seni, getaran hati serta jiwa kepedulian. Jurnalisme semacam itu langka dan sudah jadi barang mewah. Mewah, karena waktu untuk menemukan, memberi makna, serta mengomunikasikan berbagai data dan sisi tersembunyi kejadian-Greeberg menyebutnyaslow journalism-, sudah terlalu mahal.

Greenberg menganalogikan jurnalisme perlahan dengan gerakan internasional slow food yang dirintis Carlo Petrini (67) tahun 1980-an di Italia. Kala itu, Petrini mengampanyekan pelestarian makanan, resep, dan cara masak lokal beserta penyajian tradisional yang butuh waktu panjang. Gerakan slow food adalah perlawanan terhadap fast food alias "makanan cepat saji".

Sesungguhnya, jurnalisme perlahan hanya menonjolkan beberapa aspek jurnalisme biasa yang sudah dilupakan. Dalam pendekatannya, ia juga memiliki tujuan khusus, mengandalkan kerja sama, penelitian, investigasi, dan analisis terhadap berbagai jalinan informasi. Pendekatan semacam itu perlu waktu panjang dan berbiaya besar.

Dalam praktik, jurnalisme perlahan berkutat dengan kisah dari berbagai peristiwa sampingan berita (besar). Kisah-kisah itu dibangun dengan prinsip-prinsip sastra dan struktur naratif yang berlapis. Kedalaman kisah menjadi sangat penting. Selain investigasi, analisis, dan pendapat para ahli, jurnalisme perlahan berusaha menggali cerita dari berbagai sudut pandang. Tujuannya, agar secara menyeluruh makna peristiwa dapat dipahami, bukan sekadar diketahui.

Salah satu contoh terbaik liputan jurnalisme perlahan adalah tulisan Joshua Hammer berjudul "The Real Story of Germanwings Flight 9525" di GQ Magazine (Inggris) edisi 22 Februari 2016. Hammer mengisahkan Andreas Günter Lubitz, pilot Lufthansa yang pada 24 Maret 2015 sengaja menjatuhkan pesawat Airbus A320 Germanwings (anak perusahaan Lufthansa) Flight 9525 ke sisi Pegunungan Alpen di Perancis. Semua penumpang, 144 orang, beserta lima awak pesawat, tewas. Kisah itu sangat mencekam.

Melalui usaha yang menyita waktu banyak serta tak kenal lelah, Hammer meneliti hampir semua sisi kehidupan Lubitz dan beberapa penumpang Germanwings Flight 9525. Pembaca hanya bisa diam tafakur selesai membaca tulisan Hammer.

Merendamkan diri

Berbeda dengan jurnalisme biasa yang bergerak dari satu kejadian ke kejadian berikutnya, jurnalisme perlahan mencoba mengakhiri sebuah peristiwa dengan akhiran yang tepat, yang membuat pembaca memahami seluruh duduk soal sehingga mereka menjadi cerdas-informasi.
Paul Salopek (54), wartawan Amerika asal Kroasia yang bekerja untuk National Geographic, mengatakan, untuk mewujudkan jurnalisme perlahan kita harus berani merendamkan diri ke dasar peristiwa:immersive reporting, yaitu meliput dengan "mencelupkan dan membenamkan diri" dalam seluruh peristiwa.

Peraih dua kali Hadiah Pulitzer itu (1998 dan 2001) membuktikan melalui liputan migrasi awal manusia ke luar Benua Afrika, "Out of Eden Walk". Sejak Januari 2013, Salopek memulai liputan tersebut dengan berjalan kaki menempuh jarak 32.200 kilometer dari Etiopia, melewati Timur Tengah, Asia, Alaska, wilayah barat Amerika, hingga ujung selatan Cile. Diperkirakan liputan jalan kaki itu baru berakhir 2020.

