Selasa, 05 April 2016

Bima

Bima

Sarlito Wirawan Sarwono ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
                                                   KORAN SINDO, 03 April 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dalam pewayangan, Bima adalah nomor dua dari lima bersaudara Pandawa. Seperti tokoh-tokoh wayang lainnya, Bima juga punya banyak nama alias, di antaranya yang terkenal adalah Bratasena, Werkudara, dan Kusumayuda atau Kusumadilaga.

Dua yang terakhir berarti bunga peperangan atau pahlawan perang (”kusuma” artinya bunga, ”yuda” atau ”laga” artinya perang) dan yang diperangi oleh para Pandawa adalah kemungkaran, kebatilan, dan kejahatan. Werkudara, nama lain Bima, berarti perut serigala, yaitu perut yang dalam istilah anak muda sekarang dinamakan six pack, kencang, berotot, dan tampak seperti enam kotak, tiga di kiri dan tiga di kanan, jauh dari gendut.

Adapun tubuh Bima paling tinggi besar di antara saudara-saudaranya. Bahkan di antara semua sosok wayang kulit yang dijejer di layar (pekayon), sosok Bima paling menonjol. Di antara senjatanya yang sakti adalah Gada Rujakpala yang bisa menghancurkan kepala raksasa sebesar gunung dan Kuku Pancanaka yang melekat di kedua ibu jari tangannya yang mampu memburaikan usus dari perut penjahat yang paling sakti sekalipun.

Yang juga menjadi ciri khas Bima adalah bahwa dia tidak bisa berbahasa Jawa kromo (halus, tingkat tinggi), apalagi kromo inggil (tingkat bahasa Jawa tertinggi yang biasanya diucapkan hanya kepada raja atau orang yang sangat dihormati). Bima hanya bisa berbahasa Jawa ngoko, yaitu bahasa Jawa kasar, tingkat rendah yang biasa digunakan oleh sesama pemulung di Solo atau oleh bangsawan terhadap hamba sahayanya.

Bahkan kepada Dewa yang turun dari kayangan Bima berbicara ngoko, sementara semua tokoh wayang yang lain, termasuk kakaknya, Yudhistira (sulung dari Pandawa) dan Batara Kresna (manusia setengah dewa, penasihat Pandawa) berbahasa kromo inggil kepada sang Dewa. Tapi tidak ada yang marah kepada Bima, apalagi membully dia melalui Twitter karena semua orang tahu bahwa Bima berhati lembut, baik hati, welas asih kepada yang lemah, membela orang kecil, dan yang terpenting Bima selalu berbicara apa adanya, selalu jujur, tidak pernah berbohong, tidak pernah ”menusuk dari belakang”.

Bahkan dalam lakon Bale sigala-gala Bima menangis sampai mencucurkan air mata ketika menunggui ibu dan saudara-saudaranya yang ketiduran berbantalkan batu karena kelelahan ketika keluarga Pandawa diusir ke hutan selama 12 tahun oleh saudara- saudara sepupu mereka para Kurawa.

Dalang kondang Ki Narto Sabdo (almarhum) yang dianggap empu dari semua dalang menggambarkan Bima dalam pocapan -nya (kalimat indah untuk memperkenalkan sosok atau menggambarkan situasi tertentu) dengan kata-kata, ”Yen atos kaya waja, yen lemes kaya kinarya tali” (kalau keras bagaikan baja, tetapi kalau lemah lembut bagaikan tali). Jadi Bima ini memang salah satu tokoh yang luar biasa dalam dunia pewayangan, khususnya dalam kisah Mahabarata. Walau demikian, itu belum segalanya.

Yang paling inti dari kepribadian Bima adalah pencarian Bima untuk menemukan, bertemu dan berdialog dengan Yang Maha Tahu. Ia ingin mencari tahu siapa dirinya dan ingin mencari kebenaran yang paling sejati. Maka Bima pun berangkat melanglang buana untuk memenuhi rasa penasarannya. Waktu itu belum ada Transjakarta, apalagi pesawat Garuda, jadi dia cuma mengandalkan langkahnya yang secepat angin karena Bima adalah titisan Betara Bayu (Dewa Angin).

Singkat cerita, setelah kelelahan dan hampir putus asa, akhirnya Bima menemukan apa yang dicarinya di dasar samudra yang terdalam, yaitu suatu sosok bernama Dewa Ruci, yang ternyata sangat mirip dengan dirinya, tetapi dalam versi mini. Ternyata Bima sebenarnya tidak perlu jauh-jauh mencari karena Dewa Ruci itu adalah hati nurani sendiri.

Sebagai penggemar wayang, dalam konstelasi politik menjelang Pilgub DKI saat ini, saya jadi teringat kepada sosok Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama atau BTP (seperti wayang, namanya pun pakai banyak alias). Kebetulan BTP ini bertubuh tinggi besar. Di antara kerumunan, BTP paling mudah dikenali karena kepalanya paling mencuat di antara yang lainnya. Badannya pun atletis.

Ngomongnya juga kasar dan keras. Kadang-kadang bahkan katakata jorok keluar dari mulutnya, yang ditujukan kepada orangorang atau anak buahnya yang curang, tidak jujur, menipu, pokoknya jahatlah, tetapi membuat orang lain yang mendengar (yang bukan sasaran kemarahan BTP) ikut merahpadam mukanya dan degdegan jantungnya. Berkalikali kawan-kawannya menasihati BTP untuk mengendalikan mulutnya, tetapi tidak mempan, bahkan di suatu acara live show di TV, saking marahnya kepada orang-orang tertentu, BTP mengucapkan kata-kata paling kotor sedunia yang membuat saya pun terkaget-kaget menontonnya dari rumah.

Tapi itulah BTP alias Ahok. Tidak banyak yang bisa kita perbuat untuk mengubahnya. Walau demikian, BTP punya ciri ke-Bima-an seperti yang diucapkan empu dalang Ki Narto Sabdo, ”Yen atos kaya waja, yen lemes kaya kinarya tali.” Betapa tidak. Untuk warga DKI yang terpaksa kena gusur karena program bebas dari banjir seperti di Kampung Pulo dan Kalijodo, BTP selaku gubernur Pemprov DKI menyiapkan unit-unit di rumah susun untuk menampung mereka.

Menampung bukan sekadar menampung, tetapi menyiapkan hunian yang layak, lengkap dengan perizinan sampai perabotan rumah. Bukan itu saja, ia mengumrahkan para takmir (pengurus) masjid se-DKI, padahal BTP sendiri bukan muslim. Bahkan terhadap agama sendiri dia tidak hanya membeo. Dia kritik ajaran atau kebiasaan agamanya yang menurut dia salah. Karena ukuran moral, ukuran baik-buruk untuk BTP adalah hati nurani sendiri.

Persis seperti Bima dengan sang Dewa Rucinya. Mungkin hanya istrinya yang tahu apakah BTP juga menangis pada malam hari ketika melihat masih banyak warga Jakarta yang masih menderita.