Kamis, 07 April 2016

China dan Antisipasinya

China dan Antisipasinya

Dinna Wisnu ;   Co-founder & Director Paramadina Graduate School of Diplomacy
                                                  KORAN SINDO, 30 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Berita tentang pertumbuhan ekonomi China selalu menarik perhatian kita. Wajar karena hampir tidak ada negara yang tidak menggantungkan dirinya terhadap pertumbuhan ekonomi China. Media-media Barat terutama selalu memberikan catatan pinggir apabila pertumbuhan ekonomi China meningkat dan catatannya akan lebih panjang bila pertumbuhannya melambat.

Chen Fei and Yuan Yuan (Global Times, 25/4/2016) mengatakan bahwa banyak pengamat Barat yang sulit untuk melihat prospek ekonomi China yang positif. Saat ekonomi China ”booming” tumbuh lebih dari 10%, mereka mengatakan situasi tersebut ”both perplexing and worrying” (mengherankan sekaligus mengkhawatirkan) sehingga disimpulkan sebagai ”Ancaman Perekonomian China.”

Namun, menyatakan status pertumbuhan ekonomi China aman pun dapat dianggap terlalu optimistis. China yang pada 2014 pertumbuhan ekonominya berhasil melampaui raksasa ekonomi Amerika Serikat (AS), sekarang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi yang diprediksi relatif permanen. Justru perekonomian AS yang kini relatif membaik. Hal ini diikuti dengan upaya AS untuk menarik dana-dana investasi mereka di luar negeri untuk kegiatan perekonomian di dalam negeri.

Pemerintah China pun mengalihkan mesin ekonomi mereka dari yang dulunya mendorong pabrik-pabrik manufaktur untuk bekerja tanpa henti menjadi produk-produk yang berbasis pelayanan dan jasa. Buat Indonesia, strategi itu adalah peringatan bagi para eksportir komoditas seperti mineral dan minyak untuk segera mengerem produksi karena daya serapnya akan berkurang.

Adapun Pemerintah China mengatakan bahwa kekhawatiran dunia itu terlalu berlebihan. Pendapatan nasional (PDB) China saat ini sudah meningkat 6,9% dan terus naik dan memimpin di depan pertumbuhan ekonomi negaranegara di dunia. China yakin pertumbuhannya akan terus positif karena tiga hal mendasar yang selalu disampaikan ke banyak pihak.

Pertama, China adalah pasar yang sangat solid dan terbesar di dunia. Jumlah penduduknya saat ini sebanyak 1,3miliar. Penduduk yang besar tersebut juga menghasilkan tabungan masyarakat yang saat ini mencapai di atas 38%. Faktor kedua, cadangan devisa China melebihi USD3,3 triliun akhir tahun lalu.

Cadangan tersebut bisa dikatakan sebagai cadangan devisa tertinggi di dunia. Arus investasi yang masuk ke China tahun lalu mencapai USD126,27 miliar. Angka ini tertinggi di antara negara-negara berkembang. Ketiga, China juga yakin dengan strategi yang mereka lakukan sekarang.

Mereka yakin inovasi dan perkembangan teknologi informasinya. Tahun lalu nilai tambah industri padat teknologi dan modal meningkat 10,2%. Gambaran-gambaran tersebut menimbulkan persepsi arah perkembangan ekonomi yang tampaknya sudah di jalan yang benar. Meski demikian, krisis sosial yang terjadi di tengah masyarakat China juga tidak dapat dianggap tidak ada.

Lembaga swadaya masyarakat yang berdomisili di Hong Kong, China Labour Bulletin, melaporkan bahwa selama 2011-2013 telah terjadi 1.200 pemogokan dan unjuk rasa di China. Pada 2014 terdapat 1.300 kejadian aksi hubungan industrial. Sedangkan pada 2015 angka itu semakin tinggi menjadi 2.726 atau 75 aksi pemogokan setiap hari dan total pada tahun tersebut 1,6 juta pekerjaan hilang di provinsi industrial.

Aksi protes pekerja mungkin juga tidak akan berhenti di sana karena rencana Pemerintah China untuk melakukan privatisasi BUMN dan pemutusan hubungan kerja di badan usaha milik negara tersebut. Dalam Kongres Nasional Rakyat China, Menteri Keuangan Lou Jiwei mengkritik Undang- Undang Perburuhan yang tidak berimbang dan terlalu melindungi kepentingan pekerja.

Hal ini menyebabkan para majikan enggan menciptakan lapangan pekerjaan dan melakukan investasi di peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Para pekerja China yang dipuji-puji sebagai angkatan kerja yang paling rajin di Asia pun masih dianggap malas oleh Pemerintah China.

Gambaran perekonomian dan politik di China perlu menjadi rambu-rambu bagi strategi kebijakan ekonomi kita yang saat ini condong bergantung pada investasi dari China. Dulu kita berpikir bahwa membuka pasar yang luas bagi imbal balik kerja sama dengan China adalah masa depan yang cerah.

Dengan perkembangan ini kita diingatkan bahwa ada baiknya ”tidak menaruh seluruh telur emas kita di dalam satu wadah”. Dengan peningkatan ekspor Indonesia ke China yang mencapai 15%, perlambatan ekonomi China ini, sebagaimana diperkirakan oleh sejumlah ekonom, akan mengurangi tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,3%-0,45%.

Efek yang dapat dirasakan oleh masyarakat adalah penurunan permintaan produk Indonesia sehingga potensi pengurangan pegawai meningkat dan anggaran pemerintah pun makin perlu ditinjau ulang. Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro tampaknya juga telah melihat sinyalsinyal tersebut dan telah memberikan arahan bahwa Indonesia harus mengurangi ekspor komoditas dan beralih ke ekspor produk konsumsi dan produk-produk akhir.

Fakta tersebut menunjukkan ada perubahan orientasi dan menguatnya kelas menengah yang menyukai produk-produk yang lebih berkualitas. Hal ini dapat dikonfirmasi dari data perdagangan ekonomi China-Australia. Ekspor produk obat-obatan seperti vitamin telah meningkat pada kuartal pertama 2015.

Kelas menengah China juga semakin menyukai rumah makan ”kebarat-baratan” yang banyak menggunakan produk olahan dari daging sapi sehingga ekspor sapi ke China dari Australia juga meningkat pesat dalam tiga tahun terakhir. Total nilai ekspor sapi ke China mencapai 917 dolar Australia pada 2015.

Demikian pula sektor turisme dan pendidikan di Australia lebih banyak dikunjungi dan diminati. Gambaran itu tantangan bagi kita yang berada di kawasan regional Asia-Pasifik. Dari tahun ke tahun, Indonesia masih relatif tergantung pada suntikan modal. Pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih banyak digerakkan oleh uang (dan keringat) dan belum oleh otak.

Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia mencatat bahwa sejak 2010 sumbangan kompetensi sumber daya manusia pada pertumbuhan ekonomi terbilang stagnan. Jadi, jika belum ada terobosan di bidang kompetensi sumber daya manusia, kapital yang masuk ke Tanah Air (entah itu lewat investasi ataupun pinjaman) belum mendatangkan hasil yang optimal.