Jurnalisme perlahan memang merupakan salah satu pendekatan dalam praktik jurnalistik. Ia tidak banyak berbeda dengan jurnalisme tradisional. Peran-peran jurnalistik seperti menjadi pelapor, penganalis dan penafsir isu yang rumit, wakil dari publik untuk meneropong kekuasaan, penjaga (watchdog) pembuat kebijakan dan advokasi, serta penggerak keterlibatan masyarakat dengan lingkungan, tetap dilakukan (Bryce T McIntyre, 1991; David H Weaver et al, 2007). Yang mungkin berbeda hanya caranya dalam mengoreksi tendensi jurnalisme umum yang amat menekankan kecepatan.

Sejak lama, kecepatan merupakan komponen utama kerja jurnalistik. Ia seakan menjadi budaya dan jadi salah satu nilai sentral dalam jurnalisme, di samping empat nilai lain, yakni obyektif, independen, mengabdi masyarakat, dan beretika (M Deuze, 2005). Banyak wartawan beranggapan, kemampuan yang terkait kecepatan adalah nilai tertinggi dalam kerja jurnalistik. Tugas mendalami peristiwa atau memberi kerangka serta penafsiran agar peristiwa bisa dipahami, dianggap sebagai tugas tambahan belaka; kalau ada waktu baru dilakukan! (D Weaver dan L Willnat, 2012). Penetrasi teknologi informasi digital telah mengubah siklus proses produksi berita menjadi "24/7" dengan tenggat berkelanjutan.

Ada dua risiko muncul dari pengutamaan yang berlebihan terhadap kecepatan. Pertama, standar dan kualitas kerja jurnalistik turun, khususnya kehati-hatian dan kecermatan. Setiap kesalahan di ruang redaksi bermula dari ambisi berlebih untuk menjadi yang pertama. "Bila itu sering terjadi, sesungguhnya aset paling berharga dari jurnalisme dan wartawan, yaitu kepercayaan atau kredibilitas, sudah hilang," tulis Peter Laufer dalam Slow News: A Manifesto for the Critical News Consumer (2011).

Yang kedua, pengutamaan kecepatan memunculkan kecenderungan untuk menyederhanakan dan menglisekan (stereotyping) masalah. Ruang redaksi tidak lagi menjadi tempat di mana para wartawan mengembangkan refleksi permasalahan kemanusiaan yang kompleks (C Gibbs dan T Warhover, 2002). Berbagai masalah, khususnya yang menyangkut konflik, bencana, kecelakaan, dan sensasi, terlalu cepat dikategorikan dalam sekat-sekat alam pikiran yang sedang trendi.

Ada kebiasaan bila ingin memberitakan kejadian menjadi sesuatu yang "baru" dan "riil", perlu diberi angle yang menonjolkan konflik, drama, sosok penjahat atau korban. Lalu, agar tulisan tidak membosankan, ia harus dibuat singkat, datar, dan tidak bernuansa (U Haagerup, 2014).

Tentu bagi para wartawan profesional, situasi tersebut membuat frustrasi. Banyak wartawan hebat merasa lebih baik keluar, pindah atau menerbitkan media lain yang memberi ruang untuk penulisan dan peliputan kreatif. Contoh menarik adalah keputusan Rob Orchard dan Marcus Webb, dua editor dari Time Out Dubai, untuk keluar dari koran populer itu dan pada 2011 menerbitkan majalah Delayed Gratification di Inggris.

"Dewasa ini, para wartawan terus dipecut untuk membuat breaking news di Twitter dan media sosial. Kami ingin memberi tempat perlindungan bagi wartawan agar punya waktu untuk menanggapi berita dan menemukan berbagai kisah yang tidak kelihatan saat berita pertama muncul," kata Orchard.

Delayed Gratification diterbitkan tiga bulan sekali dengan pendekatan jurnalisme perlahan. Setiap terbitan membahas isu tiga bulan yang lampau. Nilai yang dianut adalah "being right above being first" : menjadi (pemberita) yang benar lebih utama ketimbang menjadi (pemberita) yang pertama. Semoga dengan publikasi Dokumen Panama, media kembali ke nilai-nilai dasar mereka, seperti tercantum dalam kode etik jurnalistik.